AIESEC in UNS Gaungkan Peran Pemuda Jadi Agen Utama Menuju Surakarta Digdaya

oleh
AIESEC in UNS
Acara Forum Muda Surakarta dengan tema “Harmoni Pemuda: Langkah Bersama Menuju Surakarta Digdaya” Forum Muda Surakarta berhasil membawakan isu-isu kompleks, Minggu (21/7/2024) | Dok. AIESEC in UNS

SOLO, MettaNEWS – Forum Muda Surakarta kembali hadir ditahun ini untuk menjembatani diskusi antara pemuda dan pemerintah di Surakarta.

Acara Forum Muda Surakarta kali ini diadakan selama dua hari pada Sabtu, 1 Juni dan Minggu, 2 Juni 2024. Dengan mengusung tema “Harmoni Pemuda: Langkah Bersama Menuju Surakarta Digdaya” Forum Muda Surakarta berhasil membawakan isu-isu kompleks dan menarik bersama dengan para pembicara yang ahli dalam bidangnya.

Isu serta materi yang dibahas pada Forum Muda Surakarta mengacu pada peran SDGs nomor 3 dan 11 yang menjadi salah satu fokus perhatian di Surakarta.

Pada hari pertama, sesi pertama dibawakan oleh Reni Andri Lestari dengan membahas tentang perkembangan kondisi di Kota Surakarta.

Pembahasan yang dibawakan oleh Reni mencakup tentang isu smart economy, stunting dan program-program yang diadakan oleh Bappeda Surakarta untuk menangani permasalahan yang ada di Surakarta. Reni selaku perwakilan dari Bappeda Surakarta turut menjelaskan tentang perkembangan program-program yang diusung oleh Bappeda melalui data-data serta indikator diagram capaian program-program yang ada.

Diakhir sesinya, Reni memberi sebuah pesan yaitu “Kalau ingin hidup bahagia, hiduplah di Surakarta”.

Pada sesi berikutnya yakni sesi kedua, materi yang dibawakan oleh para pembicara terfokus pada isu stunting yang ada di Kota Surakarta.

Isu yang kompleks ini dibawakan langsung oleh Purwanti, SKM, M.Kes dan Dr. Hari Wahyu Nugroho. MKes., SpA(K) yang merupakan ahli dibidang tumbuh kembang anak. Sesi ini memberikan banyak insight terkait jumlah angka stunting di Surakarta dan strategi-strategi apa saja yang dicanangkan oleh pemerintah untuk menurunkan jumlah angka stunting di Surakarta.

Dr. Hari Wahyu Nugroho juga turut memberikan edukasi kepada para delegates seputar pencegahan stunting, kesehatan keluarga dan juga kesehatan calon Dr. Hari Wahyu Nugroho menegaskan pentingnya pencegahan stunting dan hal ini dapat dilakukan sejak sebelum masa kehamilan.

Para remaja putri dapat menjadi agen utama yang menyukseskan penurunan angka stunting dengan mengonsumsi tablet tambah darah secara rutin dan mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. 

Selanjutnya sesi yang tidak kalah menarik untuk dibahas adalah sesi terakhir pada hari pertama yang membahas tentang isu smart economy. Sesi ini dibawakan oleh Endang Kurnia Maharani, S.Sos, M.Si dan Teguh Wiji Setyahadi S.Psi selaku perwakilan dari Dinas Perdagangan Kota Surakarta dan Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian Kota Surakarta.

Sesi smart economy ini berkaitan erat dengan peran Gen Z dalam bidang wirausaha serta digitalisasi UMKM yang ada di Surakarta. Menurut pemaparan dari Endang, pemuda di Surakarta dapat mengambil peran aktif untuk menyukseskan program entrepreneur Gen Z dan juga digitalisasi UMKM yang ada di Surakarta.

Beliau juga turut memaparkan program dukungan dari Dinas Perdagangan dalam hal ekspor dan penyediaan sarana dan prasarana.

Sesi terakhir pada hari pertama ini ditutup dengan sesi dokumentasi para pembicara dengan para delegates, pemberian sertifikat kepada para pembicara dan penghargaan kepada para delegates yang sudah aktif bertanya. 

Hari kedua merupakan hari dimana perwakilan pemerintah hadir untuk membahas tentang permasalahan stunting dan smart economy di Surakarta. Sesi pertama merupakan sesi yang membahas tentang smart economy yang dibahas bersama Sugeng Riyanto. S.S dan Ginda Ferachtriawan. S.E, M.Si selaku pembicara pada sesi ini.

Mereka menjelaskan kepada para delegates terkait anggaran yang dimiliki oleh Kota Surakarta.

Selanjutnya, mereka memaparkan tentang strategi untuk menjadikan Surakarta sebagai kota yang layak untuk dikunjungi dan dapat menarik perhatian banyak pengunjung untuk berkunjung ke Kota Surakarta.

Hal ini akan memicu peningkatan perekonomian Kota Surakarta dan dapat mensejahterakan masyarakat Surakarta.

Selanjutnya Ginda Ferachtriawan memaparkan tentang regulasi-regulasi yang dapat berpengaruh langsung kepada isu smart economy di Surakarta. 

Sesi selanjutnya adalah sesi kedua dan terakhir yang dibawakan oleh Dr. Tutik Asmi dan perwakilan Bappeda untuk membahas tentang isu stunting di Surakarta.

Setelah pemaparan tentang latar belakang stunting dan edukasi di hari sebelumnya, sesi kali ini menghadirkan informasi seputar stunting di Surakarta.

Disajikan informasi tentang sampling remaja putri yang mengalami anemia sebesar 22 persen. Untuk menangani kasus-kasus anemia yang terjadi pada remaja putri, pemerintah melakukan pemberian tablet tambah darah secara rutin untuk dikonsumsi oleh remaja putri karena mereka memegang peranan penting untuk mencegah terjadinya stunting.

Program lain yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah terjadinya stunting di Surakarta adalah dengan melakukan edukasi kepada para ibu hamil, memantau tumbuh kembang balita untuk mengintervensi kemungkinan terjadinya stunting, dan menjadikan posyandu sebagai tempat penanganan primer kesehatan masyarakat termasuk kasus stunting dan kesehatan ibu dan anak.

Pihak Bappeda juga sedang berusaha untuk mewujudkan Kota Surakarta sebagai Kota Sehat di tahun 2025.

Sesi  terakhir dihari kedua ini ditutup dengan dokumentasi bersama para pembicara dan delegates serta pemberian sertifikat dan penghargaan kepada delegates yang telah aktif bertanya kepada para pembicara.