Ditempa di SMANKO Jateng, Dela Agustina Panen Tiga Emas Sepak Takraw di Porprov 2026

oleh
oleh

SEMARANG, MettaNEWS  – Berawal dari sekadar ikut-ikutan teman bermain sepak takraw saat duduk di bangku sekolah dasar (SD), Dela Agustina Ramadani kini menjelma menjadi atlet berprestasi. Atlet asal Kabupaten Jepara itu sukses membawa pulang tiga medali emas pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026.

Prestasi tersebut diraih Dela setelah menjalani proses panjang pembinaan olahraga di Sekolah Menengah Atas Negeri Keberbakatan Olahraga (SMANKO) Jawa Tengah. Di sekolah khusus atlet pelajar itu, ia menjalani rutinitas latihan dua kali sehari, disiplin kehidupan asrama, sekaligus tetap mengikuti pendidikan formal.

“Dulu iseng-iseng ikut teman waktu SD, terus alhamdulillah ketagihan sampai sekarang,” kata Dela, Rabu (28/10/2026).

Ketertarikan yang awalnya hanya untuk mengisi waktu bersama teman perlahan berkembang menjadi keseriusan. Sepak takraw kini menjadi olahraga yang terus ditekuni Dela hingga mengantarkannya tampil di kompetisi tingkat provinsi.

Perjalanan itu berlanjut ketika ia menempuh pendidikan di SMANKO Jawa Tengah. Sekolah tersebut merupakan program khusus milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang diresmikan Gubernur Ahmad Luthfi pada 19 Mei 2025.

Melalui program ini, Pemprov Jateng berupaya mengintegrasikan pendidikan formal tingkat SMA dengan pembinaan dan pemusatan latihan atlet. Program tersebut terhubung dengan Balai PPLOP/PPOP Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Jawa Tengah yang membina atlet dari 24 cabang olahraga, antara lain tinju, atletik, gulat, pencak silat, panahan, voli, dan sepak takraw.

Bagi Dela, kesempatan bersekolah di SMANKO membuatnya bisa mengembangkan kemampuan olahraga tanpa meninggalkan pendidikan.

Latihan Dua Kali Sehari, Disiplin Jadi Kunci

Hari-hari Dela di SMANKO dimulai sejak pukul 05.00. Ia langsung mengikuti latihan pagi hingga sekitar pukul 07.00. Setelah itu, ia kembali ke asrama untuk sarapan, mandi, dan bersiap mengikuti pelajaran.

Kegiatan belajar di sekolah berlangsung hingga sekitar pukul 12.30. Usai makan siang dan beristirahat, Dela kembali menjalani latihan sore mulai pukul 15.30 hingga menjelang magrib.

Setelah latihan, aktivitasnya belum selesai. Ia masih harus membersihkan diri, makan malam, dan mengikuti apel malam sebelum beristirahat untuk mempersiapkan diri menghadapi rutinitas keesokan harinya.

Jadwal yang padat tersebut menjadi bagian dari kehidupan atlet pelajar. Mereka dituntut terus mengasah kemampuan olahraga sekaligus memenuhi tanggung jawab akademik.

“Jadi, setiap hari kita juga ada latihan khusus buat meningkatkan kemampuan kita, selain sekolah,” ujarnya.

Kedisiplinan itu menjadi salah satu bekal Dela menghadapi persaingan di Porprov Jateng 2026. Mewakili Kabupaten Jepara, ia berhasil menyabet tiga medali emas dari tiga nomor yang diikutinya, yakni tim regu, tim dobel, dan inter regu.

Dela, yang berasal dari Desa Kalipucang Kulon, Kecamatan Welahan, Jepara, mengakui persaingan dalam ajang tersebut tidak mudah. Kabupaten Kendal menjadi salah satu lawan terberat yang harus dihadapinya.

Dalam sepak takraw, kemampuan individu saja tidak cukup untuk menentukan kemenangan. Koordinasi, kekompakan, semangat bertanding, dan sportivitas menjadi faktor penting agar setiap pemain dapat bekerja sama secara efektif.

Dela juga merasakan pentingnya dukungan pelatih dalam menjaga kepercayaan diri, terutama ketika menghadapi pertandingan yang menuntut konsentrasi dan ketenangan.

“Dari kemampuan, kekompakan juga harus semangat. Motivasi dari pelatih-pelatih sini sangat membantu. Tetap jadi diri sendiri di lapangan, jangan mudah goyah, tetap yakin sama diri sendiri,” tuturnya.

SMANKO Jadi Ruang Pembinaan Atlet Pelajar

Kisah Dela menjadi gambaran bagaimana pembinaan olahraga dapat berjalan beriringan dengan pendidikan formal. Namun, melahirkan atlet berprestasi membutuhkan lebih dari sekadar fasilitas latihan. Seleksi, pendampingan pelatih, kedisiplinan, dan kesempatan mengikuti kompetisi juga menjadi bagian penting dalam proses pembinaan.

Kepala Seksi Kepelatihan Balai PPLOP/PPOP Jawa Tengah pada Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah, Anastasia Rita Eny Wijayanti, menjelaskan, siswa SMANKO direkrut melalui proses seleksi dengan mempertimbangkan potensi dan prestasi olahraga.

“Anak-anak yang mengikuti seleksi, dilaksanakan oleh Balai PPLOP. Kita mencari anak-anak yang memang punya prestasi olahraga,” kata Rita.

Menurut dia, siswa SMANKO mendapatkan fasilitas pendidikan dan asrama, uang saku, serta kesempatan menjalani latihan rutin pada pagi dan sore hari. Pembinaan prestasi atlet dilakukan melalui Balai PPLOP/PPOP Jawa Tengah.

Program tersebut mencakup 24 cabang olahraga. Sejumlah cabang olahraga yang dibina, termasuk sepak takraw, telah mencatatkan prestasi hingga tingkat internasional.

Rita menambahkan, kualitas pelatih menjadi salah satu perhatian utama dalam pembinaan atlet. Pelatih dipilih berdasarkan kompetensi dan rekam jejak prestasi, dengan persyaratan sertifikasi minimal tingkat nasional.

“Kami memilih benar-benar pelatih yang andalan Jawa Tengah. Kami membina mereka untuk berprestasi,” ujarnya.

Tiga Emas Jadi Modal Menuju Prestasi Lebih Tinggi

Bagi Dela, tiga medali emas Porprov Jateng 2026 menjadi buah dari perjalanan panjang yang bermula dari kegiatan sederhana bersama teman-temannya. Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana ketertarikan sejak usia sekolah dapat berkembang menjadi prestasi ketika didukung latihan konsisten, kesempatan, dan pendampingan yang tepat.

Keberhasilan itu juga menjadi bagian dari upaya Jawa Tengah menyiapkan atlet pelajar agar mampu bersaing di level yang lebih tinggi. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi prestasi dan membuka jalan bagi para atlet muda untuk tampil di kejuaraan yang lebih luas.

Rita menegaskan, pembinaan atlet di Jawa Tengah diarahkan untuk terus menghasilkan prestasi terbaik.

“Yang jelas harapan kita tetap satu kata, Jawa Tengah juara. Jadi prestasi harus tetap nomor satu,” pungkasnya.