Cerita di Balik Banyaknya Bangunan Rumah Megah yang Tumbuh di Sekitar Waduk Pidekso

oleh
Waduk Pidekso
Waduk Pidekso di Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri | MettaNEWS / Adinda Wardani

WONOGIRI, MettaNEWS – Belum genap satu tahun Waduk Pidekso di Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Berbeda saat waduk ini masih baru beroperasi pada Desember 2021, kini banyak hal yang telah berubah. Dulu banyak warung semi permanen yang berjajar di sekitar waduk.

Warung ini menjajakan beragam makanan bagi para pengunjung yang dahulunya terus berdatangan untuk pelesiran ke Waduk Pidekso. Tak ayal Waduk Pidekso memang memiliki keindahan yang mampu memikat pengunjung dari segala penjuru.

Dikelilingi bukit hijau nan asri Waduk Pidekso bak pulau kecil yang ditimang keindahan tiada tara. Pemandangan matahari terbit maupun tenggelam juga tak kalah menawannya. Barangkali inilah yang menjadikan Waduk Pidekso menarik.

Berjarak sekitar 52 kilometer dari pusat Kabupaten Wonogiri, Waduk Pidekso dapat ditempuh dengan waktu kurang-lebih 1,5 jam. Memiliki fasilitas megah seperti menara pandang, masjid besar Baitul Muttaqien, dan beberapa rumah limasan modern, pengunjung menjadikannya sebagai destinasi wisata.

Namun kini warung di sekitar Waduk Pidekso telah surut kejayaannya. Salah satunya warung makan milik Sri Atun (45). Dulunya ia mampu meraup penghasilan hingga Rp 800.000 dalam sehari.

“Dulu pas pertama ramai, tapi makin kesini jadi sepi. Banyak yang nongkrong dari luar pada main ya pendatang. Di awal dampak ke ekonominya lumayan tapi akhir-akhir ini agak berkurang, penghasilannya nggak banyak,” kata Atun.

Baginya Waduk Pidekso berangsur sepi dari pengunjung. Ada ratusan pedagang yang akhirnya kembali menjadi petani dan berdagang di pasar.

“Sekarang warga memilih menanam sayur-sayuran kaya cabai, kangskung, sawi buat dijual ke pasar. Nanemnya ya di sekitar waduk ini kan ada sedikit lahan kami manfaatkan karena sayang juga. Ini juga dulunya ada rumah saya,” katanya.

Sri juga merupakan warga yang rumahnya digusur untuk menjadi Waduk Pidekso. Dahulunya ia tinggal di Dusun Nglangkehan, Desa Pidekso yang kini telah menjadi genangan air waduk. Terkadang saat air surut puing-puing seperti genteng rumahnya masih terlihat.

“Awalnya banyak sawah juga di sini kalau sekarang karena sudah jadi waduk ya nggak ada lahan tani. Sekarang lokasi sawahnya di atas airnya nggak dari waduk juga, pada bikin sumur sendiri. Kebanyakan di sini petani palawija,” terangnya.

Pembangunan Waduk Pidekso mengahruskan adanya pembebasan lahan. Kehadiran waduk di tengah pedesaan yang jauh dari perkotaan itu akhirnya mampu menyulap ratusan rumah warga yang ada.

Dahulunya banyak rumah yang berbahan anyaman bambu maupun limasan Jawa kuno. Kini ratusan rumah warga tersebut menjadi bangunan tembok yang megah.

“Rumahnya jadi bagus tapi mau cari makan yang susah. Dulu ada ganti rugi juga dari pemerintah kalau besarannya saya nggak boleh sebutin berapa. Saya dulu punya sawah sedikit juga, ya dapat ganti sedikit buat bangun rumah,” terangnya.

Sementara itu, Sudarni (54) memanfaatkan uang pembebesan lahan yang ia terima untuk membangun rumah dua lantai, membeli mobil dan ternak lele.

“Ini buat bangun rumah yang lebih baik, dulu juga ternak kambing ini punya 8. Dampaknya kalau saya malah ke jalan yang lebih jauh kalau mau ke kota. Karena pada pindah jadi di sini sepi,” katanya.

Bedhol desa terjadi di tahun 2018 silam itu membuat sebagain warga memilih untuk meninggalkan Desa Pidekso dan membeli lahan di wilayah lain. Kini ia pun kehilangan sebagain tetangganya.

“Kami mengikuti saja pas dipindah kesini, sekarang warga juga kembali garap sawahnya, kan pas ramai waduknya itu kami sempat berdagang sekarang sudah tidak,” tutupnya.