JAKARTA, MettaNEWS – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bertemu dengan Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Hary Tanoe, Jumat (9/6/2023). Pertemuan kedua petinggi parpol itu menyepakati kerja sama untuk Pemilu 2024.
Hary Tanoe tiba di kantor DPP PDI Perjuangan di Jalan Diponegoro 58, Cikini, Jakarta Pusat. Selain Megawati dan sejumlah petinggi partai, tampak capres PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo dengan seragam merah.
Sedangkan Hary Tanoe dan beberapa pendampingnya juga berseragam partai warna putih. Di antara yang mengikuti Tanoe, tampak Ketua Harian Nasional DPP Partai Perindo Muhammad Zainur Majdi atau Tuanku Guru Bajang (TGB).
Setelah sambutan resmi singkat, Hary Tanoe dan Megawati melakukan pembicaraan tertutup. Tak terlalu lama, acara diteruskan dengan penandatanganan naskah kerja sama.
Usai penandatanganan, Capres Ganjar Pranowo mengatakan rasa terimakasih kepada Perindo, dan memastikan dukungan Perindo akan membuat kedua partai menjadi lebih kuat.
“Saya yakin nanti Perindo bakal masuk parlemen, makin kokoh. Kerja sama kedua partai ini,” tutur Ganjar.
Ganjar kemudian memaparkan adanya tantangan ke depan yang harus menjadi tanggung jawab kedua partai jika menang Pemilu. Mulai dari melanjutkan membangun koneksivitas antarinfrastruktur, melanjutkan membangun IKN, hilirisasi industri, hingga kemandirian ekonomi masyarakat.
Ganjar menyebutkan dengan tugas berat itu, sudah sepantasnya partai-partai bekerja sama. Sejak dari memenangkan pemilihan legislatif di daerah dan pusat, hingga memenangkan kursi Presiden.
“Ada banyak program yang yang harus sampai ke masyarakat. Saya yakin, dengan kekuatan media milik Pak Hari Tanoe, ini bisa menjangkau sampai ke pelosok-pelosok,” pungkas Ganjar.
Hary Tanoe Pilih Ganjar karena Ini
Hary Tanoe menjawab pertanyaan wartawan menyatakan kerja sama dengan PDIP mencakup semua tahap Pemilu mulai dari pemilihan anggota legislatif hingga pemilihan presiden.
Dia mengakui, sebelum berlabih ke PDIP memang bertemu dengan capres lain, Prabowo Subianto.
“Ya namanya parpol biasa melakukan penjajakan-penjajakan. Namun akhirnya saya memutuskan bekerja sama dengan PDIP dengan tiga alasan,”tandasnya.
Alasan pertama, karena PDIP adalah partai yang paling siap, terutama dengan pencapaian suara lebih dari 20 persen. Kedua, karena kedua partai memliki landasan idiologi yang sama yakni Pancasila.
Alasan ketiga, karena sosok calon presiden dari PDIP, Ganjar Pranowo adalah sosok yang paling diterima masyarakat.








