Gelombang Panas di Eropa Jadi Alarm, Guru Besar UMS Minta Indonesia Perkuat Adaptasi Iklim

oleh
oleh
Ilustrasi situasi negara-negara di Eropa yang terkena gelombang panas | MettaNEWS / dok UMS

SOLO, MettaNEWS – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa pekan terakhir menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim kini semakin nyata. Meski Indonesia memiliki karakter iklim yang berbeda sehingga kecil kemungkinan mengalami heatwave seperti di Eropa, masyarakat dan pemerintah tetap perlu memperkuat langkah adaptasi terhadap perubahan iklim.

Guru Besar Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., menjelaskan bahwa fenomena heatwave di Eropa merupakan hasil interaksi berbagai faktor atmosfer, kondisi geografis, dan perubahan iklim global. Menurutnya, fenomena tersebut tidak dapat disamakan dengan cuaca panas yang terjadi di Indonesia.

Heatwave di Eropa merupakan hasil interaksi berbagai faktor atmosfer, geografis, dan perubahan iklim. Fenomena ini berbeda dengan El Niño yang merupakan interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik. Namun, pemanasan global membuat peluang terjadinya suhu ekstrem menjadi semakin besar di berbagai belahan dunia,” ujarnya, Senin (6/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia telah menyebabkan suhu rata-rata bumi terus meningkat. Ketika kondisi atmosfer tertentu, seperti sistem tekanan tinggi yang bertahan lama, terjadi di Eropa, suhu udara dapat melonjak jauh di atas normal selama beberapa hari berturut-turut.

Selain perubahan iklim, gelombang panas di Eropa juga diperparah oleh sejumlah faktor, seperti fenomena blocking high pressure, kekeringan tanah, meningkatnya suhu permukaan Laut Mediterania, hingga efek Urban Heat Island akibat dominasi beton, aspal, dan minimnya ruang terbuka hijau.

Meski demikian, Kuswaji menegaskan bahwa Indonesia yang beriklim tropis memiliki karakter cuaca berbeda dengan negara-negara subtropis. Kondisi yang lebih mungkin terjadi di Indonesia adalah meningkatnya jumlah hari bersuhu maksimum tinggi, indeks panas yang semakin besar akibat kelembapan udara yang tinggi, serta meningkatnya risiko kekeringan saat fenomena El Niño berlangsung.

“Yang lebih mungkin terjadi di Indonesia adalah meningkatnya jumlah hari dengan suhu maksimum tinggi, indeks panas yang semakin besar karena kelembapan udara tinggi, serta meningkatnya risiko kekeringan ketika terjadi El Niño,” katanya.

Menurutnya, kombinasi suhu dan kelembapan yang tinggi justru membuat tekanan panas di Indonesia dapat terasa lebih berat dibandingkan wilayah berudara kering. Karena itu, masyarakat tidak hanya perlu memperhatikan angka suhu udara, tetapi juga kelembapan, intensitas paparan matahari, dan lamanya aktivitas di luar ruangan.

Guru Besar Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si.,

Kuswaji menilai fenomena tersebut menjadi peringatan agar Indonesia memperkuat strategi adaptasi terhadap perubahan iklim. Pembangunan, menurutnya, tidak lagi cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan daya dukung lingkungan.

Ia mencontohkan perkembangan kawasan perkotaan di Jawa Tengah, khususnya Solo Raya, yang terus mengalami alih fungsi lahan menjadi permukiman, kawasan perdagangan, industri, dan infrastruktur. Jika tidak diimbangi dengan penyediaan ruang terbuka hijau, suhu kawasan perkotaan akan terus meningkat akibat efek pulau panas perkotaan.

“Permukaan yang didominasi beton dan aspal akan menyerap panas lebih besar dibandingkan lahan yang masih memiliki vegetasi. Akibatnya, suhu udara di pusat kota akan terasa lebih tinggi dibandingkan daerah yang masih memiliki banyak pepohonan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kenaikan suhu juga berdampak pada berbagai sektor, mulai dari pertanian, kesehatan, hingga energi. Di sektor pertanian, kebutuhan air tanaman meningkat sehingga berpotensi menurunkan produktivitas. Sementara di kawasan perkotaan, penggunaan pendingin ruangan yang semakin tinggi akan meningkatkan konsumsi energi.

Dari sisi kesehatan, kelompok rentan seperti lansia, balita, ibu hamil, pekerja lapangan, dan masyarakat dengan penyakit kronis menjadi pihak yang paling berisiko mengalami gangguan akibat tekanan panas.

Karena itu, Kuswaji mendorong pemerintah memperkuat sistem peringatan dini terhadap suhu ekstrem sebagaimana peringatan banjir maupun gempa. Informasi mengenai indeks panas dan risiko kesehatan akibat cuaca panas dinilai perlu disampaikan secara rutin kepada masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam meningkatkan literasi perubahan iklim melalui riset dan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa dapat berkontribusi melalui penelitian berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG), penginderaan jauh, maupun survei lapangan untuk memetakan kawasan pulau panas perkotaan dan menyusun rekomendasi tata ruang yang lebih adaptif.

“Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, tetapi sedang terjadi saat ini. Karena itu, respons yang diperlukan bukan sekadar mengurangi emisi, melainkan membangun ketahanan wilayah melalui tata ruang yang adaptif, pelestarian ruang hijau, penguatan sistem peringatan dini, dan peningkatan literasi iklim masyarakat,” tegasnya.

Kuswaji berharap meningkatnya perhatian dunia terhadap gelombang panas dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat kesadaran ekologis. Menurutnya, setiap pohon yang ditanam, ruang hijau yang dipertahankan, penelitian yang menghasilkan solusi, hingga perubahan perilaku masyarakat merupakan investasi penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Heatwave di Eropa mungkin terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, tetapi perubahan iklim tidak mengenal batas negara. Pelajarannya bukan menunggu suhu mencapai 45 derajat Celsius, melainkan mulai membangun kota yang lebih hijau, menjaga sumber daya alam, dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk beradaptasi sejak hari ini,” pungkasnya.