SOLO, MettaNEWS- Sebanyak 21 paguyuban reog dari berbagai daerah melakukan pementasan dan orasi di sepanjang Jalan Ir. Juanda Pucangsawit, Solo, Sabtu (9/4/2022). Hal ini merupakan buntut adanya isu Reog Ponorogo akan diklaim Malaysia sebagai budaya tak benda ke Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO).
Sebanyak 21 paguyuban reog berbegai wilayah menampikan 35 dadak merak dihadapan masyarakat Solo sebagai upaya dan pengharapan kepada Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) agar segera mengusulkan Reog Ponorogo.
Berdasarkan pantauan MettaNEWS dilokasi, tampak ribuan warga memadati Jalan Ir. Juanda Pucangsawit, Solo. Masyarakat pun tampak antusias dengan pertunjukkan orasi Reog tersebut.
Pendiri dan juga pelatih kesenian Reog Komunitas Solo, Eko Hariyanto menyebut partisipan hadir dari berbagai penjuru tidak hanya dari wilayah Solo saja.
“Untuk Reognya datang dari segala penjuru di wilayah Solo dan sekitarnya seperti Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen dan Salatiga. Hanya dengan menggunakan satu metode yaitu ada kegiatan orasi ini tanpa adanya undangan. Mereka berpartisipasi berkumpul sampai memadati jalan ini,” ungkap Eko saat ditemui usai orasi di Pucangsawit, Sabtu (9/4/2022).
Mengetahui isu permasalahan Reog Ponorogo yang akan didaftarkan Negara Jiran sejak Selasa (5/4/2022) lalu, Eko menururkan orasi ini diinisiasi sejak adanya aksi penampilan Reog Ponorogo di Alun-alun Ponorogo sebagai aksi tuntutan agar didaftarkan ke ICH-UNESCO sebagai budaya milik Indonesia.
“Kami tergugah dari aksi tersebut, ternyata Reog Ponorogo yang selama tahun 2004 belum masuk ke UNESCO, malah yang masuk ke UNESCO reog yang diakui Malaysia, Barong. Kita tidak mau budaya ini diklaim, kita tetep berjuang untuk Reog Ponorogo masuk ke UNESCO. Kami mohon ke bapak Menteri, kita sudah berpuluh-puluh tahun untuk mengembangkan budaya ini,” ucapnya.

“Kami akan menunggu, akan kami ikuti terus masalah ini sampai diakui UNESCO. Untuk saat ini kita menunggu perkembangan dari wilayah-wilayah lain. Nantinya akan bermunculan aksi seperti ini,” tambahnya.
Sebagai pelaku budaya, ia berharap Menteri Nadiem Makarim segera memberikan solusi dan jawabam akan permasalahan ini. Eko yang juga pelaku sejarah berkembangya budaya Roeg Ponorogo ke berbagai daerah di Solo, tidak menerima jika akhirnya Reog Ponorogo jatuh ke negara Malaysia.
“Reog Ponorogo memang asli dari nenek moyang kita, dari tanah Ponorogo, Jawa Timur bukan yang ada disana. Mereka punya Reog karena berasal dari warga Indonesia yang ada disana. Cuma kenapa harus diklaim,” ucapnya.
Melakukan berbagai upaya pelestarian Reog Ponorogo, pihaknya tetap akan berlatih dan mengembangkan dan menguri-uri budaya Indonesia.
“Reog Ponorogo tidak ada dimana pun hanya di Indonesia. Negara kita yang membuat asal usul sejarah baik itu dari arti kulit dan kepala harimau, rambut, bulu merak. Kami tetap pegang teguh Reog Ponorogo bukan hanya kesenian tapi juga pusaka peninggalan nenek moyang kami,” tegasnya.
Menampilkan penari Jatilan yang diikuti dari berbagai seniman, Eko mengungkap semua yang hadir sebagai bentuk kepedulian atas sesama pelaku budaya.
“Hanya Reog Ponorogo, tampilan seni budaya dan Jathilan sebagai bentuk penyampaian aspirasi,” tukasnya.
Sementara itu, Paguyuban Reog Tawangmangu Sardulo Gilang Gumelar, Agus Tri Cahyono menuturkan pihaknya ikut berpartisipasi mempertunjukkan pementasan Reog Ponorogo ke Solo.
“Kita ikut menyengkuyung kegiatan ini sebagai bentuk dukungan uri-uri budaya,” ucap Agus.
Tidak hanya berhenti disini saja, pihaknya akan kembali ikut berpartisipasi dalam gelaran pertunjukan dan orasi di taman DPRD Karanganyar yang akan dilaksanakan pada Minggu (10/4) esok.
“Budaya yang berasal dari Ponorogo ada kisahnya ada historynya, kok dengan enaknya mereka mengambil. Hati kok rasanya tidak enak,” tuturnya.
Membawa sebanyak 10 seniman, Agus menyebut dengan berulangnya klaim Malaysia atas Reog Ponorogo ia berusaha mendapatkan sisi positif dari aksi tersebut.
“Sisi positifnya kalau dalam bahasa Jawanya nglumpukke balungan pisah. Mengumpulkan persaudaraan seniman Reog Ponorogo yang nggak nggak cuma dari wilayah Solo saja, tapi ada yang dari Ngawi,” tambahnya.
Melakukan berbagai upaya untuk Reog Ponorogo tetap lestari, selama pandemi ia merasakan keberadaan budaya ini sempat alami mati suri selama pandemi.
“Di awal pandemi mati total, lalu tahun 2021 sempat bisa bangkit perlahan. Ini sudah mulai normal,” ucapnya.
Agus berharap agar Reog Ponorogo bisa tetap berjaya dan terus dilestarikan sehingga tidak akan terulang hal yang sama.









