SOLO, MettaNEWS — Pura Mangkunegaran resmi menggelar perayaan hari jadi ke-269 melalui rangkaian acara bertajuk Adeging Mangkunegaran 269.
Mengusung tema besar “Spirit Legiun”, perayaan tahun ini memadukan pelestarian nilai sejarah dengan gaya hidup modern, dengan puncak acara Mangkunegaran Run 2026 yang digelar pada Minggu (3/5/2026).
Perayaan ini menjadi refleksi perjalanan panjang Mangkunegaran sejak berdiri pada 1757, sekaligus upaya untuk tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Berbagai kolaborasi pun dihadirkan, antara lain bersama Katadata, Yayasan Daya Nusantara Cendekia, serta Permata Bank sebagai mitra strategis.
Tema “Spirit Legiun” yang diangkat tahun ini merepresentasikan semangat keprajuritan yang diwariskan sejak era Raden Mas Said, pendiri Mangkunegaran yang juga dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa.
Semangat tersebut diwujudkan dalam nilai keberanian, disiplin, dan keteguhan, yang menjadi karakter utama Legiun Mangkunegaran sebagai unit militer elite pada masanya.
Selain itu, tema ini juga bertepatan dengan filosofi “Tahun Dal” dalam kalender Jawa yang sarat makna refleksi, keteguhan, dan arah baru. Simbol kuda dipilih sebagai ikon utama, melambangkan kekuatan, keberanian, dan kesiapan menghadapi perubahan zaman.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara X menegaskan bahwa perayaan ini tidak sekadar mengenang usia, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat relevansi Mangkunegaran di masa kini.
“Perayaan 269 ini bukan hanya tentang mengenang usia, tetapi tentang bagaimana untuk terus menghadirkan Mangkunegaran tetap relevan bagi masyarakat hari ini. Spirit Legiun dimaknai sebagai keberanian untuk melangkah, disiplin dalam menjaga nilai, dan keberanian dalam menghadapi perubahan,” tuturnya.
Rangkaian Adeging Mangkunegaran 269 telah dimulai sejak 17 Maret 2026, bertepatan dengan hari berdirinya Mangkunegaran. Tahapan awal diisi dengan prosesi internal istana serta kegiatan budaya seperti Sumunar Mangkunegaran. Sementara itu, puncak kemeriahan untuk publik berlangsung pada 1 hingga 3 Mei 2026.
Beragam agenda disiapkan dalam rangkaian puncak tersebut. Salah satunya adalah Mangkunegaran MakaN-MakaN yang digelar selama tiga hari, menghadirkan lebih dari 100 tenant UMKM di kawasan Pamedan dan diperkirakan menarik hingga 20.000 pengunjung. Kegiatan ini menjadi ruang interaksi antara kuliner, seni, dan komunitas.
Selain itu, Mangkunegaran Royal Heritage Dinner turut digelar pada 2 Mei 2026 di pendhapa istana. Jamuan eksklusif ini dihadiri sekitar 150 tamu undangan, termasuk media dan keluarga besar Mangkunegaran. Acara tersebut dimeriahkan dengan prosesi militer Royal Defile, Pahargyan, Wisuda Kekancingan, pertunjukan orkestra dari Trinity Youth Symphony Orchestra, serta penampilan Woro Mustiko bersama Panti Budaya.
Puncak perayaan ditandai dengan Mangkunegaran Run 2026 yang diikuti 7.750 pelari dari seluruh Indonesia dan 22 negara. Ajang ini tidak hanya menjadi kegiatan olahraga, tetapi juga simbol kolaborasi antara budaya, komunitas, dan gaya hidup sehat dalam satu perayaan besar di Kota Solo.
Seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang untuk menciptakan ekosistem yang mempertemukan aktivitas ekonomi, budaya, dan komunitas.
Dampak yang diharapkan tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga memberikan efek berganda terhadap sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan pelaku UMKM di Solo.
Sebagai catatan sejarah, Mangkunegaran didirikan pada 17 Maret 1757 berdasarkan Perjanjian Salatiga yang mengukuhkan Mangkunegara I sebagai penguasa. Hingga kini, Mangkunegaran tetap berdiri sebagai salah satu pusat budaya Jawa yang berperan penting dalam menjaga warisan tradisi sekaligus membuka ruang inovasi.
Melalui perayaan Adeging ke-269 ini, Mangkunegaran tidak hanya menegaskan posisinya sebagai pusat seni dan budaya, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi lokal yang mampu menjembatani nilai tradisi dengan dinamika modern.








