Digitalisasi UMKM Ekraf Fesyen Makin Lengkap Didukung Atraksi Wisata

oleh
oleh
Salah satu peserta pelatihan memajang karyanya | MettaNEWS / Puspita

SOLO, MettaNEWS – Badan Pelaksana Otorita Borobudur menutup kegiatan peningkatan kapasitas usaha ekonomi kreatif (ekraf) fesyen yang diadakan di Girilayu, Karanganyar dan Sangiran, Sragen.

Penutupan Kegiatan Peningkatan Kapasitas Usaha Ekonomi Kreatif Fesyen di Kawasan Pariwisata Borobudur (Destinasi Pariwisata Nasional Solo-Sangiran dan sekitarnya) dengan tema “ARGA PRAGA” diselenggarakan di Haris Hotel Solo, Kamis (17/11/2022).

Sejalan dengan arahan Menparekraf  Baparekraf RI, Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf / Naparekraf RI Oneng Setya Harini menyampaikan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam hal ini BPOB menginisiasi kegiatan berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal ini Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Sragen, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar, Dinas Koperasi, UKM,
Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sragen, Dinas Perdagangan Tenaga Kerja Koperasi, UKM Kabupaten Karanganyar, dan stakeholder pariwisata dan ekonomi kreatif terkait.

“Inovasi, kolaborasi dan adaptasi, serta gercep, geber dan gaspol merupakan solusi kebangkitan pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata Oneng Satya.

Pelatihan berlangsung selama 105 hari dengan bimbingan pada pelaku ekraf fesyen khususnya pengrajin batik di sana untuk lebih kreatif dan inovatif.

“Tidak hanya dari segi desain, produk, sampai pemasaran batik. Harapannya, selain meningkatkan kualitas ekonomi, pendampingan dalam mengembangkan atraksi kerajinan bisa menjadi salah satu cara untuk memperpanjang length of stay wisata. Jadi wisatawan punya eksperient lebih tidak sekedar belanja,” ungkapnya.

Plh. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Borobudur Agustin Peranginangin menjelaskan, saat ini digitalisasi pemasaran sangat dibutuhkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

“Dan digitalisasi ini sudah dinikmati pengrajin secara langsung. Lewat digitalisasi mereka tidak menunggu tapi aktif memasarkan terlebih untuk tempat yang belum ramai diketahui padahal produknya sangat bagus,” jelas Agus.

Agustin Peranginangin mengatakan masih terdapat beberapa kendala dalam peningkatan kapasitas UMKM salah satunya adalah masalah pakem desain yang harus dipakai, serta sulit berinovasi Namun hal tersebut dapat dikomunikasikan dengan baik.

“Setelah kegiatan ini kami akan terus monitor apakah benar terjadi peningkatan kapasitas. Kalau belum sesuai yang kami targetkan seperti jalannya flat ya kita akan evaluasi bersama, salahnya atau kendalanya di bagian mana,” jelasnya.

Peningkatan kapasitas UMKM ini diikuti sebanyak 57 peserta. Awalnya tercatat ada 70 pengrajin batik namun setelah melalui seleksi hanya 57 pengrajin yang bertahan dan mengikuti pendampingan sampai selesai.

Dalam pelatihan ini, BPOB juga mengembangkan Motif Batik “Sekar Puren” yang dibuat oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, kemudian diproduksi oleh Rumah Batik Sekar Tandjung menjadi produk fesyen “kain batik Sekar Puren” dan berbagai bentuk souvenir batik Sangiran yang bernilai ekonomis karena sarat seni dan budaya melalui storytelling yang dimilikinya.