Menteri Fadli Zon Sampaikan Pidato Kebudayaan di UTP, Dorong Mega Diversity Jadi Kekuatan Bangsa

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Prof. (Hons) Dr. Fadli Zon, M.Sc. menyampaikan Pidato Kebudayaan bertajuk “Mega Diversity sebagai Konsep Kebudayaan” di Universitas Tunas Pembangunan Surakarta (UTP), Rabu (26/8/2026).

Kegiatan yang digelar di Hall UTP Kampus 1 Surakarta tersebut menjadi ruang refleksi dan dialog mengenai keberagaman Indonesia sekaligus bagaimana kekayaan budaya dapat menjadi modal penting dalam membangun peradaban dan masa depan bangsa.

Fadli Zon hadir dan disambut langsung Rektor UTP Prof. Dr. Dra. Winarti, M.Si. serta Wali Kota Surakarta Respati Ardi yang turut memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut.

Dalam pidatonya, Fadli Zon menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keragaman yang sangat luas, mulai dari suku, bahasa, tradisi, kesenian, adat istiadat, hingga pengetahuan dan berbagai ekspresi budaya masyarakat.

Menurutnya, keberagaman tersebut bukan sekadar kekayaan yang diwariskan dari masa lalu, tetapi merupakan kekuatan yang harus dikelola, dilindungi, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Konsep mega diversity, kata Fadli, menawarkan cara pandang bahwa kebudayaan Indonesia merupakan kekayaan besar yang perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembangunan nasional.

Kebudayaan tidak hanya menjadi identitas dan warisan bangsa, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan.

“Ketika kebudayaan mampu dikembangkan secara kreatif, maka ia tidak hanya menjadi identitas dan warisan bangsa, tetapi juga dapat menciptakan peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Fadli Zon.

Fadli Zon Dorong Budaya Indonesia Manfaatkan Teknologi Digital

Fadli Zon juga menyoroti perkembangan teknologi digital yang semakin masif. Menurutnya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat global, terutama generasi muda.

Ia mencontohkan perkembangan industri budaya Korea Selatan, termasuk K-Pop, yang mampu menjangkau jutaan penggemar di berbagai negara.

Menurut Fadli, Indonesia juga memiliki potensi besar melalui industri film, musik, seni, dan berbagai produk budaya yang tidak hanya diminati masyarakat dalam negeri, tetapi mulai mendapatkan perhatian internasional.

“Di era digital saat ini kita harus memanfaatkan teknologi untuk membuat kebudayaan semakin dikenal, semakin dekat dengan generasi muda, dan tetap hidup di tengah perubahan zaman,” imbuhnya.

Karena itu, pemajuan kebudayaan dinilai perlu berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi dan kreativitas. Dengan pendekatan tersebut, kekayaan budaya Indonesia dapat memiliki jangkauan yang lebih luas sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Rektor UTP: Kampus Punya Tanggung Jawab Jaga Budaya

Rektor UTP Prof. Dr. Dra. Winarti, M.Si. menyampaikan apresiasi atas kehadiran Menteri Kebudayaan RI di lingkungan kampusnya.

Menurut Winarti, pidato kebudayaan menjadi momentum penting bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap kekayaan budaya Indonesia.

“Kami merasa sangat terhormat dan bangga Universitas Tunas Pembangunan dapat menjadi tempat diselenggarakannya Pidato Kebudayaan bersama Menteri Kebudayaan Republik Indonesia,” ujar Prof. Winarti.

Ia menegaskan kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menyiapkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memahami, menghargai, dan mampu mengembangkan kekayaan budaya bangsa.

“Bagi kami, kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan, karena perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memahami, menghargai, dan mampu mengembangkan kekayaan budaya bangsa,” lanjutnya.

Sebagai bagian dari masyarakat Surakarta, UTP juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga sekaligus mengembangkan ekosistem kebudayaan.

Winarti menilai keberagaman harus ditempatkan sebagai kekuatan yang mampu memperkuat persatuan serta menjadi sumber kreativitas dan inovasi.

“Tema Mega Diversity sebagai Konsep Kebudayaan sangat relevan dengan kondisi Indonesia serta dengan posisi Surakarta sebagai salah satu kota yang memiliki akar budaya yang kuat,” katanya.

Ia berharap forum tersebut dapat membuka ruang dialog lebih luas antara akademisi, pemerintah, budayawan, mahasiswa, dan masyarakat untuk bersama-sama memajukan kebudayaan Indonesia.

Respati: Kebudayaan Jadi Identitas Kota Surakarta

Sementara itu, Wali Kota Surakarta Respati Ardi menegaskan bahwa kebudayaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas Kota Surakarta.

Sebagai kota dengan sejarah dan tradisi budaya yang kuat, Surakarta dinilai memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya sekaligus memastikan kebudayaan tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Surakarta memiliki kekayaan budaya yang menjadi identitas sekaligus kekuatan kota. Kebudayaan bukan hanya sesuatu yang kita warisi dari para pendahulu, tetapi juga sesuatu yang harus kita rawat dan kembangkan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman,” ujar Respati.

Menurut Respati, keberagaman budaya harus menjadi energi positif dalam membangun masyarakat yang inklusif sekaligus memperkuat persatuan.

Ia juga menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena menjadi ruang bertemunya generasi muda, pengetahuan, gagasan, dan berbagai perspektif tentang kebudayaan.

“Surakarta tidak hanya ingin dikenal sebagai kota yang memiliki warisan budaya, tetapi juga sebagai kota yang mampu menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat dan pembangunan kota,” tambahnya.

Mega Diversity Jadi Aset Sosial dan Ekonomi

Pidato Kebudayaan Fadli Zon di UTP memberikan perspektif mengenai posisi mega diversity Indonesia sebagai kekuatan dan aset bangsa.

Keberagaman tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menyimpan potensi dalam bidang sosial, pendidikan, ekonomi, hingga diplomasi budaya.

Forum tersebut sekaligus memberikan kesempatan bagi mahasiswa dan civitas academica UTP untuk memperluas wawasan mengenai kebudayaan Indonesia serta memahami peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan budaya.

Penyelenggaraan Pidato Kebudayaan ini juga menegaskan komitmen UTP untuk menjadi ruang bertemunya gagasan akademik, kebudayaan, pemerintahan, dan masyarakat.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu melahirkan gagasan serta langkah nyata dalam mendukung pemajuan kebudayaan Indonesia, sekaligus memastikan keberagaman tetap menjadi kekuatan bangsa di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi digital.