Iwan Darmawan Lulus Ujian Doktor ISI Surakarta Lahirkan Aplikasi Musik Gamelan untuk Industri Film Pertama di Dunia

oleh
oleh
Iwan Darmawan meraih gelar doctoral seni kajian film | MettaNEWS/Puspita

SOLO, MettaNEWS – Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta melahirkan kajian tentang metode pengembangan musik gamelan, aplikasi suara gamelan pada media film. Iwan Darmawan meraih gelar doctoral seni kajian film melalui penelitian ini. Iwan menyebut penelitiannya yang menghasilkan musik gamelan untuk industry film ini menjadi yang pertama ada di dunia.

Iwan menggunakan metode pengukuran calibration cinema gamelan system. Metode ini merupakan pengembangan tuning system. Yaitu pengukuran yang digunakan oleh almarhum Prof. Dr. Sri Hastanto S.kar yang mengukur jarak antar nada pada laras pelog dan slendro.

Iwan menuturkan penggunaan musik gamelan pada sebuah film menjadi fenomena unik. Ia mengungkapkan butuh waktu 7 tahun untuk menghasilkan kajian yang berguna bagi industry hiburan nantinya.

“Ya karena itu jadi fenomena. Jadi selama musik gamelan digunakan untuk film pasti menang festival di luar negeri begitu. Karena keunikannya terus konsep nya itu beda sekali sama konsep orchestra. Nah ini salah satu latar belakang kita sudah membuat dalam system. Untuk industri film kan harus yang pasti-pasti. System nya harus seperti apa. Karena masyarakat gamelan harus profesional untuk masuk industry,” ujarnya usai ujian terbuka disertasi di Kampus Pascasarjana ISI Surakarta, Selasa (3/10/2023).

Iwan mengatakan, konsep metode pengukuran dari penelitian metode pengembangan gamelan, aplikasai suara gamelan pada media film adalah mempertemukan “dua pakem”. Yaitu embat gamelan (tinggi-rendahnya susunan wilayah nada gamelan) dan standar audio sistem film.

“Kemudian ini kita selaraskan dengan pendengaran para stakeholder masyarakat gamelan. Seperti akademisi, keraton, komposer gamelan, komposer tari, dalang, sinden dan para pembuat gamelan. Penelitian ini melibatkan teknologi standar audio pada film. Sehingga secara pengukuran kita harapkan layak menjadi alternatif pilihan gamelan yang industri film butuhkan. Tujuan dari penelitian ini adalah membantu gap atau jarak) literasi musik antara tata suara film terhadap kebutuhan teknis terapan untuk masa yang akan datang,” urainya.

Hasil temuan pengukuran rentang dinamika frekuensi instrumen gamelan baik pelog dan slendro salah satu upaya untuk memahami suara instrumen gamelan. Melalui frekuensi yang umum digunakan pada dunia tata suara, termasuk tata suara pada media film.

“Media film yang mengharuskan menggunakan sistem tata suara dengan 5.1 Surround sebagai standar format suara, menjadi tantangan pengembangan dalam pencapaian dimensi yang lebih luas. Perbandingannya dengan format stereo yang umum digunakan masyarakat,” jelasnya.

Menurut almarhum Prof. Dr. Rahayu Supanggah S.Kar lanjut Iwan, pada metode pengembangan gamelan, aplikasi suara gamelan pada media film ditemukan bahwa hasil pengukuran rentang dinamika frekuensi gamelan dapat dipilah menjadi dua bagian yaitu wilayah frekuensi tinggi dan wilayah frekuensi rendah. Frekuensi tinggi dapat ditata pada 5 speaker full range frekuensi dan wilayah frekuensi rendah dapat di tata pada 1 speaker LOW yaitu Low Frekuensi effect tanpa menyisihkan kemampuan “garap” pada komposer musik gamelan.

Hal ini diperkuat oleh pendapat penguji Prof.Dr. Bambang Sunarto S.Sen. M.Sn yang menyatakan bahwa hal yang termudah dipahami oleh masyarakat gamelan adalah tentang tinggi rendahnya suara.

 

Hal ini juga disepakati oleh Prof. Pande Sukerta S. Kar. M.Si yang menjadi promotor yang banyak melahirkan mahasiswa program doktoral bidang pencipta seni. Hal yang menarik menurut Dr. I Nyoman Sukirna S. Kar. M.Hum sebagai Copromotor adalah tentang homogen laras gamelan Jawa yang tetap pada laras pelog dan slendro. Meskipun melalui proses pengukuran teknologi industri film. Selain itu hasil pengukuran jarak dinamika frekuensi instrumen gamelan yang telah diselaraskan dengan sistem standar audio industri film bersama dengan stakeholder masyarakat gamelan dapat menghasilkan embat yang terukur yang hanya berlaku pada industri film.

“Pengembangan kedepannya dari metode penelitian ini adalah menawarkan kepada masyarakat gamelan dan masyarakat industri film. Dengan pengembangan embat cinema gamelan sebagai kekayaan ragam embat yang ada pada seni dan budaya karawitan,” pungkasnya.