SOLO, MettaNEWS – Salah satu tempat distributor di Pasar Legi, Toko Nugroho CV Sentosa dipenuhi antrean pembeli minyak goreng curah yang membawa jeriken, Kamis (24/3/2022). Antrean panjang tersebut diduga karena distributor lain di Pasar Legi tidak memiliki stok minyak goreng.
Sebagai toko distributor, Toko Nugroho menjual minyak goreng curah dibawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni seharga Rp 15.300/kilogram. Pasalnya kelangkaan minyak goreng baik yang curah maupun kemasan masih terjadi, sehingga masyarakat pun rela untuk mengantre ketika terdapat penjualan minyak goreng berskala besar. Salah satunya, pedagang asal Grogol, Sukoharjo bernama Murwanti (53) yang rela antre sejak pukul 09.00 pagi.
Meskipun sering kehabisan stok saat mengantre, Murwanti mengungkapkan ia tidak berputus asa untuk mengantre di waktu selanjutnya. Selama 5 jam tidak mendapatkan minyak goreng curah, Murwanti mengaku sering mencari stok minyak dibeberapa pasar di Solo untuk dijual kembali di warung miliknya. Antrean minyak di Pasar Legi kali ini, Murwanti menyebut tidak menggunakan nomor antrean namun membawa fotokopi KTP.
Tidak ada pembatasan dalam pembelian minyak goreng ditempat tersebut, namun Murwanti menyebut ada syarat yang diberikan dari pihak toko. Yakni pembeli tidak bisa hanya membeli minyak goreng saja, melainkan harus membeli barang lain seperti gula atau tepung.
“Kalau beli nggak bisa cuma beli minyak goreng aja, harus ada gandengannya, kaya gula atau gandum. Tapi kalau mau beli eceran seliter bisa. Kalau beli banyak ya gandengannya harus banyak,” ungkap Murwanti ditengah kegiatan mengantre, Kamis siang (24/3/2022).
Murwanti menuturkan usai membeli stock minyak goreng, ketersediaan di warung miliknya cepat habis dalam sehari. Membawa 2 jiriken, ia menyebut pembelian minyak goreng di Toko Nugroho melalui proses refil timbang.
“Kalau belinya banyak kan harus beli barang lain juga, jadi saya menyesuaikan dengan stok yang habis di warung itu apa. Terakhir saya dapet minyak itu Selasa (22/3),” ungkapnya.
Pembelian minyak yang terhitung cukup jauh dari tempat tinggalnya, Murwanti menyebut harga disesuaikan dengan hati (perasaan). Pasalnya ia menghitung dari jarak dan juga perjuangan mendapatkan minyak goreng. Sehingga Murwanti menyebut harga tidak selalu sama melainkan berubah-ubah menyesuaikan pula dengan harga pembelian untuk akhirnya dapat ditentukan harga yang sesuai.
Selain itu, ia juga mengeluhkan sistem pembayaran yang relatif lama karena harus melayani pembelian barang lain selain minyak goreng yang menyebabkan antrean semakin lama.
Murwanti mengungkapkan adanya perbedaan yang ia rasakan ketika membeli minyak goreng di pasar lain. Biasanya ia bisa mendapatkan minyak goreng yang dijual seharga Rp 16.500/kilogram tanpa harus membeli barang lain. Meskipun terdapat selisih harga sebanyak Rp 1.300, pihaknya mengaku lebih memilih membeli dengan sistem tanpa gandengan, karena lebih efektif.
“Karena sistemnya seperti ini, meskipun berbeda harga sedikit. Tapi lebih efektif karena transaksinya enggak lama,” pungkasnya.







