Anak TK di Solo Terluka Alat Kelamin karena Gunting, Disdik: Bukan Kekerasan, tapi Keteledoran

oleh
oleh
Potongan gambar dari Instagram Astrid Widayani

SOLO, MettaNEWS – Jagat media sosial dihebohkan dengan keluhan warganet mengenai seorang anak TK di Solo yang mengalami luka pada bagian alat kelamin setelah digunting oleh temannya sendiri. Peristiwa ini pertama kali muncul di kolom komentar akun Instagram Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani.

Akun @huzaifayusuf30 menuliskan keluhannya: “Bu Astrid tolong dibantu keponakan saya yang masih TK dipotong titidnya sama temen sekelasnya, juga masih TK. Kejadian di jam sekolah.” Astrid pun merespons cepat komentar tersebut dengan balasan singkat, “Segera kami kawal nggih.”

Saat dikonfirmasi, Astrid membenarkan bahwa pihaknya baru menerima laporan pada Minggu (14/9/2025).

“Itu baru kami periksa, baru ngecek apakah memang benar seperti itu dengan dinas terkait. Nanti pasti ditelusuri, bagaimana kondisinya, terus bagaimana kronologinya,” ujarnya, Senin (15/9).

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Dwi Ariyanto, kemudian mengonfirmasi bahwa kejadian tersebut memang terjadi di TK Aisyiyah 10 Sangkrah. Namun, ia menegaskan bahwa peristiwa itu bukan bentuk kekerasan, melainkan keteledoran dalam pengawasan dan penyimpanan peralatan belajar.

“Ini bukan kekerasan, tapi lebih ke ketidaksengajaan. Anak itu kemungkinan sedang meniru praktik khitan, mungkin dari informasi yang ia dapat, lalu menggunakan gunting. Padahal jelas itu berbahaya,” ungkap Dwi.

Menurutnya, peralatan prakarya seperti gunting dan lem seharusnya tidak bisa diakses lagi oleh anak setelah selesai digunakan. Namun faktanya, salah satu murid masih dapat mengambil gunting tersebut di luar pengawasan guru.

“Itu keteledoran pihak sekolah. Seharusnya ada SOP yang memastikan alat tajam selesai digunakan harus disimpan di tempat yang benar-benar aman dan tidak bisa dijangkau,” tambahnya.

Dwi menjelaskan, korban merupakan siswa PAUD berusia sekitar 4–5 tahun. Saat ini kondisinya telah ditangani medis, meski masih menimbulkan rasa sakit dan trauma.

“Korban sudah diselamatkan, hanya memang butuh pengobatan sekaligus pendampingan psikologis,” terangnya.

Kasus ini juga sudah dimediasi oleh pihak sekolah dan keluarga korban dengan difasilitasi Dinas Pendidikan. Namun, laporan ke kepolisian juga sempat dilayangkan pihak keluarga.

“Kami hadir untuk memastikan peristiwa ini diselesaikan dengan baik dan menjadi bahan evaluasi. Ke depan, pengamanan peralatan yang berpotensi membahayakan anak-anak harus lebih ketat,” pungkas Dwi.