SOLO, MettaNEWS – Delapan hari sebelum direlokasi ke pasar darurat DI Panjaitan, Stabelan, Pasar Mebel yang terletak di Ngemplak, Gilingan, Banjarsari, Solo kebakaran pada Selasa (3/5) lalu. Api yang berkobar setidaknya telah menghabiskan 25 kios yang berisi barang-barang mebel. Lantaran hal ini, relokasi ke pasar darurat pun ditunda selama 10 hari terhitung sejak kebakaran.
Awalnya relokasi ini bertujuan untuk menunggu proses pembangunan pasar mebel di eks Bong Mojo. Para pedagang yang kiosnya terbakar pun mengaku pasrah dengan hal ini.
Salah satunya, Suamah, mengeluhkan ukuran kios di pasar darurat yang kecil. Kios di pasar darurat yang berukuran 3×4 meter ini dirasa tidak sesuai dengan barang-barang mebel yang akan dijajakan.
“Tempatnya nggak cocok. Kalau buat jualan es teh ya bisa. Kalau buat jualan mebel, baru dua setel saja sudah penuh. Terus yang mau beli siapa. Kalau jual pakaian bisa dilipat, kalau kaya gini gimana. Banyak yang nggak mau pakai, banyak yang ngontrak di luar. Terang Suamah saat ditemui MettaNEWS di Pasar Mebel, Senin (9/5).

Dengan ukuran kios yang tidak sesuai, Suamah menyebut para pedagang lain pun enggan untuk segera pindah dan memilih mencari tempat lain untuk mengontrak.
“Satu kios dapetnya satu, dua kios dapetnya tetep satu. Kalau empat kios dapetnya dua kios. Nggak ada yang makai, nggak mikir sejauh itu. Mikir yang deket aja. Milih ngontrak aja,” jelasnya.
Belum melakukan pindah meskipun batas waktu pindahan hanya sampai 20 Mei mendatang, Suamah berencana akan mengontrak salah satu bangunan yang tak jauh dari Pasar Mebel.
“Mau ngontrak disitu, sampingnya rumah tingkat,” tunjuk Suamah pada bangunan berlantai 2 di seberang Pasar Mebel.
Tidak ada yang menempati pasar darurat yang merupakan bekas pasar darurat Pasar Legi, Suamah menyebut para pedagang yang terpaksa menempati pasar tersebut tidak sampai dua orang.
“Mudah-mudahan ada dana dari pengajuan, misalnya dibantu. Bisa bayar itu. Mengajukan proposal itu,” ungkap Suamah.
Sementara itu, Sumarji, pedagang mebel yang memiliki 7 kios mengaku belum mendapatkan aturan tata tertib pembagian dan juga penempatan pedagang di pasar darurat oleh Dinas Perdagangan (Disperindag) Solo, Sumarji mengaku dua tempat pasar darurat memiliki model yang sama.
“Nanti dari pemerintah menurut nomer atau gimana belum tahu. Semua untuk jualan disana, nanti ada aturan, harus untuk jualan nggak boleh finishing. Harus barang yang sudah jadi. Kalau dikerjakan disana pakai mesin kan kasihan tetangga (kios),” jelas Sumarji.
Terlalu sempit, pasar darurat di dua lokasi yakni DI Panjaiatan No 6 dan No 14 Stabelan menurut Sumarji tidaklah cukup untuk menampung barang dagangannya.

“Dagangannya harus masuk semua jangan sampai jualan di jalan-jalan. Nanti kalau produksi malah ganggu pedagang lain, juga proses jual belinya. Beda kalau tempatnya lebar. Seperti ini kan ukurannya 4×8 meter, 32 meter. Kalau sekarang ini terlalu sempit. Repot,” tambahnya.
Jarak yang terlalu dekat antar satu kios dengan kios lain membuat para pedagang hanya bisa melakukan penjualan tanpa produksi. Ukuran satu kios 3×4 meter pun dirasa tidak cukup untuk menampung barang-barang mebel. Sumarji yang masih bingung untuk pembagian kios. Pasalnya satu pedagang hanya mendapatkan satu kios saja. Namun dirinya berharap bisa mendapat kios yang sesuai dengan kebutuhan.
“Yang jelas kalau dikasih mintanya nggak cuma satu (kios), kalau bisa dua atau tiga.tapi nanti ya terserah manut (ikut) saja,” ucap Sumarji pasrah.
Masih menyusun proposal yang berisi kerugian materiil saat kebakaran, Sumarji menyebut kerugiannya dtafsirkan sebanyak 55 juta hingga 60 juta.
“Kerugian materiil berupa barangnya yang kebakar tiap kios beda-beda, nggak sama. Ada yang banyak ada yang sedikit, ada yang nggak kena, ada yang kiosnya aja. Nanti baru mau dikumpulkan. Jadi dengan pemerintah belum deal. Knanti dikoordinasikan sama pak lurah,” ucapnya.
Sumarji yang sudah berjualan selama 35 tahun, menyebut pasar ini sudah terbakar sebanyak 4 kali. Namun setiap kebakaran pihaknya melakukan pemulihan pasar secara swadaya dengan pedagang lain.
“Sejak kebakaran dari 1994 sampai sekarang kan sudah empat kali kebakaran. Tapi kan hanya wacana untuk dibangun saja. Tidak seperti sekarang ini. Belum pernah menempati pasar darurat. Dibangun sendiri setelah kebakaran, swadaya pedagang. Begitu terus kalau kebakaran,” tutupnya.









