Bahaya, 59 Persen Anak Mulai Merokok Sebelum Usia 12 Tahun

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS.- Memprihatinkan, hasil riset Yayasan KAKAK pada tahun 2022, sebanyak 59 persen anak mulai merokok sebelum usia 12 tahun.

Yayasan KAKAK bersama dengan pemuda Penggerak dan Forum Anak Surakarta melakukan riset online situasi perokok anak. Hasil riset mnunjukkan kebanyakan anak usia SD ini sudah mulai mencoba untuk merokok. Penyebab anak merokok paling banyak karena ajakan teman sebanyak 60,8%. Mereka seringkali dibuly jika tidak mau merokok. Katakata yang sering dilontarkan oleh mereka adalah “Ora ngrokok ra lanang” (bukan laki-laki kalau tidak merokok). Konsumsi rokok dalam sehari 29.4% menghabiskan paling banyak 7-12 batang rokok.

Sementara dari data sebelumnya, Data Riskesdas 2018 menunjukkan perokok anak usia 10-18 tahun 2013 mengalami peningkatan dari 7.2% menjadi 9.1% di 2018.

Ketua Yayasan KAKAK Sohim Sahriyati memegaskan, dengan kondisi ini maka perlu mengambil langkah.

“Sehingga anak-anak bisa melindungi mereka sendiri. Dari produk rokok yang akan menganggu tumbuh kembang mereka,” tegasnya.

Perlu melakukan gerakan perlindungan anak dari rokok.

Kampanye anti rokok
Hasil karya anak-anak dalam kampanye anti rokok | dok Yayasan KAKAK.                          Karena hal tersebut Yayasan KAKAK berkolaborasi dengan Pemuda Penggerak dan Dinas Pendidikan mengadakan kampanye dalam bentuk Festival Lukis Anak Surakarta. Kegiatan ini merupakan serangkaian kegiatan yang dimulai dengan lomba lukis di Loji Gandrung pada hari Sabtu, 10 Juni 2023.

Acara dilanjutkan dengan talkshow yang diikuti puluhan siswa SD dan SMP di Surakarta di area pendopo Loji Gandrung pada Hari Minggu, 11 Juni 2023. Pukul 06.30-08.30 WIB. Mengambil tema talkshow Kita Keren Tanpa Rokok. Sekaligus pengumuman Pemenang Lomba. Talkshow menghadirkan 3 narasumber yaitu Ketua Yayasan KAKAK Shoim Sahriyati, Kepala Dinas Pendidikan Dian Rineta, MSi dan Ketua Pemuda Penggerak Ujar Aprillia Dian Asih Gumelar.

Lomba lukis dan festival lukis dan talkshow kita keren tanpa rokok ini menjadi media bagi anak-anak. Untuk memberikan pandangan mereka tentang dampak buruk rokok.

“Bagimanapun juga rokok adalah produk yang tidak normal. Anak-anak diberikan kesempatan menuangkan gagasan dan ide mereka melalui gambar yang dihubungkan antara rokok dan kesehatan (stunting). Anak harus dimampukan untuk menyadari dan menguatkan diri untuk menghindari rokok. Jika dalam diri sudah kuat akan meudahkan mereka menolak jika mendapatkan tawaran, iming iming atau karena pengaruh iklan rokok yang menyesatkan. Jangan sampai anak tergantung dengan zat adiktif (rokok),” pungkas Shoim