SOLO, MettaNEWS – Kawasan Kampung Batik Laweyan, Solo, terus didorong untuk tidak sekadar dikenal sebagai sentra batik, tetapi juga sebagai kawasan yang menyimpan kekayaan sejarah dan budaya. Upaya tersebut dilakukan tim mahasiswa Memoria Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) FSRD Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta melalui program penguatan Laweyan sebagai The Living Heritage Museum.
Program yang mendapat pendanaan Hibah PPK Ormawa Kemendiktisainstek 2026 tersebut mencapai puncaknya melalui ekshibisi karya dan pemutaran video dokumenter cagar budaya di nDalem Djimatan, Laweyan, Solo, Rabu (2/9/2026).
Tim Memoria menjalankan serangkaian program intervensi berbasis visual dan edukasi sejarah sejak Juli hingga Agustus 2026. Program tersebut dirancang untuk memperkuat literasi sejarah sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga aset budaya Laweyan.
Ketua Tim PPK Ormawa DKV ISI Surakarta, Rafifah Hafidha Putri Rashikhah, mengatakan program tersebut merupakan strategi inovasi revitalisasi kawasan yang menggabungkan pelestarian aset takbenda dengan penguatan identitas visual.
“Tujuan kami memperkuat literasi sejarah sekaligus memberikan keterampilan praktis bagi warga lokal agar konsep Living Heritage Museum dapat berjalan berkelanjutan,” jelas Rafifah.
Program yang dibimbing dosen DKV ISI Surakarta, Ipung Kurniawan Yunianto, tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat. Kolaborasi dilakukan bersama Karang Taruna, Pokdarwis, PKK Kelurahan Laweyan, Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL), serta komunitas Solo Societeit.
Lima Program untuk Hidupkan Sejarah Laweyan
Untuk mewujudkan konsep Living Heritage Museum, Tim Memoria menjalankan lima agenda utama.
Pertama, pelatihan Tour Guide Heritage bersama pegiat sejarah Solo Societeit, Fauzi Ichwani, yang dilaksanakan di Kantor Kelurahan Laweyan. Pelatihan ini ditujukan untuk membekali masyarakat lokal agar mampu menjadi pemandu yang memahami sejarah dan nilai penting kawasan.
Kedua, tim merancang sistem infografis situs cagar budaya Laweyan. Informasi sejarah dikemas secara visual agar lebih mudah dipahami sekaligus dapat menjadi bagian dari pengalaman wisatawan ketika menjelajahi kawasan.
Ketiga, Tim Memoria memproduksi video dokumenter lima bangunan bersejarah, yakni nDalem Djimatan, Bunker Setono, Butulan, Masjid Laweyan, dan Langgar Merdeka.
Keempat, program dilengkapi workshop batik tulis dan pembuatan konten media sosial bersama SMP Djama’atul Ichwan di Showroom Batik Halus Puspa Kencana.
Kelima, mahasiswa turut berpartisipasi aktif dalam Festival Umbul-Umbul bersama Pokdarwis Laweyan.
Rangkaian kegiatan tersebut dirancang agar pelestarian sejarah tidak berhenti pada dokumentasi, tetapi dapat menjadi pengalaman yang hidup bagi masyarakat maupun pengunjung kawasan Laweyan.
Rekam Memori Kolektif dari Para Tokoh Lokal
Penanggung jawab Program Video Dokumenter, Fajar Haditiya Nugraha dan Dhiya Hannan Susilo, mengatakan produksi dokumenter tidak hanya berfokus pada bangunan secara fisik.
Dokumentasi audiovisual tersebut diarahkan untuk merekam memori kolektif serta dinamika sejarah yang berkembang di sekitar bangunan cagar budaya. Cerita diperoleh melalui penuturan para tokoh lokal yang tinggal di kawasan tersebut.
Dengan pendekatan tersebut, bangunan bersejarah tidak hanya diposisikan sebagai objek visual, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan cerita, pengalaman, dan ingatan masyarakat dari generasi ke generasi.
Pegiat Solo Societeit, Fauzi Ichwani, menilai keterlibatan generasi muda dalam upaya pelestarian menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan kawasan cagar budaya.
“Pelatihan kepanduan cagar budaya bagi Karang Taruna bukan sekadar transfer pengetahuan teknis, melainkan langkah krusial menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap kelestarian ruang cagar budaya Laweyan,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat lokal, khususnya generasi muda, dapat menjadi modal penting agar upaya pelestarian tidak hanya bergantung pada pihak tertentu.
Dorong Wisata Sejarah dan Ekonomi Lokal
Lurah Laweyan, Karsiyati, turut mengapresiasi kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam program tersebut.
Ia menilai pendekatan visual dan edukasi sejarah yang dilakukan mahasiswa dapat memperkuat daya tarik Laweyan sebagai kawasan wisata berbasis cagar budaya.
“Kreativitas yang terbangun diharapkan dapat memperkuat daya tarik wisata unggulan di Kawasan Laweyan,” tutur Karsiyati.
Menurutnya, semakin kuatnya daya tarik wisata sejarah dan budaya Laweyan juga berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat setempat.
Konsep Living Heritage Museum yang dikembangkan Tim Memoria pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana menjaga bangunan bersejarah, tetapi juga bagaimana membuat warisan budaya tetap hidup melalui keterlibatan masyarakat, kreativitas generasi muda, edukasi, dan aktivitas wisata.
Pameran dan Film Dokumenter Dibuka untuk Publik
Seluruh rangkaian program Memoria kemudian dipresentasikan melalui ekshibisi hasil karya infografis dan pemutaran perdana video dokumenter cagar budaya.
Kegiatan puncak tersebut digelar di nDalem Djimatan, Laweyan, Solo, Rabu (2/9/2026) dan dibuka untuk publik.
Melalui pameran dan film dokumenter tersebut, Tim Memoria berharap masyarakat dapat melihat Laweyan dari perspektif yang lebih luas: bukan hanya sebagai kawasan batik, tetapi sebagai ruang hidup yang menyimpan jejak sejarah, tradisi, arsitektur, cerita masyarakat, dan identitas budaya yang terus berkembang.
Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah mahasiswa DKV ISI Surakarta untuk membawa kekayaan sejarah Laweyan ke dalam kemasan visual yang lebih dekat dengan generasi masa kini, tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi identitas kawasan.








