Kirab 1 Sura, Keraton Surakarta Dijejali Ribuan Warga

oleh
oleh
Kirab 1 Sura, Keraton Surakarta, Kerbau Kiai Slamet
Kawanan kerbau pusaka keturunan Kiai Slamet, bersiap menjadi cucuk lampah dalam Kirab 1 Sura di Keraton Surakarta, Rabu (19/7/2023) | MettaNews/Ari Kristyono

SOLO, MettaNEWS – Ribuan warga masyarakat dari berbagai daerah, hadir dan mengikuti ritual kirab 1 Sura di Keraton Surakarta, Rabu (19/7/2023) malam. Kirab ini memboyong sejumlah pusaka, dan seperti biasa, dipimpin sekawanan kerbau bule pusaka keturunan Kiai Slamet.

Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, Kanjeng Pangeran Dani Nur Adiningrat menyebut ada sejumlah prosesi dalam menyambut 1 Sura. Di antaranya, peringatan haul Sinuhun Paku Buwono X (1866-1939) yang mangkat pada malam 1 Sura.

“Tadi ada doa bersama, wilujengan. Kemudian ada haul dalem PB X. Nantinya akan ada prosesi-prosesi lain selama bulan Sura. Seperti tanggal 17 Sura kita memperingati adeging, hari berdirinya Keraton Surakarta. Lalu di akhir bulan tutup Sura biasanya ada pentas wayang kulit,” paparnya.

Mengenai peringatan 1 Sura yang berbeda dengan Pura Mangkunegaran, Dani menyebut Keraton punya perhitungan tersendiri. Demikian juga, menurutnya Mangkunegaran pasti memiliki alasan.

“Kalau kami menganut, penanggalan per 120 tahun berganti. Mengacu pada perhitungan asopon, Tahun Alip, 1 Sura jatuh pada Selasa Pon. Jadi menurut perhitungan ini tahun Jimawal, jatuhnya hari Kamis,” tutur Dani.

Busana Serba Hitam

Dari pengamatan MettaNews, Keraton Surakarta dan kawasan Baluwarti sudah dipadati warga sejak sore. Bahkan kerumunan massa juga terlihat di ruas-ruasa jalan yang menjadi rute kirab.

Di dalam Keraton, ribuan abdi dalem dan sentana berbusana adat serba hitam telah berkumpul di dalam Keraton. Meski penuh sesak, suasana hening terasa. Suara yang terdengar melalui pengeras suara, hanya perintah-perintah kepada abdi dalem yang bertugas dalam kirab.

Menurut Dani Nur Adiningrat, jumlah pusaka yang keluar dalam kirab memang serba tidak pasti. Ini karena hak menunjuk pusaka untuk kirab hanya ada pada Sinuhun Paku Buwana XIII. Karena itu, meski waktu kirab tinggal hitungan satu atau dua jam, pihaknya harus menyiapkan sejumlah pengawal pusaka.

Satu persatu abdi dalem disebut untuk maju ke depan Bangsal Maligi. Di sana mereka menerima sangsang, kalung untaian bunga. Juga untaian melati pendek, gajah ngoling, terpasang di telinga sebagai tanda bahwa mereka adalah utusan Raja.

Menjelang tengah malam, lima ekor kerbau pusaka keturunan Kiai Slamet hadir di Kori Kamandhungan di depan Keraton. Seperti sangat paham akan tugasnya, hewan-hewan albino itu menempatkan diri. Menunggu waktu kirab yang berlangsung sekitar tengah malam.

Hingga kemudian, lonceng besar di atas gerbang Lawang Gapit Lor atau Kori Brajanala berdentang lantang. Saat itulah, kawanan kerbau bergerak menembus lautan massa penonton kirab.

Tapa Bisu di Kirab 1 Sura

Di belakangnya, mengekor sejumlah abdi dalem membawa obor, songsong (payung) dan pusaka-pusaka yang terbagi dalam kelompok-kelompok panjang. Butuh waktu hampir satu jam hingga barisan kirab terakhir keluar Keraton.

Sama seperti di dalam Keraton, sepanjang melakukan kirab para peserta tetap menjaga diri untuk tidak bicara yang tidak perlu. Tapa bisu, sepertinya memang menjadi bagian wajib dalam ritual 1 Sura.

Rute kirab menempuh rute dari Keraton keluar melalui Kori Sapit Urang, Gladag, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Slamet Riyadi dan kembali masuk Keraton.

Sementara kirab berlangsung, di dalam Keraton berlangsung prosesi lain. Ada yang melakan meditasi di Bandengan, ada yang salat tahajud di Masjid Pujasana di dalam Keraton.