SOLO, MettaNEWS — Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Tengah (Jateng) II memperkuat penetrasi pasar modal di kalangan generasi muda guna memitigasi risiko investasi bodong dan pengaruh negatif figur publik di media sosial.
Kepala Kantor BEI Jawa Tengah II, M. Wira Adibrata, menegaskan bahwa generasi Z menjadi kelompok yang rentan terhadap promosi keuntungan instan yang kerap disuarakan influencer saham tanpa kredibilitas jelas.
“Anak-anak Gen Z sangat mudah terpengaruh hal-hal instan dari influencer yang mengaku ahli namun tidak memiliki filter informasi. Kami ingin mereka beralih ke sumber terpercaya,” ungkap Wira dalam acara buka puasa bersama media di Solo, Senin (2/3/2026).
Sebagai langkah konkret, pada 2026 BEI menargetkan penambahan empat Galeri Investasi (GI) baru dengan fokus khusus di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Ekspansi ini menyasar sekolah unggulan seperti SMAN 2 Sukoharjo dan SMKN 1 Sragen, setelah sebelumnya hadir di SMA Kalam Kudus.
Langkah tersebut dinilai efektif untuk meningkatkan literasi keuangan sejak dini, sekaligus membentengi pelajar dari pengaruh influencer yang belum tentu memiliki izin resmi.
Wira menambahkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengatur secara tegas peran influencer di sektor pasar modal.
“Berdasarkan POJK No. 13 Tahun 2025, influencer yang memberikan rekomendasi atau analisis investasi wajib memiliki izin sebagai Penasihat Investasi dari OJK,” paparnya.
BEI mengingatkan calon investor untuk selalu melakukan verifikasi informasi melalui kanal resmi seperti akun resmi BEI, OJK, perusahaan sekuritas tersertifikasi, serta situs resmi IDX untuk memantau data pasar modal terkini.
Saat ini, terdapat 43 Galeri Investasi yang tersebar di wilayah Jawa Tengah II dan Madiun Raya. Kehadiran GI terbukti berdampak signifikan terhadap peningkatan literasi dan transaksi.
Salah satu contoh sukses adalah Galeri Investasi UIN Raden Mas Said Surakarta yang mampu mencatat nilai transaksi hingga Rp3,5 miliar per tahun atau rata-rata Rp290 juta per bulan.
Berdasarkan data per Maret 2026, total transaksi pasar modal di Solo Raya telah menembus Rp46,42 triliun dengan jumlah investor mencapai 368.806 Single Investor Identification (SID).
BEI berharap ekspansi GI ke tingkat SMA tidak hanya mendorong pertumbuhan jumlah investor, tetapi juga membentuk investor muda yang cerdas, kritis, dan tidak mudah terjebak janji “cuan instan” dari influencer saham yang belum tentu kredibel.







