Festival Payung Indonesia ke-13 Raih Top 3 KEN 2026, Ribuan Payung dan Seniman Mancanegara Ramaikan Solo

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Festival Payung Indonesia (Fespin) ke-13 resmi dibuka di Taman Balekambang, Kota Surakarta, Jumat (4/9/2026). Tak sekadar memamerkan aneka kreasi payung, festival bertema “Catra Padi, Sepayung Dewi Sri” ini langsung mendapat pengakuan nasional setelah masuk Top 3 Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 dari Kementerian Pariwisata RI.

Penghargaan tersebut diserahkan Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata RI Raden Wisnu Sindhutrisno kepada Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani. Selanjutnya, Astrid menyerahkan penghargaan itu kepada Founder Festival Payung Indonesia Heru Mataya.

Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas konsistensi Fespin dalam mengembangkan event berbasis budaya sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Surakarta.

Dalam pembukaan Fespin, Astrid menegaskan bahwa payung bukan sekadar benda yang digunakan untuk melindungi diri dari panas dan hujan. Di tangan seniman dan kreator, payung dapat berubah menjadi karya yang memiliki nilai budaya, kreativitas, hingga ekonomi.

“Festival ini bukan sekadar tentang payung. Di balik sebuah payung ada karya, ada kreativitas, ada tradisi, ada cerita, dan ada semangat untuk terus menciptakan sesuatu yang baru,” kata Astrid.

Menurutnya, kekuatan kebudayaan justru dapat lahir dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Ketika diolah dengan kreativitas, benda sederhana bisa menjadi karya yang memiliki nilai dan mampu dikenal hingga tingkat global.

“Inilah kekuatan kebudayaan, yaitu sesuatu yang dekat dengan kehidupan masyarakat dapat diolah menjadi karya yang memiliki nilai dan mampu berbicara kepada dunia,” ujarnya.

Astrid mengatakan, Pemerintah Kota Surakarta ingin terus menjadikan Solo sebagai kota yang hidup dengan kebudayaan. Kebudayaan tidak hanya ditampilkan melalui panggung besar, tetapi juga tumbuh dari kreativitas masyarakat, komunitas, seniman, pelaku UMKM, anak muda, hingga seluruh warga.

Karena itu, keberadaan Fespin dinilai penting dalam membangun ekosistem kebudayaan sekaligus ekonomi kreatif di Kota Surakarta.

“Ruang-ruang seperti Festival Payung memberi kesempatan kepada para seniman untuk berkarya, komunitas untuk berkolaborasi, UMKM untuk berkembang, sekaligus memberikan pengalaman bagi masyarakat dan wisatawan untuk menikmati Solo dari sisi yang berbeda,” tutur Astrid.

Peserta dari Jepang, India hingga Pakistan

Fespin ke-13 digelar selama tiga hari, Jumat-Minggu (4-6/9/2026). Festival ini melibatkan peserta dari hampir 40 kota di Indonesia, dengan sekitar 20 persen peserta berasal dari Solo Raya dan 80 persen lainnya datang dari berbagai daerah serta mancanegara.

Jejaring internasional Fespin juga semakin luas. Jika tahun sebelumnya menghadirkan peserta dari Thailand, tahun ini festival diikuti peserta dari Jepang, India, Korea Selatan, dan Pakistan.

Direktur Festival Payung Indonesia Heru Mataya mengatakan, Fespin terus dikembangkan bukan hanya sebagai festival seni, tetapi juga sebagai ruang diplomasi budaya antarwilayah dan antarbangsa.

“Festival payung ini salah satu upaya alat diplomasi budaya. Tahun lalu baru Thailand yang ikut, tahun ini ada Jepang, India, Korea Selatan, dan Pakistan,” kata Heru.

Selama tiga hari penyelenggaraan, sebanyak 167 pertunjukan akan digelar. Pertunjukan tersebut meliputi tari, musik, fashion, hingga teater yang tersebar di tiga panggung.

Jumlah seniman dan artisan yang terlibat pun meningkat. Jika pada tahun sebelumnya sekitar 2.000 orang, tahun ini jumlahnya mencapai sekitar 3.000 orang.

Tak hanya pertunjukan, Fespin juga menghadirkan lebih dari 5.000 payung dalam beragam kreasi, mulai dari rajut, sulam, hingga perca. Pengunjung bahkan bisa melihat langsung proses pembuatan karya melalui berbagai workshop yang digelar para crafter.

Heru menegaskan, pelestarian payung tradisi harus berjalan beriringan dengan inovasi agar tradisi tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu.

“Pelestarian payung tradisi harus diikuti pengembangan modern. Jadi tradisinya tetap hidup, tetapi kreativitasnya juga berkembang,” ujarnya.

Angkat Filosofi Padi dan Dewi Sri

Tema “Catra Padi, Sepayung Dewi Sri” menjadi benang merah Fespin tahun ini. Tema tersebut mengangkat budaya pangan dan tradisi padi di Nusantara.

Padi tidak hanya dipandang sebagai bahan pangan, tetapi juga berkaitan dengan sejarah, tradisi pertanian, hingga mitologi Dewi Sri yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia.

Astrid berharap para seniman, artisan, komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif terus menghasilkan karya yang berangkat dari kekayaan budaya Indonesia.

“Kepada seluruh peserta dan pelaku kreatif, kami berpesan, teruslah berkarya. Jangan takut bereksperimen, jangan takut berkolaborasi, dan jangan berhenti mengembangkan karya-karya yang berangkat dari kekayaan budaya kita sendiri,” tegasnya.

Masyarakat juga diajak ikut meramaikan festival dengan datang dan mengapresiasi karya para seniman. Kehadiran pengunjung diharapkan tidak hanya memperkuat ekosistem budaya, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal.

“Kepada masyarakat Kota Surakarta, mari kita dukung bersama kegiatan-kegiatan kebudayaan seperti ini. Datang, nikmati, apresiasi karya para seniman dan kreator kita, sekaligus ikut menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujar Astrid.

Bidik Dampak Ekonomi untuk Solo

Kehadiran peserta dari berbagai daerah dan mancanegara diharapkan memberikan efek berganda bagi perekonomian Kota Surakarta. Sektor perhotelan, transportasi, kuliner, hingga UMKM menjadi bagian yang berpotensi mendapatkan manfaat dari meningkatnya kunjungan wisatawan.

Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, Fespin berhasil menarik sekitar 32 ribu pengunjung. Tahun ini, panitia berharap jumlah tersebut kembali meningkat.

Bagi Heru, peningkatan jumlah pengunjung bukan sekadar soal angka. Lebih jauh, Fespin diharapkan mampu memberikan manfaat bagi keberlangsungan para perajin payung tradisi sekaligus memperkuat posisi payung tradisional sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

“Harapannya festival ini berdampak secara ekonomi sekaligus memberi manfaat bagi kelestarian payung tradisi kita. Payung tradisi kita bisa menjadi ikon pusaka Indonesia,” tandas Heru.

Astrid pun mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Fespin ke-13. Menurutnya, kolaborasi pemerintah, seniman, komunitas, UMKM, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan Kota Surakarta.

“Kepada seluruh tamu yang hadir dari luar Kota Solo, kami ucapkan selamat datang di Surakarta. Silakan menikmati festivalnya, menikmati suasana kotanya, dan tentu saja jangan lupa menikmati kuliner Solo yang selalu punya cara sendiri untuk membuat orang ingin kembali,” pungkas Astrid.