JAKARTA, MettaNEWS — Jawa Tengah semakin menunjukkan daya tariknya sebagai salah satu tujuan investasi potensial di Indonesia. Melalui Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 di Jakarta, potensi investasi yang berhasil dihimpun mencapai Rp19,07 triliun.
Potensi tersebut berasal dari sejumlah komitmen investor dalam dan luar negeri yang mencakup berbagai sektor, mulai dari industri manufaktur, energi bersih, pariwisata, pengelolaan lingkungan, hingga pengembangan kawasan industri.
Nilai investasi tersebut masih berpotensi bertambah seiring berlanjutnya proses penjajakan dan tindak lanjut antara calon investor dengan pemerintah daerah maupun pelaku usaha di Jawa Tengah.
CJIBF 2026 digelar di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (27/8/2026). Forum tersebut menjadi gelaran kedua setelah sebelumnya berlangsung di Semarang pada Mei 2026.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, mengatakan CJIBF di Jakarta menjadi strategi Pemprov Jateng untuk mempertemukan langsung potensi investasi daerah dengan calon investor yang banyak beraktivitas di ibu kota.
“Kegiatan CJIBF diikuti sekitar 400 peserta yang terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola kawasan industri, asosiasi, BUMD, BUMN, perbankan, serta calon investor dari dalam dan luar negeri,” ujar Sakina.
Selain forum promosi, CJIBF 2026 juga menghadirkan agenda one-on-one meeting antara pelaku usaha dan calon investor. Dari agenda tersebut tercatat 74 pertemuan yang melibatkan 36 pelaku usaha.
Hasil pertemuan tersebut selanjutnya akan ditindaklanjuti melalui pendampingan investasi oleh pemerintah daerah.
Komitmen Investasi Capai Rp19,07 Triliun
Sejumlah komitmen investasi mengemuka dalam CJIBF 2026. Beberapa di antaranya dituangkan dalam Letter of Intent (LoI) untuk penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN).
PT Hyrecmas Garam Nusantara menyatakan rencana investasi sebesar Rp681,84 miliar. Kemudian PT Hailex Technology Indonesia dengan nilai Rp175 miliar dan PT Cipta Kreasi Wisata sebesar Rp200 miliar.
Sementara itu, PT Fayyad Industri Pangan Halal Terhubung mencatat rencana investasi terbesar dengan nilai mencapai Rp8,75 triliun.
Komitmen investasi lainnya datang dari PT Yosun Tire and Rubber Indonesia asal China. Perusahaan tersebut berencana menanamkan modal sebesar Rp4 triliun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang.
Selain investasi langsung, CJIBF 2026 juga menghasilkan kerja sama pengembangan Waste to Energy antara PT Energy3 International (E3i) Inc dengan tujuh kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Beragamnya sektor yang masuk dalam penjajakan investasi menunjukkan peluang investasi Jawa Tengah semakin berkembang. Investasi tidak lagi hanya berfokus pada manufaktur, tetapi mulai merambah energi bersih, pengelolaan lingkungan, pariwisata, serta industri berbasis nilai tambah.
Investor Asing Melirik Investasi Hijau
Daya tarik Jawa Tengah juga mendapat perhatian dari investor internasional. Perwakilan British Chamber, Danish Chamber of Commerce, dan Consul Asia, Ian Betts, menilai Jawa Tengah memiliki peluang besar dalam pengembangan investasi hijau, ekowisata, dan kawasan industri.
Menurutnya, konsep pembangunan berkelanjutan semakin menjadi pertimbangan penting bagi investor global.
“Saya melihat ada ketertarikan besar terhadap sektor hijau dan berkelanjutan, serta ekowisata. Ini merupakan hal baru dan sangat menarik sehingga investor asing mungkin akan tertarik dengan peluang tersebut,” kata Ian.
Ia juga menilai kawasan industri dan KEK menjadi keunggulan Jawa Tengah dalam menarik investor asing karena menawarkan ekosistem bisnis yang lebih siap, termasuk fasilitas, insentif, dan kepastian berusaha.
“Saya tertarik dengan Batang dan Kendal karena keduanya terhubung dengan kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri. Bagi saya, kawasan seperti itu lebih mudah dipromosikan kepada investor asing,” ujarnya.
Ahmad Luthfi: Investasi Harus Berdampak ke Masyarakat
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, Pemprov Jateng tidak hanya mengejar besarnya nilai investasi yang masuk. Pemerintah daerah ingin menciptakan ekosistem usaha yang mampu memberikan dampak luas terhadap perekonomian dan masyarakat.
“Tugas kami adalah mempermudah izin, menyiapkan lahan, menjaga keamanan, serta menjamin kepastian agar pertumbuhan ekonomi dan bisnis berkembang di Jawa Tengah,” ujar Luthfi.
Menurut Luthfi, setiap kabupaten dan kota di Jawa Tengah memiliki karakter serta keunggulan masing-masing. Karena itu, strategi investasi tidak dapat diterapkan dengan pendekatan yang seragam.
Strategi tersebut diarahkan agar investasi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah yang selama ini menjadi pusat industri. Pemerintah ingin investasi ikut melahirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah.
Dampak investasi juga diharapkan tidak berhenti pada pembangunan pabrik maupun masuknya modal. Pelaku usaha lokal harus mendapatkan kesempatan untuk masuk ke dalam rantai pasok industri.
Luthfi menyebut Jawa Tengah memiliki sekitar 4,2 juta UMKM skala mikro yang perlu didorong agar naik kelas.
“Yang dibutuhkan bukan hanya permodalan dan pemasaran, tetapi bagaimana usaha mikro bisa naik kelas menjadi kecil atau menengah,” katanya.
Dengan masuknya UMKM ke rantai pasok industri, investasi diharapkan dapat menciptakan efek berganda berupa penyerapan tenaga kerja, peningkatan kapasitas usaha lokal, serta pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Jateng Punya Modal Tangkap Investasi Teknologi
Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Ichsan Zulkarnaen, mengatakan arah investasi Indonesia ke depan akan semakin bergeser dari eksploitasi sumber daya alam menuju sektor bernilai tambah tinggi.
“Ke depan arah investasi Indonesia akan semakin beragam, tidak lagi hanya bertumpu pada ekstraksi sumber daya alam. Kita akan masuk kepada bagaimana menciptakan teknologi menengah dan tinggi, seperti data center, electric vehicle, artificial intelligence, digitalisasi logistik, dan energi baru terbarukan,” ujar Ichsan.
Menurut Ichsan, Jawa Tengah memiliki modal penting untuk menangkap peluang tersebut melalui keberadaan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus yang terus dikembangkan.
“Jawa Tengah menjadi salah satu pendorong investasi karena memiliki dua kawasan ekonomi khusus dan tujuh kawasan industri, yang beberapa di antaranya sudah memiliki fasilitas KLIK (Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi),” katanya.
Dengan potensi investasi Rp19,07 triliun dari CJIBF 2026, pekerjaan Jawa Tengah berikutnya adalah memastikan berbagai komitmen tersebut benar-benar terealisasi.
Realisasi investasi diharapkan tidak sekadar menghasilkan tambahan modal, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat UMKM, membangun rantai pasok lokal, dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Dengan demikian, investasi dapat menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sekaligus memastikan manfaat pembangunan dirasakan lebih merata oleh masyarakat di berbagai daerah.








