SOLO, MettaNEWS – Kepala Staf Kepresidenan RI, (Purn) Moeldoko melakukan kunjungan ke Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo di Kota Solo, Jawa Tengah, Sabtu (15/7/2023).
PLTSa Putri Cempo menjadi salah satu dari 12 Proyek Strategis Nasional (PSN) kabupaten kota yang harus ia tinjau. Ditargetkan beroperasi total pada Oktober 2023, saat ini PLTSa dinyatakan belum lolos SLO.
“Kita mau lihat. Tapi karena ini mau operasi, kita mau lihat kendala yang perlu nanti bottle neck di KSP. Ini belum lolos uji SLO (Sertifikasi Layak Operasi-red),” terangnya.
Dikatakannya persoalan teknis tentang bagaimana mensinkronkan aturan KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) RI dengan operasional menjadi sebab utama PLTSa Putri Cempo belum lolos SLO.
“Persoalannya lebih mengarah pada insenminator atau pembakaran. Di mana pembakaran ini diuji asapnya. Kalau asapnya urin dan dioksin memenuhi standar, lepas. Yang sekarang ini bukan proses pembakaran,” jelasnya.
Secara teknis untuk menghasilkan listrik dari sampah, PLTSa harus menyeleksi sampah yang kemudian dihancurkan pada ukuran tertentu.
Terdapat proses kimia yang terus menghasilkan gas yang dibawa ke genset atau generator. Proses ini akan menghasilkan listrik dan fler tanpa emisi.
“Yang namanya fler kalau itu nggak kebuang, itu dibakar. Sehingga gas emisi ini nggak ada. Ini yang perlu ada disinkronisasi oleh Kantor Kepala Staf Presiden. Karena ini deconnect di bidang kebijakan. Ini harus ada solusi,” ujarnya.
Selain persoalan ini, PLTSa masih memerlukan lahan 2 hektare sedangkan saat ini baru terpenuhi 1,5 hektare.
“Sebenarnya hanya perlu luas. Lahannya sudah ada, tinggal proses bagaimana memindahkan sampah-sampah ini nantinya digunakan menjadi proses seleksi. Dengan memindahkan saja. Tapi juga perlu ada akses in out kendaraan ini agar lebih tertib dan aman. Maka perlu ada pelebaran,” paparnya.
Pihaknya akan berkoordinasi dengan Menteri PUPR, Basuki Hadimulojono, KLHK dan Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) untuk membereskan masalah ini.
Alhasil PLTSa Putri Cempo belum bisa menjual listrik lantaran belum adanya SLO dari ESDM. Untuk itu ia ingin memberikan jaminan kepada investor agar PLTSa Putri Cempo segera dirilis secara resmi.
Di sisi lain, PLTSa Putri Cempo dirasa sudah memenuhi konsep ramah lingkungan. Sebab dalam mengolah sampah hingga menghasilkan listrik tidak mengeluarkan gas emisi.
“Nggak ada emisi dan pembakaran. Lebih mempercepat indonesia zero emition 2060. Dari proses pembakaran ini energinya digunakan untuk memanaskan boiler, menghasilkan uap seperti di PLTU. Kalau ini enggak, ini pembangkit listrik tenaga gas. Bedanya hanya itu. Kalau PLTSA lain pembakaran,” terangnya.
Moeldoko menargetkan kendala di PLTSa Putri Cempo akan selesai di Oktober 2023. Mengingat saat ini progres sudah mencapai 97,5 persen dan hanya perlu mensinkronkan dengan KSP.







