SEMARANG, MettaNEWS – Kabar baik bagi warga wilayah aglomerasi Gelangmanggung (Magelang–Temanggung). Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tengah memantapkan rencana pembukaan koridor baru Trans Jateng rute Magelang–Secang–Temanggung, yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027.
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, tahun 2026 akan difokuskan pada tahap sosialisasi, penyiapan infrastruktur halte, serta pemantapan komitmen antarpemerintah daerah, yakni Kota Magelang, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Temanggung.
Koridor Trans Jateng ini dirancang menghubungkan pusat-pusat aktivitas masyarakat sekaligus kawasan pariwisata strategis. Titik awal dan akhir rute meliputi Terminal Maron (Kabupaten Temanggung), Terminal Tidar (Kota Magelang), hingga Terminal Borobudur (Kabupaten Magelang). Bus akan melintasi kawasan Secang, yang selama ini menjadi simpul pertemuan arus kendaraan dari arah Semarang, Magelang, dan Temanggung.
“Rute ini direncanakan menjadi pendukung utama akses menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur,” ujar Djoko.
Untuk tahap awal, sebanyak 14 unit bus disiapkan melayani koridor tersebut. Seperti koridor Trans Jateng lainnya, interval keberangkatan dijadwalkan setiap 10–15 menit, sehingga penumpang tidak perlu menunggu lama. Selain itu, pengusaha dan sopir angkutan umum eksisting di jalur Magelang–Temanggung akan dirangkul untuk bergabung dalam sistem operasional Trans Jateng, baik sebagai pengemudi maupun petugas administrasi, guna menghindari potensi gesekan sosial.
Dari sisi tarif, Trans Jateng tetap mengusung skema bersubsidi, yakni sekitar Rp4.000 untuk penumpang umum dan Rp1.000 untuk pelajar, buruh, serta veteran. Tarif ini dinilai jauh lebih murah dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi maupun angkutan umum konvensional.
Hadirnya koridor Magelang–Secang–Temanggung diharapkan mempermudah mobilitas pekerja dan pelajar yang tinggal di Temanggung namun beraktivitas di Magelang, maupun sebaliknya. Selain itu, wisatawan dari arah Temanggung dan Semarang juga akan lebih mudah mengakses Borobudur tanpa harus berganti kendaraan berkali-kali.
Djoko Setijowarno menilai, kehadiran Trans Jateng bukan sekadar menambah armada bus, tetapi membawa transformasi besar bagi mobilitas warga. Manfaat utamanya meliputi efisiensi biaya transportasi rumah tangga, kepastian waktu tempuh, serta peningkatan kenyamanan perjalanan. Bus Trans Jateng dilengkapi fasilitas AC, standar kebersihan dan keamanan yang baik, serta fasilitas ramah lansia, disabilitas, dan anak-anak.
Dari aspek keselamatan, satu unit bus mampu mengangkut hingga 50 penumpang, sehingga berpotensi mengurangi volume kendaraan pribadi di jalur padat Magelang–Temanggung. Peralihan pengguna sepeda motor ke transportasi umum juga diharapkan menekan angka kecelakaan lalu lintas.
Selain itu, kebijakan ini tetap memperhatikan aspek sosial dengan memberdayakan operator lokal melalui skema Buy The Service (BTS). Sopir dan pengusaha angkutan umum eksisting akan diberi kesempatan bergabung dalam konsorsium pengelola, sehingga memiliki kepastian penghasilan tanpa harus berebut penumpang di jalan.
“Trans Jateng koridor Magelang–Secang–Temanggung adalah contoh transportasi publik yang bukan hanya ramah lingkungan dan terjangkau, tetapi juga adil secara sosial dan mendukung pertumbuhan ekonomi serta pariwisata daerah,” pungkas Djoko.








