SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani penyerahan bantuan komposter kepada Kelurahan Punggawan yang merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Surakarta dengan Gereja Santo Petrus Purwosari, Selasa (14/7/2026).
Menurut Astrid, sinergi antara pemerintah, komunitas, lembaga keagamaan, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan, dimulai dari lingkungan rumah tangga.
“Kami sangat mengapresiasi Gereja Santo Petrus Purwosari yang telah menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Ini adalah contoh bahwa persoalan sampah adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, tetapi membutuhkan dukungan komunitas, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, hingga masyarakat di tingkat kampung,” pada Astrid.
Ia menjelaskan, persoalan sampah menjadi salah satu tantangan utama perkotaan seiring meningkatnya pembangunan, berkurangnya ruang terbuka hijau, serta dampak perubahan iklim. Oleh karena itu, upaya pengurangan sampah harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Berdasarkan data Pemerintah Kota Surakarta, sekitar 65 persen timbunan sampah di Kota Bengawan merupakan sampah organik. Menurut Astrid, apabila sampah tersebut dipilah sejak dari rumah dan diolah menjadi kompos, volume sampah yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo dapat berkurang secara signifikan.
“Sebagian besar sampah kita adalah sampah organik yang sebenarnya masih memiliki nilai manfaat. Kalau dipilah sejak awal, kemudian diolah menjadi kompos, bukan hanya mengurangi beban TPA Putri Cempo, tetapi juga menghasilkan pupuk yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” katanya.
Astrid menambahkan, kompos hasil pengolahan sampah organik dapat dimanfaatkan untuk penghijauan lingkungan maupun mendukung kegiatan urban farming di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Selain memperbaiki kualitas lingkungan, langkah tersebut juga dapat mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Dalam kegiatan tersebut, Pemerintah Kota Surakarta bersama Gereja Santo Petrus Purwosari menyerahkan enam unit komposter kepada Kelurahan Punggawan, sesuai jumlah rukun warga (RW) di wilayah tersebut. Bantuan itu diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus mendorong terbentuknya kebiasaan baru masyarakat dalam mengelola sampah organik secara mandiri.
Astrid berharap pelatihan pembuatan kompos tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan masyarakat yang berkelanjutan.
“Kita mulai dari langkah sederhana, memilah sampah dari rumah, mengolah sampah organik menjadi kompos, serta mengurangi food waste. Jika dilakukan bersama-sama, dampaknya akan sangat besar bagi kebersihan Kota Surakarta. Semoga kolaborasi seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi komunitas, organisasi kemasyarakatan, maupun lembaga keagamaan lainnya untuk ikut bergerak menjaga lingkungan,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi ini, Pemerintah Kota Surakarta berharap pengelolaan sampah berbasis masyarakat semakin berkembang sehingga penanganan sampah tidak hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama seluruh warga dalam mewujudkan Surakarta yang bersih, hijau, dan berkelanjutan.








