Cuaca Buruk Saat Ramadan, Penjualan Kolang-kaling Pasar Legi Anjlok hingga 4 Ton

oleh
Kolang-kaling
Arif (33) penjual kolang-kaling Pasar Legi Solo mengaku penjualannya turun saat Ramadan berjalan satu pekan lebih, Senin (3/4/2023) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Beberapa pedagang kolang-kaling di pasar Solo mengeluhkan sepinya penjualan di bulan suci Ramadan. Tidak seperti tahun lalu, penjualan kolang-kaling tahun ini terasa lebih sedikit.

Hal ini dirasakan Arif Ansori (33) penjual kolang-kaling di lantai dasar Pasar Legi Solo. Arif menyebut cuaca buruk membuat penjualannya turun drastis 2 hingga 4 ton.

“Penjualan kolang kaling dari pertama sebelum puasa kemarin lancar. Tapi kendala kalau sudah masuk puasa agak berkurang karena cuaca, hujan terus, penjualannya susah,” ujar Arif kepada MettaNEWS, Senin (3/4/2023).

Cuaca buruk membuat langganan pedagang takjil Arif memilih mengurangi pembelian hingga tidak berjualan.

“Kalau untuk turun sekitar 30 pesanan dari awal puasa kemarin. Ya kan ini cuaca nggak mendukung penjualannya di pasar kecil jual takjil susah. Kalau normal sebelum puasa sampai minimal 3 ton 5 ton satu rit lah ya, kalau hari puasa begini minimal 1 ton. Sepi itu,” terang dia.

Arif mengaku penjualan kolang-kaling justru lebih tinggi saat awal puasa. Dalam sehari ia bisa menjual 3-5 ton. Kini ia hanya bisa menjual 1 ton. Selisih 2-4 ton.

“Awal puasa kemarin lumayan banyak sehari 3 sampai 5 ton, sama kaya tahun lalu. Menuju pertengahan biasanya gitu,” ujar dia.

Selain cuaca, banyaknya pemasok kolang-kaling dari luar Pasar Legi menjadi faktor turunnya penjualan. Tak sedikit pedagang yang kemudian beralih ke pemasok lain.

“Kendalanya di sini kan grosir kalau dari kecil-kecilan ada pemasok orang luar nganter pemasok yang kecil tengkulak itu, cuaca pengaruh besar itu,” terang dia.

Arif menjual 3 jenis buah yang satu ini dari luar kota dengan bentuk yang berbeda-beda.

“Sini kolang-kaling ada 3 jenis dari Medan, lokal Garut sama Tasik sama Bengkulu. Kalau Medan agak gepeng tebal lebar, lokal gepeng agak kecil, Bengkulu bulat tapi gede,” jelas Arif.

“Yang paling pembeli minati tergantung rata-rata yang Medan di Pasar Gede, kalau buat penjual sayur ngecer ambil lokal,” imbuhnya.

Harga Kolang-kaling Turun Setelah Lebaran

Kolang-kaling tempatnya seharga Rp 13 ribu hingga Rp 16 ribu per kilogramnya. Harga tersebut diprediksi turun setelah bulan puasa.

“Stabil biasa awal puasa, kalau untuk Medan Rp 15 ribu Rp 16 ribu, lokal Rp 13 ribu, Bengkulu sama gepeng sama saja Rp 13 ribu.
Sekarang sepi karena hujan. Jadi harga stabil mungkin setelah puasa yang biasanya Rp 13 ribu jadi Rp 10 ribu,” ujarnya.

Begitupun saat Lebaran, permintaan kolang-kaling ia rasa tak begitu banyak.

“Standar tahun ini kendalanya cuaca. Ini tahan satu bulan. Tapi biasanya seminggu stoknya sudah habis,” kata Arif.

Senada dengan Arif. Penjual kolang-kaling Tentrem (62) juga mengaku penjualannya sepi. Meski menjadi buah incaran saat Ramadan tiba, sayangnya peminat kolang-kaling tahun ini tak seberapa.

“Kolang-kaling itu ncaran masyarakat tapi Ramadan ini rada sepi. Per hari terjualnya 15 kilogram,” kata Tentrem.

Tentrem menjual kolang-kaling lebih murah ketimbang Arif. Namun tetap saja penjualan kolang-kaling miliknya sedikit.

“Harganya Rp 12 ribu per kilogram, dari Tasikmalaya, sudah disetori. Ya gimana coba sudah jam segini sehari 15 kilo. Kalau nggak habis ya dijual lagi, kalau baru tahan satu bulan,” terangnya.

Minimnya penghasilan selama ia berjualan dari jam 08.00-16.00, membuat Tentrem tidak berani stok banyak. Terlebih kolang-kaling hanya bisa bertahan 1 bulan.

“Kalau stok ya nggak berani stok lama, paling 2 minggu sudah lama, ambil sedikit nggak berani banyak. Biasanya yang beli ada yang jual lagi kaya es, ada rumah tangga juga, 1 kg 5 kg.
Ambilnya dari Jogja, Solo yang produksi Parangjoro, saya telfon disetori,” tukasnya.