SOLO, MettaNEWS – Putri PB XIII yakni GRAy Devi Lelyana Dewi menafsirkan kerugian sementara yang dialami akibat pencurian barang pribadinya Sabtu lalu berkisar Rp 150 juta. Kerugian ini belum termasuk barang-barang kuno.
“Kalau saya total barang pribadi yang hilang mungkin Rp 150 juta. Tapi kalau ditambah barang-barang kuno agak susah menafsirnya karena barang kuno nggak ada patokan harganya,” ujar Gusti Devi usai olah TKP di Keputren Keraton Surakarta, Jumat (23/12/2022).
Sebelum peristiwa naas ini terjadi, Gusti Devi mengaku berencana datang ke Keputren Keraton Surakarta untuk mengambil barang-barang pribadinya.
“Dua bulan lalu saya mau ambil barang seperti untuk diletakkan di kantor alun-alun. Sebelumnya kan nggak boleh bawa barang yang lain pas diminta keluar, sekalinya saya masuk itu dikawal karena saya perlu mengambil dokumen saya, kan saya hanya pergi membawa baju tapi dokumen saya kelupaan, ijazah dan lain lain, itupun keluar saya diperiksa tasnya, ini omah ku dewe bawa barangku sendiri diperiksa ya Allah kaya tahanan aja,” ujarnya.
Keputren atau istana tempat tinggal putri raja sejatinya merupakan lokasi yang tidak bisa dijamah oleh masyarakat umum. Tak sembarangan orang bisa masuk ke bangunan ini. Sebab Keputren hanya dapat dijamah oleh keluarga bangsawan golongan wanita.
Tak ayal, Gusti Devi sangat menyayangkan kejadian ini. Terlebih bagi dirinya yang pernah menempati Keputren.
“Saya memang nggak lama, hanya tahun 2013 sampai 2015 saya di sini. Kemudian saya keluar dari keraton ini hampir bersamaan dengan ontran-ontran Gusti Timoer diusir keluar. Saya nggak bisa barang saya sama sekali. Pada saat saya meninggalkan ini (Keputren) hanya membawa 1 koper pakaian,” bebernya.
Tahun 2017, Gusti Devi, Gusti Timoer Rumbai beserta Gusti Moeng terusir dari Keraton Surakarta. Lima tahun lamanya mereka tidak bisa masuk ke dalam keraton. Setelah ada perjanjian yang telah disepakati antara kubu Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakubuwana XIII dengan kubu Lembaga Pimpinan Adat (LDA).
Usai olah TKP dan penyelidikan selesai, Gusti Devi berencana kembali menempati Keputren bersama Gusti Timoer.
“Rencananya begitu (kembali tempati Keputren) tapi kita menunggu dulu olah TKP dan penyidikan selesai, baru saya bersihkan, meskipun saya tetap bolak balik karena saya ada bisnis di Bali nggak mungkin saya tinggal karena saya baru merintis,“ ujarnya.
Selama 7 tahun, Keputren dijaga oleh seorang abdi dalem bernama Sri Atun (53). Hingga pada saat Gusti Devi dan Gusti Timoer diusir pada 2017 lalu, Atun pun hanya tinggal seorang diri. Menunggu Keputren di sisi Keraton Wetan (Timur).
“Yang menjaga hanya Mbah Atun saja, yang boleh menunggu hanya Mbah Atun itu pun dia juga sendirian di sini, hebat beliau dan lampunya dimatikan sama pihak sana, ini lampu bisa dinyalakan setelah berhasil bisa masuk baru kita sambung lagi tadinya gelap gulita, jadi pastinya maling leluasa masuk ke sini,” terangnya.
Setelah kembali mendapat titik terang dari Keputren, Gusti Devi juga berencana untuk memperbaiki istana wanita ini sebelum ditempati.
“Saya baru rencana LDA untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan sehingga layak tinggal lagi, karena kalau dilihat kondisinya semua trocoh (bocor) kamar saja trocoh, itu kan nggak bisa ditinggali, baru nanti kalau ini semua sudah selesai baru kita bersihkan semua, nanti baru Gusti Timoer pindah kesini lagi,” tukasnya.







