Gubernur Ahmad Luthfi Siapkan Trans Jateng Koridor Magelang–Temanggung, Tekan Biaya Transportasi Warga

oleh
oleh

SEMARANG, MettaNEWS – Rencana pengoperasian Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng Koridor Gelangmanggung pada 2027 membawa harapan baru bagi warga Magelang dan Temanggung. Selain meningkatkan konektivitas antarwilayah, transportasi massal berbasis aglomerasi ini diproyeksikan mampu menekan biaya transportasi masyarakat secara signifikan.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan komitmennya dalam mengembangkan sistem transportasi massal terintegrasi berbasis aglomerasi. Salah satu langkah strategis yang tengah disiapkan adalah pengoperasian Trans Jateng Koridor Gelangmanggung yang melayani kawasan Kabupaten Magelang, Kota Magelang, dan Kabupaten Temanggung.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, Arief Djatmiko, mengatakan koridor Magelang–Temanggung merupakan bagian dari sistem transportasi terintegrasi yang dikembangkan seiring penguatan kawasan aglomerasi Gelangmanggung.

“Persiapan pengembangan aglomerasi ini diawali dengan membangun komitmen bersama untuk integrasi dan kolaborasi sistem transportasi, mulai dari sistem primer hingga kota dan desa,” kata Arief, Jumat (23/1/2026).

Menurutnya, komitmen tersebut telah diformalkan melalui penandatanganan kesepakatan bersama antara Gubernur Jawa Tengah dengan para bupati dan wali kota di wilayah pengembangan Gelangmanggung.

Komitmen ini mendapat dukungan dari pemerintah daerah setempat. Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menyebut langkah tersebut sebagai fondasi penting dalam membangun sistem transportasi yang saling terhubung antarwilayah.

“Ini komitmen bersama Magelang–Temanggung untuk merancang mobilitas warga yang lebih terhubung, nyaman, dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi aglomerasi, transportasi tidak lagi berdiri sendiri, tetapi saling menguatkan,” ungkap Damar.

Dukungan serupa juga disampaikan Pemerintah Kabupaten Temanggung. Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Temanggung, Saltiyono Atmaji, menyatakan kesiapan pihaknya menyiapkan angkutan pengumpan (feeder) dari wilayah Temanggung menuju halte Trans Jateng Koridor Gelangmanggung.

Sementara itu, Dinas Perhubungan Kabupaten Magelang telah berkoordinasi dengan Dishub Provinsi Jawa Tengah sejak pertengahan 2025 terkait rencana pembukaan koridor tersebut.

Kepala Bidang Angkutan Jalan Dishub Provinsi Jawa Tengah, Bekora Seputranto, mengatakan saat ini pihaknya masih melakukan sosialisasi kepada Organisasi Angkutan Darat (Organda) di tiga wilayah. Ia menegaskan, kehadiran Trans Jateng tidak dimaksudkan untuk mematikan atau menjadi pesaing angkutan eksisting.

“Operator eksisting akan dilibatkan sebagai operator Trans Jateng melalui pembentukan konsorsium, proses scraping, serta mengikuti lelang. Awak angkutan yang terdampak juga dapat bergabung sebagai pramudi atau pramujasa,” jelasnya.

Koridor Gelangmanggung direncanakan melayani rute Terminal Maron (Kabupaten Temanggung)–Terminal Tidar (Kota Magelang)–Terminal Borobudur (Kabupaten Magelang) dengan dukungan 14 unit armada bus.

Bekora berharap, kehadiran Trans Jateng dapat meningkatkan aksesibilitas masyarakat sekaligus mengurangi kesenjangan antarwilayah. Berdasarkan hasil survei di tujuh koridor Trans Jateng yang telah beroperasi, kebijakan tarif terbukti memberikan penghematan signifikan bagi masyarakat.

“Rata-rata penghematan biaya transportasi warga mencapai Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per bulan,” ungkapnya.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menerapkan tarif khusus bagi pelajar, mahasiswa, buruh, veteran, dan lansia, dari Rp2.000 menjadi Rp1.000. Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/124 tertanggal 30 April 2025 tentang Tarif Angkutan Aglomerasi Perkotaan Trans Jateng.

Saat ini, Dishub Provinsi Jawa Tengah tengah menyusun Detailed Engineering Design (DED) serta melanjutkan sosialisasi kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan terkait rencana pembukaan koridor baru tersebut.

Sepanjang 2025, layanan Trans Jateng telah melayani 10,2 juta penumpang di tujuh koridor dengan total 115 unit bus. Tujuh koridor tersebut meliputi Semarang–Bawen (Kedungsepur), Purwokerto–Purbalingga (Barlingmascakep), Semarang–Kendal (Kedungsepur), Magelang–Purworejo (Purwomanggung), Solo–Sragen (Subosukawonosraten), Semarang–Grobogan (Kedungsepur), serta Solo–Wonogiri (Subosukawonosraten).