BOYOLALI, MettaNEWS – Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, bergerak serius mengantisipasi penularan penyakit mulut dan kuku (PMK) yang sedang mewabah pada ternak kambing dan sapi. Sejumlah hewan yang diperiksa, diketahui sudah tertular, sehingga Dinas gencar melakukan pengobatan, isolasi dan tindakan biosekuriti lainnya.
“Kami bergerak cepat, kurang dari 24 jam. Bahkan sebelum hasil laboratorium keluar, kami sudah ke lokasi dan melakukan pengobatan, penyemprotan disinfektan dan isolasi,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan, Afiany Rifdania dalam boyolali.go.id, Rabu (11/5/2022).
Temuan kasus PMK diketahui dari pemeriksaan kesehatan hewan di sejumlah pasar ternak. Ada 15 hewan yang diperiksa secara acak, seluruhnya positif terkena PMK.
Disebutkan olehnya, penyakit tersebut menyebar melalui lendir yang menyerang hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing, domba dan lainnya dengan tingkat penularan mencapai 90-100 persen.
Hewan ternak yang mengidap penyakit PMK memiliki tanda klinis antara lain demam tinggi, keluar lendir berlebihan dari mulut hewan dan berbusa. Selain itu, pada hewan ternak yang terjangkit penyakit PMK akan memiliki luka seperti sariawan pada rongga mulut dan lidah, tidak mau makan, memiliki luka pada kuku sehingga sulit berdiri, gemetar, napas hewan yang cepat serta tubuh hewan yang kurus.
Ditambahkan oleh Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan, Lusia Dyah Suciati bahwa petugas Puskeswan juga sudah mengambil sampel dari beberapa hewan ternak sapi yang disinyalir mengidap PMK untuk kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium.
“Teman teman Puskeswan langsung mengambil tindakan menyuntik dengan hasil sharing dengan Jawa Timur. Kita bersama dengan Balai Besar veteriner di Wates dan lab provinsi ke lokasi untuk mengambil sampel sekaligus melanjutkan penanganan menyuntik,” ujarnya.
Tidak hanya melakukan pemeriksaan Kesehatan hewan, petugas juga menyemprot disinfektan ke kandang ternak sapi yang mengalami gejala PMK.
“Mengajak seluruh warga untuk tidak tergiur dan tidak membeli sapi dulu terutama dari daerah pandemi yang saat ini yang terbesar adalah di Jawa Timur. Adanya PMK ini untuk semuanya hati-hati dalam pengadaan atau pembelian saat ini untuk ekstra hati hati,” harapnya.








