SOLO, MettaNEWS – Suasana Gedung Wayang Orang Sriwedari, Solo, mendadak cair pada Kamis (24/9/2026) malam. Di tengah pementasan seni tradisi, SISKS Paku Buwana XIV Mangkubumi hadir bersama keluarga, sentono dalem, dan abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat.
Kehadiran PB XIV Mangkubumi bukan sekadar menyaksikan pertunjukan. Sriwedari memiliki kaitan dengan perjalanan panjangnya di dunia seni pertunjukan sebelum dirinya bertakhta sebagai raja.
Momen menarik terjadi saat adegan punakawan berlangsung. Salah seorang pemain Wayang Orang Sriwedari tiba-tiba turun dari panggung dan menghampiri PB XIV Mangkubumi untuk bersalaman.
Spontanitas tersebut membuat suasana pertunjukan seketika mencair. Gelak tawa penonton pun terdengar dari dalam gedung.
Jarak antara panggung dan penonton seolah hilang untuk sesaat. PB XIV Mangkubumi tampak menikmati suasana tersebut dengan santai hingga pementasan berakhir.
Usai pertunjukan, PB XIV Mangkubumi juga menghampiri para pemain. Ia memberikan semangat sekaligus berbincang dengan sejumlah pelaku seni yang sebagian telah dikenalnya sejak lama.
Pertemuan tersebut menjadi semacam reuni kecil antara seorang raja yang kini memegang tanggung jawab adat dan kebudayaan dengan dunia seni yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Dari Dunia Seni Menuju Tahta
Sebelum bertakhta sebagai SISKS Paku Buwana XIV, PB XIV Mangkubumi dikenal aktif dalam berbagai kegiatan seni pertunjukan ketika masih bergelar GPH Mangkubumi dan kemudian KGPH Hangabehi.
Ia pernah terlibat dalam sejumlah pementasan di berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Seni pertunjukan menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kebudayaan Jawa yang bersumber dari tradisi Karaton Surakarta Hadiningrat.
Koco, salah seorang pemain Wayang Orang Sriwedari sekaligus abdi dalem Karaton Surakarta, masih mengingat perjalanan tersebut.
Menurut Koco, dirinya pernah berada dalam satu panggung bersama PB XIV ketika masih bergelar GPH Mangkubumi hingga KGPH Hangabehi.
Salah satu kenangan yang masih diingat adalah ketika KGPH Hangabehi memainkan tokoh buto atau raksasa.
Dalam sejumlah pementasan, ia tampil bersama BRM Parikesit Suryo Roseno atau Bobby serta BRM Bimo Rantas yang kini bergelar KRMH Djoyo Adilogo. Keduanya merupakan cucu SISKS Paku Buwana XII.
Mereka pernah berada dalam satu panggung di Karaton Surakarta, kawasan Prambanan, hingga Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.
Karena itu, pertemuan di Sriwedari malam tersebut terasa istimewa bagi Koco. Dunia seni yang pernah mempertemukan mereka kembali menjadi ruang untuk mengenang perjalanan masa lalu.
PB XIV: Budaya Harus Terus Hidup
Di tengah suasana hangat tersebut, PB XIV Mangkubumi menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga dan melestarikan kebudayaan Jawa.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak semestinya hanya dimaknai sebagai upaya mempertahankan peninggalan masa lalu. Kebudayaan juga dapat menjadi kekuatan yang terus menghidupkan masyarakat pada masa kini dan masa depan.
Salah satu jalannya adalah melalui seni pertunjukan.
PB XIV Mangkubumi melihat seni dan kebudayaan memiliki potensi untuk menggerakkan perekonomian apabila dikembangkan dalam ekosistem kreatif yang saling terhubung.
Seni pertunjukan dapat menjadi daya tarik wisata. Kehadiran wisatawan kemudian dapat memberikan dampak kepada berbagai sektor lain, mulai dari kuliner, kerajinan, transportasi hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dengan demikian, panggung budaya tidak hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi juga dapat menjadi ruang tumbuh bagi masyarakat.
Milenial dan Gen Z Ramaikan Sriwedari
Hal menarik lainnya terlihat dari komposisi penonton. Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari pada Rabu malam tampak dihadiri banyak penonton dari kalangan milenial dan Gen Z.
Pemandangan tersebut menunjukkan adanya ruang pertemuan antara seni tradisi dengan generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital.
Wayang orang tidak semata menjadi tontonan generasi yang sejak kecil dekat dengan tradisi. Seni pertunjukan tersebut juga dapat menjadi pengalaman budaya bagi generasi muda.
Tantangannya adalah bagaimana seni tradisi tetap mempertahankan akar budayanya sekaligus mampu dikemas dan diperkenalkan dengan cara yang relevan bagi generasi baru.
Sriwedari menjadi salah satu ruang penting dalam pertemuan tersebut.
Sriwedari, Rumah Panjang Wayang Orang Solo
Wayang Orang Sriwedari merupakan salah satu bagian penting dari sejarah seni pertunjukan tradisional Surakarta.
Pertunjukan ini memadukan drama, tari, musik, dan seni peran dengan cerita yang banyak mengambil sumber dari epos Mahabharata dan Ramayana.
Sejarah Wayang Orang Sriwedari memiliki perjalanan panjang. Kelompok tersebut berawal dari para mantan abdi dalem Pura Mangkunegaran yang sebelumnya memiliki pengalaman memainkan wayang orang di lingkungan istana.
Setelah tidak lagi menjadi abdi dalem, mereka membentuk kelompok sendiri dan melakukan pertunjukan keliling dari desa ke desa.
Perkembangannya kemudian mendapat dukungan Gan Kam, seorang pengusaha keturunan Tionghoa yang melihat potensi ekonomi dari kesenian tersebut.
Pertunjukan selanjutnya berkembang di kawasan Taman Sriwedari yang pada masa itu dikenal sebagai Kebon Rojo, kawasan rekreasi yang dibangun pada masa pemerintahan SISKS Paku Buwana X.
Gedung Wayang Orang Sriwedari kemudian menjadi salah satu rumah penting bagi keberlangsungan kesenian tersebut.
Popularitasnya semakin berkembang setelah pertunjukan wayang orang turut disiarkan melalui radio Solosche Radio Vereeniging pada 1926.
Seiring perjalanan waktu, Wayang Orang Sriwedari bukan hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya Kota Surakarta.
Ketika Raja Kembali Bertemu Dunia Panggung
Kehadiran PB XIV Mangkubumi di Sriwedari malam itu menghadirkan sisi lain dari perjalanan seorang raja.
Ia datang sebagai raja, tetapi di tempat tersebut kembali bertemu dengan dunia seni yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya.
Tidak ada prosesi kebesaran yang panjang. Hanya panggung wayang orang, para seniman, kawan-kawan lama, dan penonton yang menikmati cerita.
Namun, dari pertemuan sederhana itu muncul pesan mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan budaya.
Kebudayaan tidak akan hidup hanya karena diwariskan dalam bentuk benda atau cerita. Ia membutuhkan seniman yang terus berkarya, ruang pertunjukan yang tetap hidup, serta generasi muda yang bersedia mengenal dan meneruskannya.
Bagi PB XIV Mangkubumi, pelestarian budaya Jawa bukan semata tanggung jawab satu kelompok atau satu generasi, melainkan tanggung jawab bersama.
Dan Sriwedari kembali menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan bahwa tradisi tidak harus berhenti sebagai cerita masa lalu.
Ia dapat terus bergerak, bertemu generasi baru, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat hari ini.








