SOLO, MettaNEWS – Institut Teknologi Bisnis (ITB) AAS Indonesia menggelar wisuda ke 34 bertempat di Graha Saba Buana, Sabtu (12/8/2023).
Pada wisuda ke 34 ITB AAS meluluskan sebanyak 274 mahasiswa. Wisudawan ini untuk Program Sarjana dan Diploma.
Wisuda kali ini berjalan secara langsung. Dengan menghadirkan orangtua atau wali para wisudawan/wisudawati.
Total ada 268 orang yang lulus setelah mengikuti pendidikan di perguruan tinggi tersebut.
Dengan rincian 123 wisudawan Program Studi S1 Akuntasi, 77 wisudawan Program Studi S1 Ekonomi Syariah, dan 68 wisudawan Program Studi DIII Akuntansi. Dari jumlah lulusan wisuda ke-34 sebanyak 3 orang berhasil lulus dengan prestasi terbaik bidang akademik. Yaitu lulusan dengan IPK tertinggi dan lama studi tepat waktu pada tiap jenjang pendidikan.
Mereka adalah Wahyu Muhammad Rizky dengan IPK 3,84 dari Prodi DIII Akutansi. Kemudian dari Prodi S1 Akutansi nilai IPK tertinggi atas nama Intan Karunia Devi dengan IPK 3,92. Terakhir, lususan terbaik adalah Aly Muhammad Azmi dari Prodi S1 ekonomi Syariah dengan IPK 3,81.
Rektor ITB AAS Indonesia, Darmanto menjabarkan dengan tambahan lulusan ini, maka perguruan tinggi ini telah meluluskan sejumlah 337 Sarjana Akuntansi Program Studi S1 Akuntansi. 144 Sarjana Ekonomi Program S1 Ekonomi Syariah. Dan 3.023 Ahli Madya Akuntansi Program Studi Diploma III Akuntansi. Serta1.073 Ahli Madya Manajemen Program Diploma III Manajemen Pajak. Dengan total lulusan secara keseluruhan sebanyak 4.578 lulusan.
Darmanto berpesan kepada wisudawan untuk terus kreatif dan inovatif dalam dunia industri.
“Upaya tetap berpikiran terbuka terhadap perubahan. Selalu lapar akan ilmu pengetahuan dan tetap bersemangat dalam mengejar impian. Dunia ini membutuhkan para lulusan yang berani dan inovatif,” ungkapnya.
SDM dan sarpras Institut Teknologi Bisnis AAS ciptakan lulusan berkualitas
Darmanto melanjutkan para lulusan harus memiliki karakter tersebut untuk menghadapi berbagai tantangan komples kedepan.
“Sehingga saya harapkan Ilmu yang mereka dapat selama menempuh pendidikan bisa berguna sebagai bekal. Naik pada dunia kerja maupun ketika mereka nanti berada ditengah masyarakat,” jelasnya.
Pembina Yayasan Amaliyah Ilmi Budiyono menambahkan pihak Yayasan bersama dengan perguruan tinggi terus berupaya mengembangkan Sarpras serta tenaga pendidik dalam bentuk studi lanjut.
“Ini sesuai dengan komitment kita. Dengan biaya pendidikan yang terjangkau, namun memberikan pendidikan yang maksimal guna menjamin mutu para lulusan,” ujarnya.
Budiyono menuturkan selama ini masa tunggu lulusan Institut Teknologi Bisnis AAS lumayan cepat. Yakni sekitar 3-4 bulan masa tunggu bekerja.
“Sebanyak 80% rata-rata terserap dunia kerja. Baik itu menjadi PNS, BUMN atau swasta. Sedangkan sekira 20% memilih membuka lapangan kerja dengan menjadi wirausaha,” ungkapnya.
Budiyono menyebut antara SDM seperti dosen, sarana prasarana sangat menunjang untuk output dari lulusan. Sehingga mempengaruhi masa depan mahasiswa setelah menjadi sarjana.
“Menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi lain baik dalam dan luar negeri. Pertukaran mahasiswa, pertukaran review jurnal untuk dosen juga mempengaruhi kualitas lulusan,” pungkasnya.







