Meski Warga Jatim, Santri Penghafal 30 Juz di Demak Terima Bisarah dari Pemprov Jateng

oleh
oleh

DEMAK, MettaNEWS — Kebahagiaan terpancar dari wajah Vincha Fitria, santriwati asal Lamongan, Jawa Timur, usai menerima bisarah atau tali asih dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Penghargaan itu diberikan karena dirinya berhasil menghafal 30 juz Al-Qur’an di Pondok Pesantren Al Furqon, Mranggen, Kabupaten Demak.

Bisarah tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen dalam acara Pengajian Akbar Khotmil Qur’an ke-17 Ponpes Al Furqon di Dusun Tlogo, Desa Batusari, Kecamatan Mranggen, Minggu (24/5/2026).

“Alhamdulillah, terima kasih banyak Wakil Gubernur Jawa Tengah,” ujar Fitria dengan wajah sumringah usai menerima penghargaan.

Santriwati yang berencana melanjutkan pendidikan ke sekolah keperawatan itu mengaku membutuhkan waktu sekitar lima tahun enam bulan untuk menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an.

Atas capaian tersebut, Fitria berhak menerima bisarah senilai Rp1 juta dari Pemprov Jateng. Ia menjadi satu dari tujuh santri penghafal Al-Qur’an 30 juz yang menerima tali asih pada kesempatan tersebut.

Dalam tausiyahnya, Taj Yasin Maimoen atau yang akrab disapa Gus Yasin menyampaikan rasa syukur karena dapat menyerahkan langsung bisarah kepada para penghafal Al-Qur’an.

Menurutnya, para penerima berasal dari berbagai daerah dengan waktu penyelesaian hafalan yang berbeda-beda.

“Ada yang menyelesaikan dalam tiga tahun, ada juga lima tahun. Asalnya pun dari berbagai daerah, ada Kendal, Mranggen, Demak, bahkan Lamongan, Jawa Timur,” kata Gus Yasin.

Ia menjelaskan, program bisarah bagi penghafal kitab suci merupakan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang diberikan tanpa proses proposal rumit. Syarat utamanya hanya telah menyelesaikan hafalan kitab suci dan menjalani wisuda.

Bahkan, penerima tidak harus ber-KTP Jawa Tengah, melainkan cukup menjadi santri atau pelajar yang menempuh hafalan kitab suci di wilayah Jawa Tengah.

“Ini merupakan kebijaksanaan di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki program memberikan tali asih kepada siapa pun yang menghafal kitab suci untuk agamanya,” jelasnya.

Gus Yasin menambahkan, program tersebut tidak hanya berlaku bagi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga kitab suci agama lain seperti Injil maupun Taurat bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an merupakan simbol keilmuan, kecerdasan, dan pedoman hidup umat Islam.

“Walaupun satu ayat atau satu surat, kita harus terus belajar Al-Qur’an. Al-Qur’an identik dengan salat, karena ibadah yang di dalamnya ada bacaan Al-Qur’an adalah salat,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Gus Yasin mengajak para santri untuk terus mendalami ilmu Al-Qur’an dan menjadi generasi penerus penjaga kitab suci.

“Saya yakin masyarakat Jawa Tengah akan memperoleh barokah dari Al-Qur’an. Kejar terus ilmu-ilmu yang ada di dalam Al-Qur’an agar bisa menjadi estafet penjaga Al-Qur’an secara kaffah,” pungkasnya.