Kopi Geprek, Tantangan Baru Menikmati Biji Liberica

oleh
oleh
Kopi Geprek | dok Watu Lumbung

MENYEDUH kopi, menikmati segala aroma dan citarasa yang sudah dikenal banyak orang, merupakan cara yang merugi bagi Muhammad Boy Rifai. Pengelola Wisata Edukasi Watu Lumbung di selatan Kota Yogyakarta itu menawarkan cara lain yang menurutnya lebih praktis dan memiliki sejumlah kelebihan.

“Ah, kalau kopi disangrai, lalu digiling, itu kan cara kolonial. Kulit, daging buah, jadi hilang. Padahal pasti banyak zat yang bermanfaat bagi tubuh di sana. Ini ada cara lebih praktis, bahkan nantinya setiap orang bisa menikmati kopi segar dengan menanam sendiri sebatang dua batang di rumah,” ujar Mbah Boy, begitu dia biasa dipanggil oleh kawan dan tamu-tamu pelanggan Watu Lumbung.

Boy menginisiasi kopi geprek. Sekitar 4-5 butir buah kopi segar, tidak usah menunggu terlalu masak, digeprek hingga lumat. Lalu diseduh dengan air mendidih secangkir. Untuk rasa manis, dia menambahkan sedikit madu. Selesai.

Hasilnya adalah minuman cokelat bening seperti teh, tapi dengan cita rasa kopi. Memang enak dan segar, dengan manis madu asli menyeruak di antara rasa kopi yang agak sepet. Tidak ada rasa asam yang bisa mengganggu lambung.

Di Watu Lumbung, Boy menggunakan buah kopi liberica. Namun, dia yakin semua jenis kopi bisa digeprek dan dinikmati. Robusta, Arabica, pada prinsipnya semua kopi bisa dinikmati tanpa melewati proses pabrik.

Meski, soal selera tentu tidak bisa dipaksakan kepada semua orang. Tapi, setidaknya kopi geprek ala Mbah Boy cukup masuk akal untuk ditawarkan sebagai alternatif cara menikmati kopi.

“Minggu ini saya akan ke Bali, memperkenalkan kopi geprek di sana,” tutur Boy.

Sebelum ke Bali, dia sudah menyuguhkan kopi geprek di Watulumbung, juga membawanya ke berbagai forum. Seperti beberapa waktu kemarin, dia membawa sekitar seratus cangkir ke kegiatan latihan seni Sompilan di Asdrafi, Yogyakarta.

“Rasanya enak, aneh tapi segar,” komentar Ajeng dan Gading, dua pengunjung di Asdrafi malam itu.