Rotary Youth Exchange Kirim Pelajar SMA St Yosef Solo Menimba Ilmu ke Kanada,  Bawa Misi Kenalkan Budaya Indonesia

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – SMA Pangudi Luhur Santo Yosef (St Yosef) Solo kembali membuka diri terhadap pengalaman pendidikan lintas negara melalui program Rotary Youth Exchange. Dalam program pertukaran pelajar selama 11 bulan tersebut, seorang siswa SMA St Yosef akan belajar di Kanada, sementara sekolah menerima pelajar dari Prancis.

Program pertukaran pelajar internasional itu merupakan inisiasi Rotary Club of Solo Area yang bertujuan memperkenalkan budaya baru, meningkatkan kemampuan bahasa asing, serta membentuk generasi muda berwawasan global sebagai bagian dari upaya membangun perdamaian dunia. Acara pisah sambut Rotary Youth Exchange digelar di lapangan SMA St Yosef Solo, Senin (10/8/2026).

Murid kelas XII SMA St Yosef, Grace Severin Bianca Pradana, akan menjalani pendidikan di Sacred Heart Catholic High School Walkerton, Ontario, Kanada. Sementara itu, SMA St Yosef menerima Lena Clotilde Mickaelle Duoueene dari Perancis.

Bianca mengaku mengikuti program tersebut setelah mendapat rekomendasi dari sang ibu. Ia kemudian memilih Kanada sebagai salah satu negara tujuan yang diinginkannya.

“Untuk dapat negaranya itu aku dikasih top list 10 negara yang pengen aku masuk ke situ. Nah, salah satunya saya masukin Kanada. Setelah melewati beberapa tes, interview, dan lain sebagainya, saya akhirnya dapat hasil ke Kanada,” kata Bianca.

Selama hampir satu tahun di Kanada, Bianca tetap akan menjalankan sejumlah kewajiban akademik dari SMA St Yosef. Ia akan menerima materi pembelajaran dan mengerjakan tugas yang dibutuhkan untuk menunjang nilai rapornya. Bianca juga telah mendapatkan keluarga angkat di Kanada yang juga merupakan anggota Rotary.

Menghadapi perbedaan cuaca yang cukup ekstrem, Bianca mengaku telah mempersiapkan berbagai kebutuhan, terutama pakaian hangat.

“Di Kanada kan dinginnya dingin banget ya. Apalagi kalau mulai September. Jadi saya sudah nyiapin banyak banget baju hangat,” ujarnya.

Tak hanya pakaian, Bianca juga membawa sejumlah suvenir khas Indonesia untuk diberikan kepada keluarga angkat dan teman-temannya di Kanada. Beberapa di antaranya berupa Kopiko sachet, wayang kecil, dan gantungan kunci yang merepresentasikan Indonesia.

Pelajar Perancis Belajar Budaya Solo

Di sisi lain, Lena datang ke Solo dengan tujuan yang tak kalah menarik. Pelajar asal Prancis tersebut tertarik mengikuti program pertukaran karena ingin menjelajahi negara lain, mempelajari budaya, mencicipi makanan, serta mendapatkan teman baru.

Lena mengaku sempat merasa khawatir ketika pertama kali tiba di bandara karena kemampuan bahasa Inggrisnya belum terlalu mantap. Ia sempat takut tersesat, namun perjalanan hingga tiba di Solo berjalan lancar. Ia pun langsung mengikuti kegiatan di SMA St Yosef.

Lena menemukan sejumlah perbedaan antara sistem kehidupan sekolah di Prancis dan Indonesia. Salah satunya terkait pakaian dan kegiatan sekolah.

“Di sekolah saya, kami tidak mengenakan seragam, kami bebas memakai pakaian apa pun yang kami inginkan. Selain itu, tidak ada upacara bendera saat memulai kegiatan sekolah,” ujarnya.

Selama berada di Indonesia, Lena juga mulai mencicipi berbagai makanan khas. Nasi goreng dan tempe menjadi makanan yang sudah dicobanya.

Dari keduanya, tempe menjadi salah satu makanan favoritnya.

Jadi Inspirasi 518 Siswa

Kepala SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo, Bruder Yohanes Sudarman FIC, mengatakan program pertukaran pelajar tersebut menjadi pengalaman sekaligus inspirasi bagi siswa di sekolahnya.

Menurut dia, kesempatan belajar di negara lain tidak hanya memberikan pengalaman akademik, tetapi juga mengajarkan kemampuan beradaptasi dengan iklim, budaya, kehidupan sosial, hingga lingkungan baru.

“Ini menjadi bentuk penyemangat bahwa siapa saja yang mau dan mampu itu bisa belajar ke berbagai tempat, belajar di mana saja, dan juga bisa belajar menyesuaikan diri dengan iklim, budaya, sosial, dan psikologis,” katanya.

Program pertukaran pelajar internasional tersebut menjadi kerja sama pertama SMA St Yosef dengan Rotary dalam bentuk pertukaran pelajar. Sekolah yang memiliki sekitar 518 siswa itu juga membuka kesempatan bagi Lena untuk mempelajari kehidupan dan budaya di Solo.

“Tujuan beliau ini adalah untuk belajar, yaitu belajar tentang budaya, belajar tentang kehidupan sosial di Solo. Kami juga mau belajar dengan Lena bagaimana mereka berproses dalam belajar ketika menempuh pendidikan di Prancis,” ujar Bruder Yohanes.

Selama menjalani pertukaran, Bianca tetap berstatus sebagai siswa SMA St Yosef. Sekolah akan bekerja sama dengan keluarga dan Bianca untuk mengirimkan materi pembelajaran selama ia berada di Kanada.

Dengan demikian, program pertukaran tersebut tidak menghilangkan status Bianca sebagai siswa SMA St Yosef dan diharapkan tidak mengganggu target kelulusannya.

Rotary Kirim 21 Pelajar Indonesia ke Luar Negeri

Ketua Yayasan Pertukaran Pemuda Rotary Distrik 3420, Febri Hapsari Dipokusumo, mengatakan Rotary Youth Exchange merupakan salah satu program Rotary International yang bertujuan mendorong pemahaman lintas budaya dan perdamaian dunia.

Pada periode ini, Rotary Distrik 3420 mengirim 21 pelajar Indonesia ke berbagai negara dan menerima 18 pelajar asing untuk mengikuti program pertukaran.

“Program ini bisa diikuti oleh anak-anak yang berusia 15 sampai 19 tahun. Ini adalah program bukan full funded, tetapi program yang disponsori oleh Rotary,” kata Febri.

Menurutnya, program tersebut bukan pertukaran akademik semata, melainkan lebih menitikberatkan pada pertukaran budaya.

Peserta akan tinggal bersama keluarga angkat yang merupakan keluarga Rotary di negara tujuan. Selama sekitar 11 bulan, peserta umumnya akan berpindah ke sekitar tiga keluarga angkat sehingga dapat merasakan pengalaman hidup dalam lingkungan keluarga yang berbeda.

Biaya hidup, sekolah, transportasi, dan akomodasi selama berada di negara tujuan pada prinsipnya ditanggung oleh keluarga setempat dalam skema program resiprokal. Sementara orang tua peserta tetap menanggung sejumlah kebutuhan seperti administrasi, tiket pesawat, dan asuransi.

Febri menyebut peserta dari Indonesia pada periode ini tersebar ke berbagai negara, di antaranya Kanada, Austria, Jerman, Italia, Brasil, dan sejumlah negara lainnya.

Khusus di Solo, terdapat pelajar yang dikirim ke Kanada dan Austria, sementara pelajar dari Prancis dan Brasil diterima untuk mengikuti program di Indonesia.

Sejumlah sekolah di Solo juga telah menjadi mitra program Rotary Youth Exchange, di antaranya SMA Regina Pacis, SMA Negeri 1, SMA Negeri 4, dan SMK Negeri 4.

“Kami berharap ke depan akan lebih banyak lagi anak-anak Solo yang punya kesempatan untuk bisa mengikuti program pertukaran pemuda ini,” kata Febri.

Melalui program tersebut, pengalaman belajar tidak lagi dibatasi ruang kelas. Pelajar Indonesia dapat membawa budaya lokal ke dunia internasional, sementara pelajar asing memperoleh kesempatan mengenal Indonesia secara langsung.

Bagi SMA St Yosef, kedatangan Lena dan keberangkatan Bianca menjadi awal dari perjalanan baru untuk memperluas wawasan siswa sekaligus membangun jembatan persahabatan lintas negara.