Bulan Keluarga, GKJ Danukusuman Ajak Keluarga Kristen Berbuah Lebat dan Manis, Utamakan Kasih daripada Ego

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Menyambut Bulan Keluarga, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Danukusuman Surakarta mengajak jemaat menjadikan keluarga sebagai tempat bertumbuh dalam kasih, pengampunan, dan pemulihan. Melalui tema “Keluarga yang Berbuah Lebat dan Manis”, jemaat diajak mengevaluasi peran masing-masing anggota keluarga dalam menciptakan kehidupan rumah tangga yang harmonis dan menjadi berkat bagi sesama.

Pendeta GKJ Danukusuman Surakarta, Pdt. Dr. Uri Christian Sakti Labeti, S.Si., M.Sn., menyampaikan pesan tersebut dalam rangkaian kegiatan Bulan Keluarga. Ia menegaskan bahwa setiap anggota keluarga, baik ayah, ibu, maupun anak, memiliki tanggung jawab untuk menjadi agen pelayanan kasih di lingkungan keluarga masing-masing.

Menurutnya, rangkaian kegiatan Bulan Keluarga tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai rutinitas gerejawi. Berbagai kegiatan, mulai dari ibadah, doa wilayah, pendalaman Alkitab (PA), sarasehan, hingga aktivitas rohani lainnya, menjadi sarana untuk memperkuat kehidupan keluarga.

“Peran kita dengan satu tugas, yaitu kita semua adalah agen pelayanan kasih dari keluarga kita masing-masing,” pesannya dalam kotbahnya Minggu (4/10/2026).

Tema “Keluarga yang Berbuah Lebat dan Manis” berangkat dari perumpamaan tentang penggarap kebun anggur dalam Matius 21:33–46. Melalui perumpamaan tersebut, Yesus mengajarkan tentang tanggung jawab manusia dalam memelihara dan mengelola segala sesuatu yang telah dipercayakan Tuhan.

Pdt. Uri menjelaskan, kebun anggur dalam perumpamaan itu menggambarkan karya Tuhan yang telah dipersiapkan secara lengkap. Kebun tersebut tidak hanya memiliki tanaman anggur, tetapi juga dilengkapi pagar untuk menjaga keamanan, menara pengawas, serta tempat pemerasan anggur.

Gambaran itu menunjukkan bahwa Tuhan sebagai pemilik kebun telah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan. Sementara itu, manusia dipercaya untuk mengelola, menjaga, dan memelihara pemberian tersebut dengan penuh tanggung jawab.

Dalam kehidupan keluarga, setiap anggota memiliki peran untuk merawat apa yang telah dipercayakan Tuhan. Keluarga tidak hanya diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan baik di dalam rumah, tetapi juga menghadirkan kasih dan memberikan dampak positif bagi lingkungan masyarakat.

Jangan Biarkan Ego Menguasai Keluarga

Pendeta Uri mengingatkan bahwa persoalan muncul ketika manusia lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada tanggung jawabnya. Sikap keras hati, keinginan untuk menguasai, serta penolakan terhadap orang lain menjadi gambaran perilaku para penggarap kebun anggur yang menolak utusan pemilik kebun dan bahkan membunuh anak pemiliknya.

Perilaku tersebut menjadi refleksi bagi kehidupan keluarga masa kini. Ketika menghadapi persoalan, anggota keluarga kerap membiarkan emosi mengambil alih sehingga komunikasi berubah menjadi pertengkaran, penolakan, bahkan kebencian yang berkepanjangan.

Menurut Pdt. Uri, keluarga seharusnya menjadi tempat pemulihan, bukan ruang yang memperbesar konflik. Karena itu, setiap anggota keluarga perlu belajar mengendalikan emosi, membuka ruang dialog, serta membangun sikap saling menghargai dan mengampuni.

Ia juga menyoroti sikap memaksakan kehendak yang dapat muncul dari siapa saja. Seorang ayah, misalnya, tidak seharusnya merasa selalu paling benar hanya karena menjadi kepala keluarga. Demikian pula ibu maupun anak perlu menghindari sikap mendominasi dan menuntut agar keinginannya selalu dipenuhi.

Kehidupan keluarga perlu dibangun melalui komunikasi yang sehat dan kesediaan untuk mendengarkan satu sama lain. Anak-anak juga perlu diberi kesempatan menyampaikan pendapat dan mengembangkan diri, sementara orang tua terus belajar menjalankan perannya dengan bijaksana.

“Kalau kita mau jujur, sebenarnya kita pribadi bagian dari keluarga itu bisa seperti dalam perumpamaan Yesus tadi,” ujarnya, mengajak jemaat bercermin terhadap sikap masing-masing.

Memperkuat Keluarga melalui Kebersamaan

Lebih lanjut, Pdt. Uri mengingatkan bahwa keluarga merupakan gereja terkecil yang dibentuk Tuhan. Baik buruknya kualitas kehidupan keluarga turut ditentukan oleh kesediaan setiap anggotanya untuk menjalankan tanggung jawab, saling mendukung, dan merawat kebersamaan.

Melalui Bulan Keluarga, jemaat diharapkan melakukan pembaruan dalam kehidupan rumah tangga. Pembaruan itu dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti membangun komitmen bersama, membiasakan komunikasi terbuka, mengurangi sikap egois, dan menyediakan waktu untuk bertumbuh bersama dalam kehidupan rohani.

GKJ Danukusuman juga berupaya mengembangkan kebersamaan melalui kelompok-kelompok kecil di wilayah jemaat. Kelompok yang terdiri atas sekitar lima orang atau lima keluarga diharapkan menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, saling menguatkan, dan mengembangkan kebiasaan baik dalam kehidupan keluarga.

Melalui pendampingan dan kebersamaan tersebut, keluarga diharapkan tidak berjalan sendiri ketika menghadapi persoalan. Dukungan dari sesama anggota jemaat dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat ketahanan keluarga sekaligus menumbuhkan kehidupan rohani.

Uri mengajak setiap keluarga kembali menyadari tanggung jawabnya sebagai pengelola kebun anggur yang dipercayakan Tuhan. Keluarga yang berbuah lebat dan manis bukan hanya keluarga yang tampak baik dari luar, melainkan keluarga yang sungguh-sungguh menghadirkan kasih, pengampunan, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, semangat Bulan Keluarga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan selama satu bulan, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan hidup. Setiap anggota keluarga diajak terus belajar merawat kebersamaan agar rumah menjadi tempat bertumbuh, pulih, dan menyalurkan kasih Tuhan kepada sesama.