Pelaku UMKM Solo Raya Ramai-Ramai Rem Pinjaman Bank, OJK Ungkap Penyebabnya

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Ketidakpastian kondisi ekonomi membuat banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Solo Raya memilih menahan diri untuk mengajukan pinjaman ke perbankan. Bahkan, tidak sedikit pelaku usaha yang telah mengajukan kredit namun akhirnya memutuskan tidak mengambil fasilitas pembiayaan tersebut.

Fenomena itu tercermin dari kinerja perbankan Solo Raya periode April 2026 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kota Solo. Dalam laporan tersebut, penyaluran kredit perbankan tercatat mengalami penurunan sebesar 1,70 persen atau setara Rp1,78 triliun.

Kepala OJK Kota Solo, Mohammad Mufid, mengatakan penurunan tersebut dipengaruhi sikap pelaku UMKM yang cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.

“Banyak pelaku UMKM yang memilih ngerem untuk tidak pinjam uang ke bank. Karena sektor ini memang sedang melambat,” kata Mufid di Solo, Jumat (12/6/2026).

Mufid mengungkapkan, secara umum terdapat pelaku usaha yang telah mengajukan kredit dan mendapatkan persetujuan, namun pada akhirnya memilih tidak mencairkan pinjaman karena khawatir tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran di masa mendatang.

“Karena kondisinya masih wait and see. Dari sisi dukungan usaha memang terasa lebih berat, sehingga mereka lebih berhati-hati,” ujarnya.

Untuk mendorong kembali pertumbuhan ekonomi daerah, OJK bersama pemerintah daerah di Solo Raya tengah menyiapkan berbagai strategi pengembangan sektor unggulan. Di Kota Solo, salah satu fokus yang didorong adalah pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Kami bersama Pak Wali Kota dan para pelaku usaha sedang menginisiasi bagaimana menggerakkan ekonomi daerah sesuai basis unggulan Kota Solo, yaitu pariwisata dan ekonomi kreatif,” jelasnya.

Mufid menilai sektor tersebut memiliki potensi besar menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di tengah perlambatan yang terjadi pada sektor perdagangan besar maupun industri manufaktur.

“Kami mendorong lahirnya sumber ekonomi baru. Ketika banyak wisatawan datang ke Solo, baik dari daerah lain maupun luar negeri, dampaknya akan sangat besar bagi perekonomian masyarakat,” katanya.

Selain perkembangan kredit, OJK juga mencatat meningkatnya permohonan akses informasi melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Menurut Mufid, kondisi tersebut menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya rekam jejak keuangan.

Ia menjelaskan bahwa data SLIK kini tidak hanya digunakan lembaga jasa keuangan dalam menilai kelayakan kredit, tetapi juga mulai menjadi salah satu pertimbangan dalam proses rekrutmen tenaga kerja di sejumlah perusahaan.

“SLIK menjadi informasi penting bagi lembaga jasa keuangan dalam mengambil keputusan. Bahkan sekarang ada perusahaan yang menjadikan SLIK sebagai salah satu bahan pertimbangan saat merekrut karyawan,” ungkapnya.

Karena itu, masyarakat diminta menjaga rekam jejak keuangan dengan baik, termasuk memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman maupun layanan paylater tepat waktu.

“Semua catatan akan terekam. Kalau memiliki tunggakan, termasuk paylater yang tidak dibayar, itu akan muncul dalam catatan SLIK. Jadi masyarakat perlu menjaga track record pinjamannya di setiap lembaga keuangan,” tegas Mufid.

Menurutnya, disiplin dalam mengelola kewajiban keuangan akan memberikan manfaat jangka panjang, baik untuk memperoleh akses pembiayaan maupun peluang karier di masa depan.