Murid SD Belajar Membatik di Kampung Batik Laweyan 

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Sebanyak 82 murid kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta belajar membatik.

Puluhan murid ini mengikuti kegiatan outing class di Kampung Batik Laweyan, beberapa waktu lalu.

Mengambil tema “Mengenal Karya Seni Dekoratif Melalui Teknik Membatik”. Kegiatan ini selaras dengan pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) KD 3.1.  Mengetahui unsur-unsur seni rupa dalam karya dekoratif.

Eka Pratiwi Nugrahini, selaku guru SBdP, menyampaikan kegiatan outing class merupakan salah satu program kelas III. Yang sudah masuk dalam perencanaan kurikulum pada awal tahun ajaran 2023/2024.

“Kegiatan ini bertujuan memberikan keterampilan dan keahlian dasar murid. Sebagai sarana menumbuhkan kreativitas. Selaras dengan penerapan Kurikulum Merdeka, kegiatan outing class ini dapat menjadi metode pembelajaran yang menyenangkan. Untuk menambah pengetahuan tentang sejarah, budaya, serta kearifan lokal,” imbuhnya.

Kegiatan outing class mulai dengan sambutan dari pihak pengelola Kampoeng Batik Laweyan, Syifaul Karim.

Syifaul menjelaskan terciptanya ragam batik di Indonesia. Serta sejarah berdirinya Kampoeng Batik Laweyan yang merupakan kampung batik tertua di Indonesia.

“Batik perlu kita lestarikan karena seni membatik memerlukan ketelitian dan kesabaran dalam membuatnya. Proses awal pembuatan batik tulis mempengaruhi hasil akhirnya. Semakin rapi hasil lukisan semakin bagus pula proses pewarnaanya,” jelasnya saat memberikan sambutan.

Selanjutnya, murid masuk menjadi kelompok-keompok kecil. Setiap kelompok terdiri dari 4 murid. Proses membatik mulai dengan melukis menggunakan malam. Berbekal canting dan kain mori ukuran 35 cm x 35 cm. Murid mulai membubuhkan malam pada atas motif lukisan yang telah tersedia pihak Kampoeng Batik Laweyan.

Tahap selanjutnya adalah pewarnaan. Proses ini sangat menyenangkan. Karena para murid mendapat kebebasan untuk mengkombinasikan warna sesuai kreativas yang mereka inginkan. Menggunakan pewarna yang  terdiri 4 warna primer, yaitu hijau, kuning, biru, dan merah. Proses inilah yang nantinya akan menentukan keindahan batik tulis buatan anak-anak.

Tahap terakhir adalah proses penjemuran bawah sinar matahari. Proses ini membutuhkan waktu yang lama karena sebelum proses pencelupan NaCl kain harus pasti dalam keadaan kering.

Ratih Laila Rahmawati, selaku koordinator kelas III, menjelaskan untuk proses nglorot atau merebus kain pada air mendidih yang sudah tercampur dengan baking soda tidak dipraktikkan para murid.

“Hasil kreativitas membatik akan kami kirim ke sekolah tiga hari setelah kegiatan ini berlangsung. Tentunya para murid tak sabar menunggu hasil praktik kegiatan membatik hari ini,” terangnya.

Salah satu murid kelas III, Attiyah Dzikirya, mengungkapkan rasa ketertarikannya mengikuti kegiatan outing class kali ini.

“Seru sekali, baru pertama kali aku melukis kain mori menggunakan canting tulis. Sebagai alat bantu untuk melekatkan cairan malam di kain. Pada akhir sesi kita juga berkeliling melihat galeri batik dari masa ke masa,” ungkapnya.