SOLO, MettaNEWS – Ribuan penonton memadati atrium utama The Park Mall Solo Baru, Kamis (20/8/2026) sore, antusias menyambut meet and greet jajaran pemain dan sutradara film Harusnya Horror.
Sebelum menyapa penggemar di atrium mal, para pemain dan kru film lebih dulu melakukan rangkaian Cinema Visit di Bioskop The Park XXI Solo.
Meet and greet tersebut menghadirkan sutradara sekaligus pemain utama Reza “Arap” Oktovian, George Tierison (Jot), Yuka Theo, Teguh Prakoso (Tepe), dan Niko Junius.
Antusiasme penonton terlihat sejak acara dimulai. Area atrium dipenuhi pengunjung yang ingin melihat langsung para pemain film Harusnya Horror, yang mulai tayang di bioskop Indonesia pada Kamis.
Reza Arap mengaku emosinya campur aduk melihat sambutan penonton di Solo.
“Senang banget, bingung, campur aduk karena ini day pertama di Solo semua sudah berkumpul. Terima kasih semuanya,” ujar Reza di hadapan penonton.
Pemain Ungkap Momen Berkesan Saat Syuting
Meet and greet tidak hanya menjadi kesempatan bagi penonton untuk bertemu pemain. Para cast juga mengajak penonton berinteraksi dan membagikan cerita menarik selama proses produksi film.
Niko Junius mengungkap salah satu momen yang paling membekas selama syuting adalah ketika kru harus menunggu cukup lama untuk mengambil sebuah adegan.
Menurutnya, mereka sempat menunggu sekitar 2,5 jam di lokasi syuting. Kondisi tersebut menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
“Waktu itu ada satu set yang kita harus nunggu syuting, tapi nunggu 2,5 jam di lokasi, banyak nyamuknya,” kata Niko sembari mengundang tawa penonton.
Bagi Jot, momen yang paling dirindukan justru terjadi ketika proses produksi hampir berakhir. Ia teringat suasana ketika menunggu pengambilan adegan terakhir sebelum akhirnya pulang.
Sementara itu, Tepe menyebut seluruh proses syuting memberikan pengalaman yang seru.
Yuka Theo juga memiliki cerita tersendiri. Baginya, proses bermain dalam film tersebut menjadi kesempatan untuk belajar berbagai hal baru dalam dunia akting.
Reza pun mengaku memiliki momen emosional selama proses produksi, termasuk ketika berada dalam kondisi lelah. Kehadiran Lula Lahfah menjadi salah satu kenangan yang membekas bagi Reza dan tim.
Niko Junius: Ini Karya Terbaik Kami
Niko Junius menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah memberikan sambutan positif terhadap Harusnya Horror.
Menurutnya, hari pertama penayangan film menjadi momen berharga bagi seluruh tim, terlebih roadshow di berbagai kota mendapatkan respons antusias.
“Terima kasih teman-teman atas apresiasinya. Ini merupakan hari yang berharga untuk Reza Oktovian, terutama karena ini merupakan hari pertama penayangan film Harusnya Horror di bioskop Indonesia,” ujar Niko.
Ia juga mengapresiasi masyarakat yang telah meluangkan waktu untuk menonton film tersebut.
“Terima kasih atensinya dan apresiasinya menonton film kita. Suka tidak suka, itu merupakan karya terbaik kami yang kami berikan,” katanya.
Antusiasme terhadap film ini sebenarnya telah terlihat sebelum penayangan reguler. Special screening dan roadshow digelar di Bandung, Karawang, Cirebon, Semarang, Yogyakarta hingga Solo pada 16-20 Agustus 2026.
Tiket special screening dalam rangkaian tersebut disebut telah terjual habis. Respons serupa juga terlihat dalam penjualan Advance Ticket Sales (ATS) yang ludes di sejumlah kota.
Beberapa di antaranya yakni Jakarta, Depok, Bekasi, Bali, Banjarmasin, Batam, Bogor, Jambi, Lampung, Palembang, Pekanbaru, Makassar, Samarinda, dan Pontianak.
Debut Layar Lebar Anggota AAAClan
Harusnya Horror juga menjadi debut layar lebar bagi sejumlah anggota AAAClan.
Mereka antara lain George Tierison (Jot), Yukatheo Glen Widjaja (Yuka), Garry Andriawan Ang (Garry), Teguh Prakoso (Tepe), Aldy Renaldy (Aloy), Ariyanto (Ibot), Niko Junius (Niko), dan Bravyson (Vicong).
Film produksi Ess Jay Pictures tersebut juga dibintangi Reynavenzka, Ronny P. Tjandra, Heroe Soewarno, Malka Rafasya, serta penampilan spesial Yoshua Marcellos (Cellos).
Film ini juga menjadi salah satu karya yang menampilkan mendiang Lula Lahfah.
Kisah Hantu yang Malah Kesulitan Menakuti Manusia
Berbeda dari film horor pada umumnya, Harusnya Horror mengangkat kisah Mas, sosok hantu yang justru kesulitan membuat manusia ketakutan.
Setelah meninggal dunia, Mas mendapat tugas dari alam baka untuk menakuti 100 ribu manusia. Masalahnya, ia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menjadi hantu yang menakutkan.
Dalam menjalankan tugas tersebut, Mas bertemu sekelompok kreator konten yang sedang menghadapi masalah finansial.
Para kreator kemudian melihat keberadaan Mas sebagai peluang untuk membuat konten horor sekaligus mendongkrak popularitas. Mas bekerja sama dengan mereka, dengan masing-masing pihak memiliki tujuan yang berbeda.
Namun, perjalanan tersebut tidak berjalan sederhana. Mas mulai dihadapkan pada pilihan yang berkaitan dengan hubungan, kehidupan setelah kematian, dan orang-orang yang dianggap sebagai keluarganya.
Skenario film ditulis Rahabi Mandra dan Syahrun Ramadhan. Harusnya Horror memadukan unsur horor dan komedi dengan cerita tentang persahabatan, kreator konten, serta kehidupan setelah kematian.
Bagi Reza Arap, film tersebut juga menjadi langkah baru dalam kariernya. Selama ini dikenal sebagai kreator konten, Reza kini memperluas kiprahnya ke industri perfilman dengan menjadi sutradara sekaligus pemeran dalam Harusnya Horror.








