Imbas Cuaca Panas Ekstrem, Es Kristal di Solo Langka, Distributor Mulai Batasi Pembelian

oleh
Es kristal
Kekosongan es batu kristal di Kota Solo sebagai dampak cuaca panas ekstrem yang melanda beberapa waktu ini, Jumat (13/10/2023) | Magang UNS / Kahfi Harahap

SOLO, MettaNEWS – Musim kemarau yang berkepanjangan membuat sejumlah wilayah di Indonesia mengalami perubahan cuaca ekstrem. Di Kota Solo suhu udara mencapai 40 derajat Celcius hingga 41 derajat Celcius.

Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) bahkan memberi peringatan cuaca buruk berupa panas yang berlebihan.

Tingginya suhu udara di Kota Solo ini pun akhirnya berdampak ke meningkatnya kebutuhan es kristal. Pantauan MettaNEWS di beberapa lokasi distributor, produk es kristal di Solo langka. Ini diakibatkan tingginya permintaan sedangkan stok dari pabrik menipis.

Salah satu distributor es kristal di Pasar Legi, Novianto mengaku kelangkaan paling parah terjadi sejak sepekan terakhir. Dikatakannya beberapa pabrik es kristal mengalami kendala berupa kerusakan mesin produksi yang diakibatkan dari penambahan jumlah produksi secara berkala saat musim panas.

“Kalau untuk langkanya baru kurang lebih 1 mingguan ini. Sumber daya alamnya sudah menipis. Kemarau panjang seperti ini ya mungkin tidak selalu bisa mendapatkan air bersih. Mereka juga satu sisi juga merawat mesin agar tidak rusak juga. Terus permintaan masyarakat juga jadi melonjak, itu kendalanya kalau menurut saya seperti itu,” ujarnya saat ditemui MettaNEWS, Jumat (13/10/2023).

Novianto menjual es kristal seharga Rp 10.000/bungkus dengan berat 10 kilogram. Biasanya ia mampu menjual 150 hingga 170 bungkus es kristal. Kini Novianto hanya menerima 60 bungkus saja per harinya. Alhasil stok es kristal yang biasa ia setor ke warung maupun restoran berkurang.

Novianto juga mengaku kerap didatangi pembeli di luar pelanggannya. Namun karena stok es kristal menipis, ia memilih untuk mengutamakan mereka yang sudah menjadi pelanggan lama. Hal ini membuat dirinya mendapat banyak protes dari pembeli.

“Ya kalau protes ya hampir semuanya protes, yang kemaren aja kalo kita kerja ini sampe jam 7 malam kita masih muter, ini kita jam 9 pagi udah nggak ada stok. Pelanggan saya kurang lebih 60 sampe 100 orang. Tidak semuanya kebagian, jadi dalam arti kalau dari pabrik, jam operasional biasa pagi sampai siang atau sampai sore. Ini mereka operasionalnya cuma pagi aja, satu kali putaran seperti itu. Jadi pelanggan saya yang sore itu tidak dapat bagian,” terangnya.

Novianto pun mengaku omzet penjualan es kristal turun 70 persen hingga 80 persen. Jika musim kemarau masih terus berlanjut tidak menutup kemungkinan Novianto tidak lagi menyetori es kristal ke pelanggannya.

“Kalau kemarau seperti ini masih 3 bulan lagi mungkin juga udah ngga ada setoran. 1 bulan lagi mungkin pabrik udah nggak produksi. Ini saya ambil dari 3 pabrik kondisinya sama aja. Dalam arti kalau misalkan 1 atau 2 pabrik mesinya rusak, pabrik yang lain kan tetep memenuhi kuotanya pabrik yang rusak ini. Akhirnya ya over,” pungkasnya.

Es kristal
Pembeli es kristal di Nusukan Solo, Jumat (13/10/2024) | Magang UNS / Kahfi Harahap

Tak jauh berbeda dengan Novianto, Taufik distributor es kristal di Serengan Solo, mengaku stok es kristal yang ia terima dari pabrik jauh berkurang. Dari yang sebelumnya 60 menjadi 20 bungkus.

“Sudah satu mingguan ini, cuaca panas banyak permintaan. Selama musim panas bisa sampai 150 bungkus yang dibutuhkan. Padahal barangnya sampai langka musim kemarau airnya berkurang. Banyak permintaan tapi mesinnya rusak terlalu dipaksa produksi banyak,” paparnya.

Supply dari 5 pabrik pun seret sejak sepekan terakhir. Di mana setiap jumlahnya setoran selalu dikurangi 20 bungkus.

“Warung restoran pada kecele. Sekarang kalau ada yang mau beli ya kami utamakan yang pelanggan saja. Sebenarnya habis Lebaran sudah langka tapi ini berkepanjangan sampai sekarang,” imbuhnya.

Moko, agen es kristal di Nusukan Solo mengaku membatasi pesanan ke setiap pelanggan. Sebab stok yang diberikan dari pabrik juga terbatas. Biasanya ia mendapat supply 165 bungkus, kini ia hanya dapat menjual seratusan bungkus saja.

“Selama musim panas puncak-puncaknya kemarau itu memang sulit karena satu mesin yang kedua permintaan banyak. Stok biasanya 75 pagi aja, 35 sama 25 siang, sore 30, susut semua dikurangi semua. Kalau musim kemarau paling parah pesanan dibatasi. Kalau bukan langganan saya nggak saya kasih,” terangnya.

Meski permintaan sedang tinggi-tingginya, Moko memilih untuk tidak menaikkan harga jual. Es kristal yang ia jual masih dibanderol Rp 9.000 – Rp 10.000/10 kg.