SOLO, MettaNEWS – Pagi masih gelap ketika ratusan relawan mulai berdatangan ke kawasan Benteng Vastenburg, Solo. Jam menunjukkan sekitar pukul 04.30 WIB. Namun semangat mereka sudah menyala. Di tangan-tangan itulah ribuan paket bantuan Lebaran dirangkai, dipersiapkan untuk dibagikan kepada masyarakat.
Di balik aktivitas itu, ada sebuah perjalanan panjang yang tak banyak diketahui orang. Sebuah gerakan sosial yang lahir dari kesederhanaan niat: melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Gerakan itu kini dikenal sebagai Solo Bersama Selamanya (SBS).
Tahun ini, SBS genap berusia 20 tahun.
Koordinator SBS, Gareng S. Haryanto, mengenang perjalanan panjang tersebut dengan penuh rasa syukur. Ia mengingat bagaimana gerakan ini bertumbuh dari tahun ke tahun.
“Kalau saya flashback, dari tahun ke-0 sampai 5 tahun awal, kami sudah mengurusi pembagian hingga 10.000 paket. Selama perjalanan itu hanya sekali turun, yaitu saat pandemi Covid-19,” ujarnya.
Dalam perjalanan waktu, SBS tidak berjalan sendiri. Dukungan datang dari berbagai unsur masyarakat. Gareng menjelaskan bahwa kolaborasi dilakukan melalui konsep empat pilar, yang menyatukan berbagai elemen kota.
“Waktu pandemi kami bekerja sama dengan kecamatan-kecamatan. Lalu kami bagi empat pilar, dari unsur organisasi agama, politik, juga perbankan. Kami ambil dari organisasi pengusaha seperti Kadin, PHRI, PMS, kemudian dari umat Nasrani dan kelompok Tionghoa,” jelasnya.
Tak hanya itu, dukungan juga datang dari sektor perbankan. Bank Indonesia menjadi salah satu pihak yang terus mendukung sejak awal.
“Dari Bank Indonesia mulai Pak Doni sampai sekarang Pak Anto terus mendukung. Lalu untuk pengajian-pengajian di Kota Surakarta juga kami kumpulkan supaya semuanya bersatu dengan baik,” katanya.
Seiring waktu, jaringan donatur terus bertambah. Kini bahkan hadir lembaga baru seperti OJK serta berbagai perusahaan dan pengusaha yang ikut bergotong royong.
Dari dukungan itu, jumlah paket bantuan tahun ini mencapai lebih dari 11.000 paket.
Di balik keberhasilan tersebut, ada peran ratusan relawan yang bekerja tanpa lelah. Salah satunya berasal dari PMI Kota Surakarta.
Koordinator SBS lainnya, Sumartono Hadinoto, mengatakan PMI selalu menjadi bagian penting dalam proses distribusi bantuan.
“Hari ini PMI Kota Surakarta membantu dengan mengirimkan sekitar 300 relawan sejak pukul 04.30 pagi untuk membuat packing paket yang akan dibagikan hari ini,” tutur Ketua Umum PMI Surakarta ini.
Menurut Sumartono, jumlah paket tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Total paketnya lebih dari 11.000 karena ada beberapa tambahan dari institusi. Tahun lalu totalnya 10.000 paket,” jelas Ketua Umum PMS ini.
Selama dua dekade, kegiatan ini hampir tak pernah berhenti.
“Selama 20 tahun ini tidak pernah berhenti. Hanya sekali saat Covid. Selain itu selalu berjalan, bahkan jumlahnya selalu di atas 10.000 paket,” katanya.
Bagi Sumartono, keberlanjutan kegiatan ini menjadi bukti kuat tentang karakter masyarakat Solo yang menjunjung kebersamaan.
“Ini sesuai dengan tagline kita: Solo Guyub Sak Lawase. Solo Bersama Selamanya sudah 20 tahun menjadi bukti bahwa wong Solo selalu siap berbagi dan melayani sesama,” ungkapnya.
Ia juga mengenang bagaimana semuanya bermula dari sebuah pertemuan sederhana dua dekade lalu.
“Waktu itu keadaan lagi sulit. Sekitar 20 tahun lalu kami berkumpul ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat Solo,” kenangnya.
Beberapa tokoh hadir dalam pertemuan itu, di antaranya almarhum Priyo Hadi Sutanto, Ahmad Purnomo, Bu Danar, Susanto yang saat itu menjadi Ketua PMI, serta beberapa tokoh lain termasuk Gareng.
Dari diskusi sederhana itu lahirlah gagasan untuk berbagi menjelang Lebaran.
Bagi para penggagasnya, SBS bukan sekadar kegiatan sosial tahunan. Ia menjadi simbol kebersamaan warga Kota Solo.
Apalagi kota ini dikenal dengan keberagaman budaya dan agama yang hidup berdampingan.
Sumartono menilai keberagaman tersebut justru menjadi kekuatan.
“Semua religi yang ada di Solo bisa merayakan hari besar bersama. Mulai Natal, Imlek, Ramadan, nanti Waisak dan lainnya. Ini menunjukkan kebhinekaan di Kota Solo semakin luar biasa,” ujarnya.
Keberagaman ini juga tercermin dari para donatur yang ikut nyengkuyung. Seperti Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) yang selalu mensuport SBS sejak tahun pertama dilaksanakan.
“PMS selalu mendukung dengan 2500 paket sembako. Yang mana sembako ini merupakan donasi dari pengusaha-pengusaha yang tergabung di PMS,” jelasnya.
Karena itu, menurutnya, semangat saling menghormati harus terus dijaga.
“Kita harus saling membantu, saling menghormati dan saling menikmati hari raya yang ada di Indonesia, khususnya di Kota Solo,” katanya.
Memasuki usia ke-20, SBS juga mulai memikirkan masa depan gerakan ini.
Para tokohnya menyadari usia mereka tidak lagi muda.
Karena itu, regenerasi menjadi harapan besar agar semangat berbagi ini terus hidup.
“Harapan kami yang ke-20 ini menjadi awal dimulainya regenerasi. Kami merasa para tokoh SBS sudah mulai lanjut usia, bahkan sudah ada dua yang dipanggil Tuhan,” kata Sumartono.
Ia berharap generasi muda Solo dapat melanjutkan gerakan sosial yang telah dirintis selama dua dekade tersebut.
“Kami berharap nanti generasi muda bisa mengambil alih semua kegiatan sosial yang ada di Solo ini,” ujarnya.
Namun yang menarik, SBS sebenarnya tidak dirancang menjadi gerakan jangka panjang. Semuanya justru terjadi secara spontan.
Pembina SBS, Dr. H. Ahmad Purnomo, mengingat jelas momen tersebut.
“Tepatnya tahun 2006 beberapa pengusaha mengadakan kegiatan seperti ini, mengumpulkan bantuan untuk diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Setelah kegiatan selesai, panitia berkumpul untuk membubarkan kepanitiaan.
Namun suasana saat itu justru berubah menjadi momen yang mengharukan.
“Ketika kami berkumpul untuk pembubaran panitia, semuanya keberatan. Kegiatan yang sangat baik ini menyentuh hati kebersamaan yang luar biasa. Akhirnya panitia tidak dibubarkan,” kenang Purnomo.
Dari situlah nama Solo Bersama Selamanya lahir secara spontan.
“Namanya dibentuk spontanitas: Solo Bersama Selamanya. Dan alhamdulillah sekarang sudah tahun ke-20,” ungkapnya.
Sejak saat itu, kegiatan berbagi kepada masyarakat terus dilakukan setiap tahun tanpa henti.
“Setiap tahun kegiatan kebersamaan untuk menyumbang kepada masyarakat selalu terselenggara dengan baik. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua donatur dan pengusaha yang terlibat dalam kegiatan mulia ini,” kata Purnomo.
Dua puluh tahun sudah Solo Bersama Selamanya berjalan. Dari niat kecil di masa sulit, kini ia menjadi gerakan besar yang melibatkan ribuan orang dan menyentuh puluhan ribu masyarakat.
Dan seperti namanya, harapan para penggagasnya sederhana: kebersamaan itu terus hidup—selamanya.







