SOLO, MettaNEWS – Adanya relokasi pedagang kaki lima (PKL) di selter Manahan membuat sejumlah PKL gerobak di Jalan Menteri Supeno sisi utara pintu belakang Stadion Manahan khawatir. Hal ini lantaran adanya perencanaan pembangunan persiapan venue Piala Dunia U-20 pada 2023 mendatang yang akan memafaatkan area PKL Stadion Manahan.
Salah satu pedagang wedangan di pintu utara Manahan ini Eri mengaku khawatir dan bingung jika harus pindah lokasi berjualan lantaran adanya perencanaan pembangunan tersebut. Eri menyebut dirinya belum mengetahui ada atau tidaknya pemindahan PKL di sisi utara.
“Kita kan sementara ini belum tahu. Kalau yang sana (selter) kan sudah pasti dibongkar. Kalau sini belum tahu gimana kelanjutannya, apa dikasih apa dipindahkan,” ucap Eri saat ditemui MettaNEWS di pintu utara Manahan, Selasa (17/5/2022)
Merasa sedih, pihaknya yang sudah berjualan di area Stadion Manahan sejak 2015 ini menyayangkan jika harus pindah lokasi berjualan.
“Ini yang bikin sedih, padahal sini ramai.
Kalau ramai biasanya pagi, ini orang-orang yang jualan jajanan pagi. Kalau situ dibongkar setahun lagi dapat (tempat jualan) kalau nasib kita belum tahu. Penginnya kita maju ke dinas gimana sini mau dikasih mana, masalahnya sini bayar karcis, terus bayar sampah Rp 7.500/bulan,” terang Eri.
Akan tetap berjualan pada saat pengosongan selter PKL Manahan, pihaknya akan menunggu informasi dari Dinas Perdagangan (Disdag) Solo.
“Sini juga mikir orang-orang sini gimana.
Kalau besok tetap jualan aja, pokoknya nunggu informasi dari Disdag. Kalau sini dikasih pemerintah selter ini, karcis-nya sama, tapi kan sini belum dapat tempat, itu yang bikin kita sedih. Kita kan harus menghidupi makan, anak,” tambahnya.
Eni yang tergabung dalam Paguyuban Ngudi Rejeki PKL Manahan ini sudah berpindah tempat satu kali.
“Ini kan pindahan dari depan dipindah ke sini, tapi besok nggak tahu ke mana.
Kalau penginnya kita perwakilan orang berapa ke Disdag, minta kejelasan, mau dikasih tempat atau gimana, tapi belum ada yang mau. Semoga pindahnya masih lama,” tutup Eri.
Sementara itu, Haryani pedagang tahu bulat di sisi utara Jalan Menteri Supeno, Manahan juga mengatakan hal yang sama.
“Belum tahu (wacana pemindahan) dari paguyuban belum ada pemberitahuan. Dari Disdag juga belum ada,” ucap Haryani.
Memiliki kekhawatiran yang sama. Haryani menyebut akan sulit mencari lokasi yang lain selain Manahan.
“Saya belum ada pandangan pindah ke mana. Kalau nggak dialokasikan kan susah juga nyari tempatnya, kalau ini dialokasikan ke mana nggak masalah,” terangnya.
Haryani yang sudah berjualan selama 6 tahun di area Manahan ini mulai melakukan aktivitas menjajakan makanan dari pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB.
“Saya nggak jualan di selter karena nggak dapat tempat di sana. Saya jualan dari 7 sampai jam 5. Kalau ramai nggak mesti, kadang pagi, kadang sore. Kalau belum ada pemberitahuan masih tetap jualan,” tutupnya.
Ketua Paguban Ngudi Rejeki PKL sisi utara Stadion Manahan, Purwadi menyebut belum ada audiensi dengan Disdag dan Pemkot Solo.
“Kalau yang paguyuban sini nunggu keputusan dari sana, belum ada pemberitahuan. Manut sana dari Disdag,
Itu kan sudah rapat sana, tapi sini belum dikasih tahu,” ucap Purwadi.
Pihaknya menyebut akan terus melakukan aktivitas berjualan seperti biasanya selama belum adanya pemberitahuan resmi untuk pindah lokasi.
“Selama belum ada pemberitahuan resmi kita tetap jualan, nunggu pemberitahuan resmi,” imbuhnya.
Purwadi mengatakan para PKL sis utara sudah lama pinsah dari area depan Stadion Manahan sekitar 15 tahun lalu.
“Saya kurang tahu pindah ke mana juga, dikasih tahu soal audiensi. Nggak ada rencana, kita nunggu pemberitahuan resmi aja,” tutur Purwadi.
Ia yang juga berjualan di sisi utara Manahan ini sejak 2010 lalu menyebut terdapat sekitar 60 PKL. Untuk menempati sisi utara ini, pihaknya menyebut terdapat retribusi Rp 1.000/hari dan uang sampah Rp 7.500/bulan.







