Makna Kebo Bule Dalam Kirab 1 Sura Keraton Surakarta

oleh

SOLO, MettaNEWS – Kebo bule lekat dengan pelaksanaan Kirab Pusaka malam 1 Sura Keraton Surakarta. Pun dalam tugasnya, kebo ini menjadi cucuk lampah mengawal pusaka yang dikirab. Dalam Kalender Jawa malam 1 Sura bertepatan dengan 1 Muharam yang memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Jawa, khususnya umat Islam sebagai tanda awal tahun baru penanggalan.

Sejarawan UNS Rendra Agusta mengungkapkan kebo menjadi ikonik dan legistimasi Keraton Surakarta. Pun demikian kebo ini menjadi hewan klangenan atau kesayangan Sri Susuhunan Pakubuwana II. Raja pertama Surakarta yang memerintah tahun 1745–1749.

“Kalau ikonik kebo bule itu sebenarya sudah biasa ya jadi itu memang lambang binatang yang selalu dikaitkan dengan peringatan dan sesaji. Tetapi untuk 1 Sura ini kerbau berkaitan dengan esuatu yang dianggap unik dan biasanya menjadi klangenan,” kata Rendra kepada MettaNEWS saat ditemui di ruangan FIB, UNS, Rabu (26/7/2022).

Bahkan sewaktu Pakubuwana menjabat sebagai Raja Mataram di Kartasura, kebo bule ini memiliki kekuatan magis dan membawa kewibawaan.

“Jadi zaman PB II waktu masih ada di  Kartasura kebo ini menjadi kesenangan. Biasanya nama bule itu identik dengan mempunyai fortasi kekuatan gaib,” tambahnya.

Tak hanya kebo, orang yang memiliki kondisi tubuh yang tak sempurna juga dipercayai memiliki kekuatan supranatural yang disebut abdi dalem palawija.

“Raja itu juga mempunyai orang-orang yang cacat nah orang-orang cacat itu dianggap mempunyai kekuatan misalnya pendek lalu orang bule itu juga identik. Nah itu ada di dalam abdi dalem khusus yang namanya abdi dalem palawija,” terangnya.

Dalam kepercayaan Jawa, nama Kiai Slamet digunakan sebagai pemaknaan keselamatan tradisi yang baik.

“Wong sukerto itu macam-macam ada anak satu perempuan, anak laki-laku sukerto  ada dua perempuan laki-laki wongsukerto.

Dan ada duduk di depan pintu itu wong sukerto itu membawa sial, oleh itu harus di ruwat atau syukuran,” ucap Rendra.

Peringatan 1 Sura menjadi penting bagi wilayah Kerajaan Mataram Jawa seperti Yogyakarta dan Solo.

“Penting karena itu untuk menghindari malapetaka dan juga untuk menghormati Dewi Kali Wedaro Durga yang dianggap mampu menghindarkan dari kondisi-kondisi yang gawat,” terangnya.

Penggunaan kebo dalam budaya Jawa Hindu juga identik dengan tradisi Mehesa Lawung.

“Termasuk Mahesa Lawung itu penting sekali samapi sekarang tetap dilakukan karena  tradisi Hindu yang sudah berlaku sejak majapahit. Bahkan Demak yang islam pun menjalankan itu termasuk mataram termasuk Yogyakarta dan Solo,” jelasnya.

Kemunculan Satu Sura ada sejak zaman Mataram Islam yakni pada periode Sulyan Agung.

“Tujuan dari itu supaya disampaikan oleh raja didukung oleh rakyat jadi itu tidak lain adalah menegakkan legitimasi kekuasaan raja. Jadi kerbau memang menjadi simbol yang sudah sejak lama misalkan lembu sama lembu itu jaman maja pahit banyak sekali,” tutupnya.