JAKARTA, MettaNEWS – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebut perkiraan ada 123 juta pemudik di Lebaran tahun ini. Jumlah ini naik 47 persen dari tahun sebelumnya. Untuk memecah kepadatan penggunaan jalan raya, Menhub bersama Kapolri mengusulkan cuti bersama Lebaran mulai tanggal 19 – 26 April. Berarti maju dua hari dari keputusan 3 menteri yakni mulai tanggal 21 – 26 April.
“Sudah kami usulkan kepada Presiden dalam rapat hari ini. Tinggal nanti kami akan berkoordinasi dengan tiga menteri yang menerbitkan keputusan cuti bersama Lebaran, yakni Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Menteri Tenaga Kerja,” ujarnya dalam jumpa pers, Jumat (24/3/2023).
Budi Karya Sumadi menyebut, ada sejumlah data yang menyertai kenaikan jumlah pemudik. Di antaranya, 22 persen akan menggunakan mobil. Sedangkan 20 persen lainnya menggunakan sepeda motor.
Dengan kenaikan yang signifikan, Menhub menyebut pemerintah perlu melakukan berbagai pengaturan agar mudik berlangsung aman dan lancar. Di antaranya, mengimbau agar pemudik tidak menggunakan sepeda motor. Selain rawan kecelakaan, juga potensial menyebabkan kemacetan.
“Kami menggunakan sejumlah cara. Ada mudik gratis, Kemenhub mengerahkan 500 bus. Juga kapal dari Jakarta-Semarang. Jadi kalau naik motor tujuan Jawa Tengah, sudah menghemat jarak. Tinggal dari Semarang meneruskan ke Klaten, Salatiga dan sebagainya. Selain itu kami mengimbau kementerian lain, swasta juga mengadakan mudik gratis. Misalnya pabrik-pabrik di Karawang, bikin program mudik supaya karyawannya tidak naik motor,” ujarnya.
Cuti Bersama Lebaran, Pengusaha Diimbau Berikan THR Lebih Awal
Pemajuan cuti bersama Lebaran, menurut Budi Karya Sumadi merupakan cara untuk memecah kepadatan arus. Sehingga pemudik tidak menumpuk di tanggal 21, namun bisa terbagi dalam beberapa hari lebih awal menjelang Idul Fitri.
Dengan wacana pemajuan waktu libur bersama, Menhub mengimbau agar perusahaan memberikan Tunjangan Hari Raya juga lebih awal. Paling lambat sebelum tanggal 18 sudah memberikan tunjangan, sehingga pekerja bisa mudik lebih awal.
Dengan pengaturan yang cermat, Menhub mengakui masih ada dua titik rawan macet, yakni di tol Cipali dan di sekitar Merak. Berbagai rekayasa akan dilakukan seperti contraflow, pembatasan kendaraan angkutan barang, hingga ganjil genap.
“Kita tahu Cipali itu dari Jakarta 4 jalur, kemudian setelah kilometer 66 menyempit jadi 2 jalur. Di situlah kita harus melakukan rekayasa. Meski untuk ganjil genap, ini perlu diskusi lebih jauh untuk pelaksanaannya,” ujarnya.
Sedangkan di Merak, pemerintah masih berupaya menambah pelabuhan yang bisa digunakan untuk mudik. Juga menerapkan sistem tiket online yang memudahkan pemudik dan memperlancar arus.







