SOLO, MettaNEWS — Sebanyak 100 penari perempuan tengah dipersiapkan untuk tampil dalam pentas “Jebres Menari” yang akan digelar pada 19 April 2026 dalam rangka memperingati Hari Kartini dan Hari Tari Dunia.
Persiapan tersebut mendapat perhatian langsung dari Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani yang mengunjungi latihan Paguyuban Tari Langen Mataya di Pendapa Langen Mataya Gendhon Humardani, Kelurahan Jebres, Selasa (10/3).
Dalam kunjungan tersebut, Astrid meninjau langsung latihan para penari sekaligus memberikan semangat kepada para anggota paguyuban. Kegiatan ini turut dihadiri Heru Mataya, Nanik Sri Prihatini, Lurah Jebres, Ketua RW setempat, serta Ketua LPMK Jebres Tamso.
Astrid mengaku terharu melihat semangat para anggota paguyuban yang sebagian besar merupakan ibu-ibu dan tetap aktif menari meski telah berusia lanjut. Ia menyebut momen tersebut mengingatkannya pada masa ketika dirinya belajar menari dan berlatih gamelan.
“Saya sangat semangat dan terinspirasi melihat semangat para ibu-ibu di sini. Cita-cita saya untuk terus mengemban budaya tidak pernah berhenti,” ujar Astrid.
Pada kesempatan itu, Astrid juga ikut menari bersama anggota Paguyuban Langen Mataya. Kehadirannya di tengah para penari disambut hangat dan menambah semarak suasana latihan di pendapa tersebut.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Paguyuban Langen Mataya atas komitmennya dalam menjaga dan melestarikan seni tari sebagai bagian penting dari identitas budaya Kota Surakarta.
Sementara itu, Nanik Sri Prihatini berharap Pemerintah Kota Surakarta terus memberikan dukungan terhadap berbagai upaya pelestarian seni budaya yang dilakukan masyarakat.
“Semoga Pemerintah Kota Solo selalu hadir dalam semua hal yang telah kami lakukan dalam pelestarian seni tari, khususnya di Pendapa Gendhon Humardani ini,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nanik juga memberikan sampur berwarna pink kepada Astrid sebagai simbol ajakan agar Wakil Wali Kota Surakarta itu turut berpartisipasi dalam acara “Jebres Menari”.
Astrid menegaskan bahwa seni tari tidak sekadar soal gerakan, tetapi juga membutuhkan pemahaman dan penghayatan yang mendalam. Menurutnya, menari harus memiliki tiga unsur penting, yaitu ilmu, kemampuan, dan rasa agar nilai budaya yang terkandung di dalamnya dapat tersampaikan dengan baik.
Kunjungan ini menjadi bentuk apresiasi Pemerintah Kota Surakarta terhadap para pegiat seni yang terus menjaga eksistensi budaya lokal. Melalui dukungan bersama antara pemerintah dan masyarakat, Kota Surakarta diharapkan dapat terus memperkuat posisinya sebagai kota budaya yang kaya akan tradisi dan kreativitas seni.








