Hadiri Isra Mikraj di Tegal, Wagub Taj Yasin: Pemprov Jateng Butuh Dukungan dan Doa Ulama

oleh
oleh

TEGAL, MettaNEWS – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan bahwa dukungan serta doa para ulama menjadi elemen penting dalam menjalankan roda pemerintahan di Provinsi Jawa Tengah.

Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan Haul ke-52 almarhum KH. Sa’id bin Armia di Pondok Pesantren Attauhidiyyah Giren, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Sabtu (10/1/2026).

Di hadapan ribuan jamaah yang terdiri dari ulama, habaib, dan tokoh masyarakat, Gus Yasin—sapaan akrab Taj Yasin—menyampaikan bahwa pemerintahan tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan struktural dan kebijakan administratif, melainkan juga membutuhkan bimbingan spiritual dari para kiai dan orang-orang saleh.

“Kami mohon doa dari para ulama agar pemerintahan di Jawa Tengah benar-benar bisa berjalan dengan rida Allah SWT,” tutur Gus Yasin saat memberikan sambutan mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.

Menurutnya, jabatan publik merupakan amanah besar yang sarat dengan risiko kekhilafan. Oleh karena itu, kedekatan antara pejabat dan ulama, serta keterlibatan dalam majelis ilmu, menjadi kebutuhan penting bagi pemimpin.

“Duduk bersama orang-orang saleh seperti ini, kita mencari barakah dan ampunan Allah,” ungkapnya.

Dalam suasana yang penuh keakraban, Gus Yasin juga sempat berkelakar melihat beragam ekspresi jamaah di majelis, mulai dari yang khusyuk menyimak hingga yang tertidur. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kehadiran di majelis orang saleh tetap membawa keberkahan.

“Semoga kita semua diampuni dosa-dosanya dan mendapatkan keberkahan dari majelis ini,” harap Gus Yasin.

Teladan dan Karamah KH. Sa’id bin Armia

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Attauhidiyyah Giren, KH. Khasani, mengenang keteladanan almarhum KH. Sa’id bin Armia, khususnya dalam menjaga adab dan ketaatan kepada guru.

Ia menceritakan bahwa KH. Sa’id tidak berani pulang untuk melayat wafatnya ayahanda, KH. Armia, sebelum mendapatkan izin dari gurunya, KH. Abu Ubaidah.

“Inilah adab santri dulu, sangat patuh kepada guru,” jelas KH. Khasani.

Ketaatan tersebut, lanjutnya, diyakini menjadi jalan terbukanya karamah. Salah satunya ditandai dengan kisah cahaya yang terlihat dari sosok KH. Sa’id muda saat tertidur di masjid, yang kemudian menjadi awal pernikahannya dengan putri KH. Abu Ubaidah.

KH. Khasani juga mengungkapkan bahwa KH. Sa’id wafat pada 20 Rajab, bertepatan dengan peringatan Isra Mikraj, sebagaimana pesan yang pernah disampaikan almarhum semasa hidup. Meski dalam kondisi sakit, KH. Sa’id tetap menjalankan ibadah hingga wafat saat melaksanakan salat Duha.

“Beliau wafat dalam keadaan ibadah, tepat seperti yang pernah beliau pesankan,” ujarnya.

Acara tersebut turut dihadiri Pj Ketua Umum PBNU KH. Zulfa Mustofa, Bupati dan Wakil Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman–Ahmad Kholid, para habaib, serta kiai sepuh. Kehadiran para tokoh ini mencerminkan kuatnya sinergi antara ulama dan pemerintah dalam membangun Jawa Tengah yang religius dan berkeadaban.