SOLO, MettaNEWS – Gelaran pameran mebel Sri Kayu Furni Fest 2025 yang berlangsung Kamis–Sabtu (28–30/8/2025) sukses menjadi panggung perkenalan Sentra IKM Mebel Sri Kayu kepada masyarakat.
Selama tiga hari, lebih dari seribu pengunjung dari berbagai kalangan, mulai pelaku usaha, perajin, pelajar hingga mahasiswa, ikut meramaikan beragam agenda pameran, talkshow, literasi pengolahan mebel, workshop, hingga hiburan musik.
Penampilan grup band The Flash Rock pada Sabtu sore menjadi penutup meriah festival ini. Lagu-lagu rock klasik yang mereka bawakan membuat suasana di lantai II Sri Kayu Solo semakin hangat. Sembari menikmati hidangan di bazar kuliner, penonton bernyanyi bersama dan larut dalam atmosfer akrab yang tercipta.
Kepala UPTD Pengelolaan Sentra IKM Kota Surakarta, Sri Hening Widyastuti, menegaskan festival ini berhasil mencapai tujuan utama, yakni memperkenalkan Sentra IKM Mebel Sri Kayu yang baru diresmikan pada Desember 2024.
“Banyak masyarakat hanya tahu ada gedung besar di sini, tapi belum paham fungsinya. Padahal, fasilitas Sri Kayu bisa digunakan siapa saja, terutama pelaku IKM mebel,” jelasnya di sela-sela acara penutupan.
Menurut Hening, keberadaan Sri Kayu memberi peluang besar bagi masyarakat maupun pelaku usaha untuk memanfaatkan fasilitas pengolahan kayu yang tersedia. Mulai dari ruang produksi, peralatan modern, hingga sarana edukasi bisa diakses guna mendukung pengembangan bisnis mebel maupun produk turunan kayu lainnya.
Selain pameran furnitur, Sri Kayu Furni Fest 2025 juga menghadirkan Furni Edu Visit, workshop konten kreator, lomba konten, aktivitas mencari jejak Night at Sri Kayu, hingga talkshow finansial untuk UMKM.
Dalam talkshow yang digelar Jumat (29/8), pelaku usaha bisa langsung berdialog dengan Bank Indonesia serta perbankan BTN dan BCA. Narasumber memberikan banyak masukan mengenai akses pembiayaan, peluang ekspor, hingga sistem pembayaran.
CEO CV Raya Permata Sentosa (Furniparc), Rani Permata Sari, menilai potensi ekspor produk mebel Solo masih terbuka lebar, terutama ke Amerika Serikat. Namun, ia menekankan pentingnya strategi harga agar kompetitif.
“Pengusaha perlu rajin riset harga di pasar tujuan agar bisa menembus ekspor,” ujarnya.
Sementara itu, pihak perbankan menawarkan berbagai solusi pembiayaan dan sistem pembayaran, mulai dari KUR, produk kredit reguler, hingga pemanfaatan QRIS untuk transaksi domestik. Diskusi ini sekaligus membuka wawasan pelaku usaha tentang cara memperkuat daya saing.
Branch Manager BTN Solo, Anita Septi Purwarini, menjelaskan ada tiga fase peran BTN dalam pemberdayaan UKM, yakni fase inisiasi (edukasi dan literasi keuangan), fase akselerasi (pengembangan usaha), dan fase scale up (kolaborasi). BTN juga memiliki tiga program pemberdayaan, yaitu UMKM Pintar, UMKM Modern, dan UMKM Berkarya.
“Kalau ada yang mau mengembangkan usahanya, mungkin sekarang masih kecil terus ingin ditingkatkan lagi, tapi bingung gimana. Nah, kalau sudah punya rekening BTN dan mungkin ada KUR di BTN dan nanti ke depannya ingin diajari oleh digital marketing consultant kami, juga bisa,” jelasnya.
Sri Hening berharap Furni Fest tidak berhenti di tahun ini.
“Harapan saya, kegiatan furnitur Sri Kayu ini bisa terus berlanjut di tahun depan dan tahun-tahun berikutnya,” katanya.
Dengan kesuksesan perhelatan perdana ini, Sentra IKM Mebel Sri Kayu meneguhkan diri bukan hanya sebagai gedung megah di kawasan Gilingan, melainkan sebagai pusat aktivitas ekonomi kreatif berbasis kayu.
Masyarakat kini memiliki ruang bersama untuk mengolah ide, mengembangkan usaha, sekaligus menjalin kolaborasi di industri mebel yang menjadi salah satu identitas kuat Kota Solo.








