Kali Pertama Digelar, Kirab Budaya dan Sadranan Kampung Kauman Kenalkan Sejarah Panjang

oleh
Kirab Budaya dan Sadranan
Kirab Budaya dan Sadranan Kampung Kauman, Minggu (27/3/2022) | Humas Pelaksana

SOLO, MettaNEWS – Untuk pertama kalinya Kirab Budaya dan Sadranan digelar di Kelurahan Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Minggu (27/3). Memiliki keunikan disetiap wilayahnya, masyarakat berinisiatif mengangkat seluruh cerita tentang kampung Kauman menjadi sebuah kirab budaya agar dapat diwariskan kepada anak cucu.

Humas Pelaksana Kirab Budaya, Mufid Aryono menyampaikan pada kirab ini menonjolkan gelaran sadranan atau doa ziarah makam kepada para leluhur yakni pendiori Kampung Pengulon , Berasan dan Gedang Slirang yang merupakan satu kesatuan eksistensi Keraton Surakarta dan Masjid Agung Kampung Pengulon. Dahulunya wilayah RT 01 dihuni penghulu keraton yang bertugas memimpin ritual keagamaan di Masjid Agung.

Keberadaan penghulu di utara masjid Agung ini awalnya sebaagi pemecah permasalahan dalam agama. Sehingga kampung tersebut dinamakan Pengulon. Beradaan kampung ini adalah sebuah eksistensi yang menggunakan nama abdi dalem di bawah pimpinan Raden Tumenggung V.

“Kampung Pengulon ini tidak lepas dari nama Pengulon atau dari kata Penghulu. Di kampung ini diisi oleh tokoh pemuka agama yang memiliki daerah otonom yang tidak lepas dari keberadaan keraton. Sehingga waktu Keraton pindah ke Pajang, para penghulu juga diikut sertakan,” ungkap Mufid usai acara Kirab Budaya, Minggu (27/3/2022).

Kauman memiliki nama khusus sesuai ciri kampung, hal ini tidak lepas dari keberadaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Masjid Agung Surakarta sebagai pusat syiar Islam di Kota Solo.Menjadi lokasi tempat menyimpan logistik (beras) penghulu, wilayah RT 02 akhirnya disebut Kampung Berasan (Mberasan). Saat ini lokasinya berada di utara tembok masjid dan di sebelah selatan wilayah Pengulon.

Sementara RT 03 dinamakan Kampung Gedang Selirang karena memiliki bangunan atap rumah yang kesemuanya sama miring dan membentuk seperti pisang satu lirang. Saat ini lokasinya berada di Kompleks Masjid Agung Surakarta. Hal inilah yang menjadi keunikan Kampung Kauman.

Kirab budaya warga RW 02 Kampung Kauman, Solo

Tidak hanya itu,Mufid menuturkan Kirab Budaya ini digelar untuk membuka sejarah dengan membawa replika atau foto-foto para alim ulama yang berada di wilayah Kauman, khususnya di Pengulon. Kirab dimulai dari halaman masjid Agung menuju Musala Putri Yasinan Surakarta. Di Kampung Kauman, terdapat Musala yang dikhususkan untuk kaum perempuan yang memiliki sejarah unik. Keberadaan musala ini juga tidak lepas dari para penghulu keraton dulu.

Dalam acara tersebut terdapat serangkaian acara sadranan yang diikuti ratusan warga dari RW 2 Kampung Kauman.

“Selain menggelar kirab budaya, kami juga menggelar budaya sadranan. Kebetulan saat ini memasuki bulan ruwah. Biasanya warga menggelar tradisi nyadran, nyekar atau ziarah kubur. Namun warga memilih menggelar sadranan dengan membaca tawazul atau mengirim doa kepada warga yang telah meninggal dunia dengan dimulai membaca surat yasin, dzikir, tahlil, dan ditutup dengan doa untuk seluruh tokoh warga Kauman yang telah berjasa untuk kampung,” ucap Mufid.

Sementara itu, Ketua Panitia kegiatan, Pekik Supriyanto mengatakan, kirab budaya dan sadranan tersebut menjadi sebuah awalan dalam penyelenggaraan kirab di Kauman yang akan dijadikan sebagai event budaya tahunan.

“Kami ingin mengawali kirab budaya ini untuk memberikan informasi tentang sejarah kampung Kauman dan Pengulon. Kami berharap warga bisa paham dan mengerti tentang sejarah kampung,” ujar Pekik.

Pekik berharap kirab budaya yang ditutup dengan umbi donga tersebut menjadi kegiatan yang bermanfaat bagi warga. Terlebih menjelang bulan Ramadan, sehingga diharapkan dengan pengiriman doa kepada para tokoh masyarakat dapat mencerminkan Kampung Pengulon sebagai kampung santri.