Berdayakan  6 Ribu Perajin Rotan, LPEI dan Bea Cukai Resmikan Desa Devisa Rotan Sukoharjo

oleh
oleh

JAKARTA, MettaNEWS – Jumlah Desa Devisa di Indonesia terus bertambah. Belum lama ini, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dan Indonesia Development Design Center (IDDC) Kementerian Perdagangan, serta pemerintah daerah meluncurkan Desa Desa Devisa Rotan Sukoharjo.

Desa yang terletak dekat dengan Kota Solo ini memiliki potensi dan keunikan dari hasil kerajinan rotan. Usaha ini telah menghidupi mayoritas warga desa selama 96 tahun.

Sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan Indonesia, LPEI memiliki fungsi untuk mendorong pertumbuhan ekspor nasional. Melalui penyediaan pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan jasa konsultansi ekspor.

Desa Devisa merupakan salah satu program unggulan melalui Jasa Konsultasi LPEI atau Indonesia Eximbank. Desa Devisa ini bertujuan memberdayakan UKM berbasis pengembangan komunitas.

Irwan Prasetiyawan, Kepala Kantor Cabang LPEI Surakarta, menjelaskan Desa Devisa Rotan Sukoharjo menjadi Desa Devisa ke-195 yang didampingi oleh LPEI.

“LPEI melakukan pendampingan di Desa Devisa Rotan Sukoharjo. Dengan menyasar setidaknya 30 UKM kerajinan rotan. Kegiatan ini mencakup beberapa materi pendampingan terkait perizinan, prosedur dan dokumen ekspor. Serta akses pasar, hingga pengembangan desain produk kerajinan rotan,” jelas Irwan.

Para perajin di Desa Trangsan, Kabupaten Sukoharjo juga tak lepas dari berbagai tantangan dalam mengelola desa secara mandiri. Para UKM ini masih terus merasakan gejolak usaha bahkan setelah hampir 1 abad berjaya.

“Harapannya program Desa Devisa Rotan Sukoharjo bisa menjadi bahan bakar semangat dan lokomotif untuk menggerakkan UKM pengrajin rotan yang ada di Desa Trangsan. Menambah pendapatan, meningkatkan kesejahteraan, dan memajukan penjualan di skala ekspor,” tutur Irwan

Apalagi, lanjut Irwan, permintaan yang tinggi membuat para perajin kesulitan dalam hal kapasitas produksi dan pengembangan produk.

Ketua Koperasi Trangsan Manunggal Jaya Suparji menambahkan, selama ini perajin terhalang beberapa kendala.

“Kita selama ini terjebak pada pengembangan inovasi dari desain yang sudah ada. Tidak seperti perusahaan besar yang memiliki tim risetnya sendiri, para perajin memerlukan ‘pengungkit’ untuk melahirkan ide segar pengembangan produknya. Terlebih, proses pembuatan kerajinan rotan yang berkualitas butuh perhatian, waktu, dan ketelitian. Kita memerlukan pendampingan dari mentor yang bisa mengarahkan. Adanya pendampingan dari LPEI sangat kami sambut baik dengan harapan dapat membantu meningkatkan kapasitas produksi dan skala usaha pengrajin desa ke pasar global,” tutur Suparji.

Sebelumnya, Desa Trangsan telah terbukti berhasil meningkatkan kontribusinya terhadap devisa negara dari tahun ke tahun.
Kepala Seksi PKC V Bea Cukai Surakarta, Agung Setijono mengungkapkan,, Desa Trangsan menyumbang devisa lebih dari USD 3 juta di tahun 2019, USD 5,4 juta di tahun 2020, dan USD 5,7 juta di tahun 2021.

“Program Desa Devisa Rotan Sukoharjo ini dapat menjadi batu loncatan bagi Desa Trangsan untuk meningkatkan kontribusi devisanya secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Saat ini, Desa Trangsan memiliki 220 usaha perajin kayu rotan yang aktif memproduksi 150 kontainer kerajinan rotan setiap bulannya. Tak tanggung-tanggung, terdapat total 5.000 hingga 6.000 pekerja berkontribusi dalam kegiatan produksi setiap harinya dan lebih dari 60% penduduk desa adalah kelompok perajin.