SOLO, MettaNEWS – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melantik dua guru besar baru dalam upacara pengukuhan yang digelar di Auditorium Moh. Djazman, Kampus I UMS, Rabu (29/4/2026). Dengan penambahan tersebut, kini UMS tercatat memiliki total 72 guru besar.
Dua akademisi yang dikukuhkan yakni Prof. Kussudyarsana, S.E., M.Si., Ph.D., sebagai guru besar di bidang manajemen strategi kewirausahaan dan tata kelola perusahaan keluarga dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Prof. Arum Pratiwi, S.Kp., M.Kes., Ph.D., sebagai guru besar di bidang ilmu keperawatan jiwa dari Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK).
Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan apresiasi atas pengukuhan tersebut. Ia menilai, bertambahnya guru besar akan semakin memperkuat kualitas perguruan tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA), termasuk UMS yang telah terakreditasi unggul dan berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.
“Kami berharap penambahan guru besar ini semakin meningkatkan kualitas catur dharma PTMA,” terang Haedar.
Ia menegaskan bahwa peran dosen dan guru besar tidak hanya sebatas pengembangan keilmuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk karakter, serta melahirkan generasi yang religius, berakhlak mulia, dan unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi.
“Para guru besar harus terus meningkatkan pengabdian, peran, dan tanggung jawabnya untuk mendidik generasi bangsa menjadi insan yang berkualitas utuh,” tambahnya.
Sementara itu, Dewan Pakar Majelis Diktilitbang Muhammadiyah, Chairil Anwar, mengungkapkan bahwa jumlah guru besar di Indonesia saat ini berkisar 12.000 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 478 guru besar berasal dari lingkungan PTMA.
Ia juga memaparkan bahwa di Jawa Tengah terdapat 96 guru besar PTMA, dengan 63 di antaranya berasal dari UMS dan masih aktif.
“Artinya, sekitar 66 persen guru besar PTMA di Jawa Tengah berasal dari UMS,” jelasnya.
Rektor UMS, Harun Joko Prayitno, menekankan bahwa penambahan guru besar ini menjadi bagian penting dalam transformasi kampus. Ia mendorong agar para guru besar tidak berhenti pada riset akademik semata, melainkan menghasilkan penelitian yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Terus lakukan inovasi dan riset berkelanjutan. Bukan hanya paper-based, tetapi riset yang berkontribusi nyata dan membumi bagi masyarakat,” tegas Harun.
Dengan pengukuhan ini, UMS semakin memperkuat peran strategisnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat melalui riset yang berkelanjutan dan aplikatif.








