SOLO, MettaNEWS – Indonesia miliki peluang tumbuh sekitar 5 persen lebih di tengah perekonomian global yang diprediksi memasuki fase gejolak penuh ketidakpastian dan kompleksitas pada tahun 2025.
Hal ini disampaikan oleh pengusaha nasional sekaligus mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, saat menghadiri peringatan HUT ke-empat Asosiasi CEO Mastermind Indonesia (ACMI), di Solo, Minggu 27 April 2025. Sandiaga menggarisbawahi pentingnya adaptasi dalam menghadapi situasi ekonomi yang tidak menentu.
“Kita memasuki era yang sangat bergejolak, sangat kompleks, dan ambigu. Oleh karena itu, kita harus berinovasi, beradaptasi, dan berkolaborasi,” ujarnya tegas.
Sandiaga menilai, ke depan, fokus pembangunan ekonomi nasional perlu beralih dari konsumsi menuju peningkatan investasi sebagai motor utama pertumbuhan.
“Ke depan kita harus fokuskan bagaimana menarik investasi, bukan hanya mengandalkan konsumsi,” kata Sandiaga.
Meski tantangan terasa berat, Sandiaga tetap menyampaikan optimismenya terhadap prospek penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan usaha di tahun 2025.
“Saya masih optimistis penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan usaha di 2025, tapi ini butuh gerakan besar yang memperkuat kelas menengah kita,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Sandiaga menekankan bahwa penguatan UMKM menjadi kunci utama. Ia mengusulkan adanya kebijakan yang secara langsung dapat meningkatkan pendapatan pelaku UMKM dan mempercepat penciptaan lapangan kerja baru.

Menurutnya, suntikan kebijakan kepada kelas menengah dan UMKM bukan hanya penting untuk pemulihan ekonomi, tetapi juga menjadi fondasi bagi ketangguhan nasional menghadapi tantangan global.
Untuk pelaku usaha, Sandiaga memberikan panduan praktis agar bertahan di tengah ketidakpastian. Ia mengingatkan pentingnya memperkuat arus kas perusahaan.
“Saat ini, cash is king. Kita harus memperkuat struktur arus kas. Selain itu, para pelaku usaha harus terus berinovasi dan berkolaborasi, menghadirkan produk-produk yang lebih terjangkau dan sesuai kebutuhan masyarakat,” tambahnya.
Menyinggung maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK), Sandiaga justru melihatnya sebagai peluang baru. Ia mendorong program “Kartu Prakerja Plus” yang tidak hanya memberikan pelatihan ulang, tetapi juga menyalurkan modal usaha bagi para korban PHK.
“Kalau kita reskilling para pekerja ini, lalu berikan tambahan modal, mereka bukan hanya bisa membuka usaha baru, tapi juga bisa menjadi tenaga kerja kompeten di luar negeri, menghasilkan devisa untuk Indonesia,” kata Sandiaga.
Dalam suasana penuh keprihatinan ini, Sandiaga mengajak semua pihak untuk tetap menjaga optimisme.
“Percayalah, di balik badai pasti ada cuaca yang cerah. Mari kita lalui badai ini bersama-sama, bergandengan tangan. UMKM kita harus siap menyongsong masa depan dengan inovasi dan kolaborasi,” pesan Sandiaga.
Optimisme dan strategi tersebut diharapkan mampu menjadi energi baru bagi pelaku usaha Indonesia.








