Kamus Cambridge Dibanjiri Bahasa Gaul: Skibidi dan Delulu Menjadi Entry Lema Terbaru

oleh
Kampus Cambridge
Ilustrasi Kampus Cambridge | Dok. iStock

SOLO, MettaNEWS – Bahasa gaul yang lahir dari ruang digital kini resmi mendapat pengakuan akademis. Kamus Cambridge menambahkan lebih dari 6.000 kata baru, di antaranya sejumlah istilah populer di media sosial seperti skibidi, delulu, hingga mouse jiggler. Fenomena ini mencerminkan bagaimana budaya internet mengubah lanskap bahasa dan komunikasi global, terutama di kalangan generasi alpha.

Dari Meme Menjadi Lema

Istilah skibidi awalnya muncul tanpa makna jelas dari lagu “Skibidi” milik grup musik Rusia Little Big pada 2018, yang video musiknya ditonton lebih dari 700 juta kali. Popularitas kata ini meroket setelah kemunculannya dalam animasi absurd Skibidi Toilet di YouTube, lalu semakin mendunia ketika Kim Kardashian memamerkan kalung bertuliskan “skibidi toilet” di Instagram.

Dalam Kamus Cambridge, skibidi didefinisikan sebagai kata serbaguna yang bisa berarti “keren”, “buruk”, atau bahkan tanpa arti sama sekali yang digunakan sekadar untuk bercanda. Contoh kalimat: “What the skibidi are you doing?”. Keberadaannya menegaskan kekuatan budaya meme dalam membentuk kosakata lintas generasi.

Dari Fan K-Pop ke Wacana Politik

Sementara itu, delulu berasal dari plesetan dari kata delusional yang memiliki sejarah panjang di ranah fandom K-Pop. Awalnya digunakan sebagai sindiran untuk penggemar yang terlalu percaya diri bisa menjalin hubungan dengan idolanya, kini istilah ini memiliki makna lebih luas: “percaya pada sesuatu yang tidak nyata atau tidak benar, biasanya karena keinginan pribadi”.

Ungkapan viral seperti “delulu is the solulu” telah ditonton miliaran kali di TikTok. Bahkan, istilah ini pernah dipakai Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, di parlemen untuk menyindir lawan politiknya: “delulu with no solulu”. Perjalanan delulu dari fandom ke politik memperlihatkan fluiditas bahasa digital dalam konteks sosial yang berbeda.

Dari Pola Kerja Digital

Selain gaul Gen Z dan Alpha, Cambridge juga menambahkan istilah yang lahir dari pola kerja digital, misalnya mouse jiggler, yaitu perangkat atau aplikasi yang menjaga komputer tetap terlihat aktif. Ada pula istilah work spouse/work wife, yang menggambarkan rekan kerja dengan hubungan kerja sama erat.

Menariknya, kata baru juga hadir dari gabungan kreatif, seperti broligarchy (gabungan bro dan oligarchy), yang menggambarkan kelompok kecil pria kaya dan berpengaruh, terutama di sektor teknologi. Istilah ini pernah digunakan untuk menyebut Jeff Bezos, Elon Musk, dan Mark Zuckerberg saat menghadiri pelantikan Donald Trump pada 2017.

Peran Kamus sebagai Arsip Budaya Digital

Colin McIntosh, manajer program leksikal Cambridge Dictionary, menegaskan bahwa proses seleksi kata baru dilakukan dengan hati-hati:

“Tidak setiap hari kita melihat kata seperti skibidi dan delulu masuk ke Kamus Cambridge. Kami hanya menambahkan istilah yang diyakini punya daya tahan dalam penggunaan bahasa.”

Hal ini menegaskan bahwa kamus bukan hanya gudang kata, melainkan juga arsip budaya. Bahasa gaul yang tadinya hanya bercokol di TikTok, YouTube, atau Instagram kini tercatat sebagai bagian dari sejarah linguistik.

Cermin Identitas Generasi Muda

Bahasa gaul yang masuk ke kamus resmi memperlihatkan bahwa Gen Z dan Gen Alpha aktif berkontribusi pada evolusi bahasa. Dari rizz (singkatan charisma) hingga gyatt, kosakata baru merefleksikan dinamika gaya hidup digital mereka. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga identitas sosial dan budaya.

Dengan masuknya istilah skibidi, delulu, dan lainnya ke Kamus Cambridge, jelas bahwa dunia maya bukan lagi sekadar ruang hiburan, tetapi arena nyata yang membentuk, mengubah, bahkan mengabadikan bahasa global. (Mohamad Adib Rifai/ KMM Sastra Indonesia FIB UNS)