Jenderal Agus Subiyanto Jadi Panglima TNI, Begini Rencana Kerja dan Penegasan Sikap tentang Pemilu

oleh
Yudo Margono Agus Subiyanto Panglima TNI
Laksamana Yudo Margono dan Jenderal Agus Subiyanto dalam brifing akhir pergantian jabatan Panglima TNI | dok Puspen TNI

JAKARTA, MettaNEWS – Sidang DPR RI memutuskan untuk menyetujui dan mengesahkan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Agus Subiyanto menjadi Panglima TNI yang baru. Pelantikan mantan Komandan Kodim di Kota Solo itu akan berlangsung Rabu (22/11/2023).

Agus Subiyanto, lahir di Cimahi, 5 Agustus 1967 dan menghabiskan masa kecil hingga remaja di sana. Berasal dari keluarga militer, ayahnya Dedi Unadi seorang prajurit TNI AD berpangkat sersan kepala, meninggal dunia pada tahun 1984 karena kecelakaan lalu lintas.

Karir awal di TNI, Agus bertugas di korps Kopassus dan sempat bertempur di Timor Leste. Berikutnya dia berpindah-pindah dari jabatan Dandim di Solo (2009-2011), di mana dia bertugas pada saat Jokowi menjabat wali kota.

Selanjutnya, berbagai posisi jabatan pernah dia jalani. Pernah bertugas di Kostrad, Danrem, Dosen Seskoad, hingga sebagai Komandan Paspampres (2020-2021) dan Pangdam III/Siliwangi (2021-2022). Akselerasi pangkatnya terus melaju. Tahun 2022 dia mencapai pangkat Letnan Jenderal dengan jabatan Wakil Kasad, dan setahun kemudian (2023) Jenderal dengan jabatan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) yang dia emban hanya dalam hitungan beberapa minggu.

Akhir Oktober 2023, Presiden Joko Widodo mengajukan Agus sebagai calon tunggal Panglima TNI menggantikan Laksamana Yudo Margono yang memasuki masa pensiun. Pengajuan itu berjalan mulus, Selasa (21/11/2023) Ketua DPR Puan Maharani sebagai pemimpin sidang menyatakan setuju.

Tiga Rencana Agus Subiyanto

Seusai sidang DPR, Agus didampingi sejumlah perwira tinggi menjawab pertanyaan wartawan yang berkerumun di Senayan. Dia menyebut, ada sejumlah rencana yang berpijak pada situasi regional dan global di seputar Indonesia.

“Kita awali dari well organized untuk TNI yang profesional. Mungkin kita harus menata dan mengubah organisasi yang sesuai dengan tantangan perkembangan zaman. Yang kedua well trained untuk seluruh personel. Terakhir, personel yang terlatih ini harus well equipped atau berbekal peralatan yang modern sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Tentang perlengkapan dan alutsista (alat utama persenjataan) TNI, Agus mengaku akan memprioritaskan produk dalam negeri sebagai andalan.

“Kita punya potensi yang cukup. Misal untuk pasukan tempur, dulu ada senapan M-4 buatan Amerika, sekarang ada SS2 V5 buatan PT Pindad yang setara. Itu digunakan Kopassus. Pistol dulu pasukan elite pakai Sig Sauer (buatan Swiss -red), kita sudah bisa bikin G-2 elite. Masih ada PTDI, PT PAL dan lain-lain,” tandasnya.

Agus mengakui mungkin beberapa jenis alutsista tidak bisa 100 persen buatan anak bangsa. Misal untuk kebutuhan kavaleri, industri nasional sudah bisa membuat bodi, namun untuk turret (kubah meriam) masih buatan Belgia.

“Ya, banyak negara lain juga masih begitu. Misalnya Turkiye, kondisinya sama,” tandasnya.

Beberapa rencana lain juga diucapkan Agus, antara lain untuk memperkuat armada pesawat nirawak (drone) dan pasukan siber.

“Karena dua point ini sedang berkembang pesat di luar. Kita lihat perang Ukraina dengan Rusia, sudah sangat mengandalkan itu. Belum lama saya ke Singapura, di sana punya pasukan siber yang kuat. Dan uniknya tidak seluruh personelnya militer, ada yang sipil. Nanti kita pikir, apakah saya harus mendidik anggota TNI sampai menjadi ahli siber, atau bisa juga merekrut kalangan sipil ke dalam TNI,” paparnya.

Netralitas TNI Bersifat Mutlak

Hal lain yang menurut Agus Subiyanto sangat penting saat ini adalah posisi netral TNI di tengah perhelatan nasional Pemilu 2024.

“Aturannya jelas sesuai UU Nomor 24 tahun 2004, posisi TNI adalah tidak boleh berpolitik praktis. Kemudian menurut UU Nomor 7 tahun 2017, pelanggaran ada ancaman hukumnya. Bisa teguran, hingga pidana. Ancamannya cukup berat, bisa penjara setahun dan denda Rp 12 juta,” ujarnya.

Agus menyebut dirinya bersama Panglima TNI Laksamana Yudo Margono sudah melakukan kick off netralitas TNI. Di antaranya dengan membuat posko pengaduan, siapa pun bisa melaporkan kalau ada anggota TNI yang berlaku tidak netral.

Selain itu, TNI telah membuat buku saku yang dibagikan ke semua anggota dari pangkat terbawah hingga tertinggi. Dengan buku yang bisa masuk ke dalam saku agar selalu terbawa itu, setiap prajurit TNI pasti sudah mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh.