1.700 Penari Meriahkan Solo Menari 2026, Kolosal “Aku Kipas” Tegaskan Solo sebagai Kota Budaya

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS— Pelataran Plaza Balai Kota Surakarta berubah menjadi panggung raksasa pada Rabu (29/4/2026) sore, saat sekitar 1.700 penari dari berbagai sanggar, sekolah, dan komunitas tampil serempak dalam gelaran Solo Menari 2026.

Perayaan Hari Tari Dunia ini tak hanya berlangsung meriah, tetapi juga sarat makna kebersamaan dan kolaborasi lintas generasi.

Pagelaran tahunan tersebut mengusung tema “Aku Kipas”, yang merepresentasikan harmoni, keindahan, sekaligus kekuatan ekspresi seni tari. Ribuan penari kipas tampil dalam satu tarian kolosal, memperlihatkan kekompakan dari pelajar hingga komunitas seni yang menjadi denyut nadi kebudayaan Kota Solo.

Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, menyampaikan bahwa tingginya partisipasi masyarakat menjadi bukti kuatnya semangat kolektif dalam merawat seni budaya.

“Alhamdulillah terselenggara dengan sangat meriah. Lebih dari 1.500, bahkan tercatat 1.700 penari hadir dan menari bersama di depan Balai Kota. Ini menjadi kebanggaan karena seluruh unsur bersatu dalam satu wadah festival,” tutur Astrid.

Dalam sambutan Wali Kota yang dibacakan Astrid, ditegaskan bahwa Solo Menari bukan sekadar ruang pertunjukan, melainkan juga wadah pembelajaran dan kolaborasi antar pelaku seni.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Pemerintah Kota Surakarta dalam menjaga eksistensi seni tari sebagai identitas kota.

Antusiasme masyarakat juga terlihat dari berbagai rangkaian kegiatan pendukung, seperti sarasehan yang diikuti sekitar 30 sanggar tari. Secara keseluruhan, sekitar 70 sanggar di Surakarta turut ambil bagian dalam Solo Menari 2026.

Astrid menilai, euforia masyarakat terhadap acara ini mencerminkan semakin kuatnya posisi Surakarta sebagai kota budaya. Tema “Aku Kipas” pun dinilai mengandung filosofi mendalam tentang fleksibilitas dalam menghadapi perbedaan serta pentingnya menjaga keseimbangan antara tindakan dan nurani.

“Kita ingin menunjukkan bahwa seni tari tidak hanya soal gerak, tetapi juga filosofi kehidupan—bagaimana kita bisa fleksibel terhadap perbedaan dan menjaga keseimbangan,” katanya.

Keterlibatan berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan, pertunjukan tari selama 24 jam, hingga partisipasi penyandang disabilitas, menjadi penanda bahwa seni tari di Solo tumbuh secara inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Tak hanya meriah, Solo Menari 2026 juga mencatatkan capaian prestisius. Pemerintah Kota Surakarta menerima piagam dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia atas penyelenggaraan Rekor Dunia Tari Kolosal “Aku Kipas” dengan 1.500 penari kipas.

Selain itu, apresiasi juga diberikan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia melalui Piagam Kharisma Event Nusantara (KEN), yang menegaskan kualitas Solo Menari sebagai event budaya berdaya ungkit pariwisata dan ekonomi kreatif.

Bagi Pemerintah Kota Surakarta, Solo Menari bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari strategi pembangunan berbasis budaya. Selain menguatkan karakter kota, kegiatan ini juga berperan dalam menggerakkan ekonomi dan mempererat kohesi sosial masyarakat.

Melalui panggung tari yang terbuka bagi semua kalangan, Solo kembali menegaskan jati dirinya sebagai kota budaya yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga merawatnya agar tetap hidup, inklusif, dan relevan di tengah perubahan zaman.